Ruang di Antara Galaksi Tidak Kosong

Info Astronomy - Galaksi-galaksi bagaikan kota-kota besar di alam semesta, dan bintang-bintang di dalam galaksi bagaikan lampu-lampu bangunan di perkotaan saat malam hari. Namun, tahukah kamu ada apa di ruang antargalaksi itu? Apakah benar-benar kosong melompong saja?

Meski jarak antara satu galaksi dengan galaksi lainnya begitu jauh, Bimasakti dan Andromeda misalnya yang berjarak sekitar 2,5 juta tahun cahaya, rupanya ruang di antara galaksi tidak kosong, justru lebih banyak hal menarik di sana.

Astronom komunikator Neil deGrasse Tyson dalam bukunya "Astrophysics for People in a Hurry" mengatakan, ruang antargalaksi dihuni oleh objek-objek yang sulit dideteksi dengan alat pengamatan manusia abad ini, seperti misalnya galaksi kerdil, bintang yang terlepas dari galaksi, supernova, gas molekuler bersuhu jutaan derajat dalam sinar-X, materi gelap, sampai galaksi biru yang redup.

Bagaimana objek-objek tersebut bisa ada di antara galaksi, dan mengapa kita tidak bisa mendeteksinya tapi bisa mengetahuinya? Mari kita bahas satu per satu dalam artikel ini.
Dalam satu miliar tahun terakhir, galaksi Bimasakti kita terlibat dalam satu kasus kanibalisme. Bimasakti teramati melahap sebuah galaksi kerdil yang dinamai galaksi kerdil Sagitarius. Hal ini bisa terjadi karena galaksi kerdil ternyata berjumlah lebih banyak daripada galaksi-galaksi besar, dengan perbandingan lebih dari sepuluh lawan satu.

Galaksi-galaksi kerdil tersebut selalu berada di dekat galaksi-galaksi besar, mengitarinya bagaikan galaksi satelit. Satu perbedaan mencolok antara kedua jenis galaksi ini adalah, galaksi besar dapat memiliki ratusan miliar bintang, sementara galaksi kerdil paling banyak hanya beranggotakan sejuta bintang, atau bahkan ada hanya ratusan ribu bintang. Hal itulah yang membuat mereka sulit dideteksi.

Galaksi kerdil juga cenderung berbentuk tak beraturan. Mereka bisa ada di alam semesta kemungkinan karena fenomena tabrakan antargalaksi. Di gugus galaksi yang padat, galaksi-galaksinya bisa bertabrakan, bintang-bintangnya berantakan dan berserakan ke segala penjuru kosmos.

Muncul lah daerah-daerah pembentukan bintang baru di luar galaksi yang bertabrakan itu, sementara beberapa bintang lainnya yang berserakan karena tabrakan akan kembali berkumpul untuk membentuk galaksi kerdil. Sisa bintang lainnya, berkelana sendiri di ruang angkasa, terlepas dari galaksi induknya.

Berkat tabrakan galaksi ini, ruang antargalaksi menjadi tidak kosong. Para astronom beberapa kali menemukan supernova yang terjadi di luar galaksi, yang kemungkinan besar adalah bintang-bintang masif yang berkelana itu. Salah satunya supernova 1994D ini (kiri bawah), yang terjadi di luar galaksi NGC 4526.
Sayangnya, tidak ada yang tahu pasti ada berapa banyak puing-puing yang tersebar dari tabrakan galaksi itu. Bisa jadi ada sangat banyak bintang-bintang tanpa galaksi induk, yang jumlahnya setara atau bahkan lebih banyak dari jumlah bintang di dalam sebuah galaksi.

Tak hanya galaksi kerdil dan bintang-bintang pengelana saja yang ada di ruang antargalaksi. Menurut pengamatan sinar-X, ruang antargalaksi didominasi oleh gas molekuler bersuhu jutaan derajat. Saking banyaknya gas molekuler ini, ketika galaksi bergerak melaluinya, gas yang ada di dalam galaksi bisa terlucuti, menyebabkan banyak galaksi yang menurun tingkat produktivitas bintangnya.

Menurut para astronom yang sudah menghitung massa total gas molekuler ini, massanya ternyata melebihi massa seluruh galaksi di dalam gugus galaksi sampai 10 kali lipat. Belum lagi, ada materi gelap di ruang antargalaksi, yang jumlah massanya 10 kali lipat dari materi lainnya, termasuk gas molekuler tadi. Jika saja kita punya teleskop yang bisa mengamati massa, galaksi-galaksi hanya seperti kunang-kunang kecil bercahaya di tengah gumpalan gravitasi raksasa di sekelilingnya.

Di bagian lain alam semesta, jauh di luar gugusan galaksi, terdapat galaksi kuno yang bisa diamati. Bagaimana kita bisa tahu bahwa itu adalah galaksi kuno? Ketika melihat jauh ke alam semesta, semakin jauh kita memandang artinya semakin mundur kita melihat keadaan awal alam semesta.

Para astronom sudah berhasil mengamati kondisi alam semesta ketika baru berusia separuh usianya saat ini. Mereka menemukan sebuah galaksi berukuran sedang yang tampak amat biru dan redup. Dengan kata lain, galaksi tersebut ada dahulu sekali dan berjarak sangat jauh.
Warna biru galaksi ini berasal dari bintang-bintang biru yang berusia pendek dan bersuhu tinggi. Galaksi ini tampak redup bukan hanya karena mereka berjarak jauh, tetapi juga karena minim bintang-bintang terang yang menghuninya.

Sayangnya, galaksi-galaksi biru redup ini sudah tidak ada di alam semesta zaman sekarang. Entah karena mereka telah mati, telah terkoyak akibat tabrakan galaksi, atau berevolusi menjadi galaksi-galaksi modern seperti yang ditemukan saat ini.

Kesimpulannya, ruang di antara galaksi memang tidak benar-benar kosong. Kita melihatnya "kosong" karena objek-objek di sana sukar di deteksi saja.
BERIKAN KOMENTAR ()