Komet ATLAS Meredup, Kemungkinan Tidak Bisa Teramati

Info Astronomy - Kesempatan untuk mengamati komet C/2019 Y4 (ATLAS) pada akhir Mei 2020 ini tampaknya akan pupus. Sebab, pengamatan terbaru terhadap komet ini menunjukkan bahwa ia meredup.

Dilaporkan EarthSky.org, setelah secara bertahap menjadi cukup cerah dengan mencapai magnitudo +8 ketika melintasi orbit Mars, Komet ATLAS malah tampak lebih redup selama beberapa malam terakhir ini, dengan magnitudo yang terus naik menjadi +8,8 hingga +9,2 (semakin besar angka magnitudo, semakin redup objek langit).

Apa yang terjadi? Apakah Komet ATLAS pecah? Apakah harapan kita untuk mengamati komet yang cukup terang untuk diamati dengan mata telanjang ini harus dikubur? Pecah komet ini, untungnya, masih berupa kemungkinan.

Menurut astronom Quanzhi Ye (dari Universitas Maryland) dan Qicheng Zhang (dari Caltech) di Astronomers Telegram, Komet ATLAS kemungkinan mengalami disintegrasi (pecah), yang mana hal itu terungkap melalui pengamatan Ningbo Education Xinjiang Telescope (NEXT).

Teleskop berdiameter 600 cm itu juga sempat mengambil gambar dari sang komet, yang mengungkapkan keberadaan pseudo-nukleus (nukleus baru yang belum terkonfirmasi) berukuran sekitar 3 detik busur panjangnya yang terletak di dekat ekor. Keberadaan pseudo-nukleus tersebut adalah yang membuat komet ini meredup.
Apakah ini berarti merupakan akhir dari Komet ATLAS? Belum tentu. Fenomena seperti yang dialami oleh komet ini masih termasuk hal yang lumrah, mengingat komet memang tidak menentu dan sulit diprediksi perubahannya.

SkyandTelescope.org mencatat, nukleus sebuah komet yang tampak memanjang sering merupakan pertanda buruk dan bisa berarti komet tersebut sedang menuju kehancuran, seperti apa yang pernah terjadi pada Komet Elenin (C/2010 X1) sebelum ia sempat mencapai jarak terdekatnya dari Matahari (perihelion) pada September 2011 silam. Kala itu, nukleusnya hancur dan ia dengan cepat menghilang.

Apa sebenarnya yang membuat komet bisa pecah? Komet sendiri merupakan objek es, bahkan para astronom menyebutnya sebagai "bola salju kotor". Es segar seperti komet ini, ketikaterkena sinar Matahari, mereka akan dengan cepat menguap. Gas yang menguap itu akan bertindak seperti mesin roket alami, mendorong komet pada jalur orbitnya.

Selain mendorong komet, penguapan tersebut juga membuat rotasi komet menjadi lebih cepat, yang mana hal tersebt memainkan peran penting yang membuat komet bisa pecah.

Jadi, siap-siap untuk kecewa. Komet ATLAS saat ini sudah meredup, tidak seperti prediksi sebelumnya yang dikatakan akan semakin terang dari malam ke malam hingga puncak kecerahannya pada akhir Mei 2020.
BERIKAN KOMENTAR ()