Bumi Super, Jenis Planet yang Absen di Tata Surya Kita

Info Astronomy - Alam semesta selalu mengejutkan kita dengan betapa sedikitnya yang kita ketahui tentang ... alam semesta. Ia terus menghadirkan kepada kita hal-hal yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya, atau bahkan yang dianggap tidak mungkin ada. Pencarian planet asing adalah contohnya.

Sejak ditemukan pertama kali tahun 1995, hingga artikel ini dipublikasikan sedikitnya sudah ada 3.800 planet asing yang telah ditemukan. Planet-planet ini memiliki ukuran yang beragam, mulai dari sebesar Jupiter sampai planet yang lebih kecil dari Merkurius.

Namun, dari semua penemuan itu, ada satu jenis planet yang cukup menarik: bumi super.

Apa itu bumi super? Dan kenapa dianggap menarik? Menurut UniverseToday.com, bumi super merupakan sebuah planet yang memiliki massa lebih masif daripada massa planet Bumi kita, tetapi masih kurang masif apabila dibandingkan dengan planet yang lebih besar seperti Neptunus. Dengan begitu, planet ini adalah planet berbatu mirip Bumi, tapi dengan ukuran yang lebih besar.

Permukaan planet asing bumi super dapat terbuat dari batuan dan logam, atau bahkan es. Planet-planet jenis ini juga dapat memiliki lautan dan atmosfer. Kurang lebih memang seperti saudara besarnya Bumi kita.

Dalam beberapa penemuan planet bumi super, para astronom menemukan ada yang berada di zona laik huni bintangnya, sehingga air dalam bentuk cair mungkin bisa eksis di permukaannya, salah satu syarat untuk kehidupan seperti yang kita kenal untuk berevolusi.

Penemuan pertama dari bumi super yang berpotensi laik huni tersebut, dilansir dari Skyandtelescope.com, adalah sebuah planet yang berada di dalam sistem bintang Gliese 581.
Di sistem bintang Gliese 581 ini, para astronom menemukan setidaknya 2 planet asing yang mengorbitinya berada di dalam zona laik huni, yakni planet Gliese 581c yang memiliki massa 5 kali massa Bumi, yang mengorbit di sisi yang terlalu hangat dari zona laik huni, dan Gliese 581d, yang memiliki massa 7,7 kali massa Bumi, yang berada di sisi dingin zona tersebut.

Selain di sistem Gliese 581, para astronom sejauh ini juga telah menemukan puluhan bumi super. Di planet-planet ini, karena massanya lebih besar dari Bumi, jika kita bisa berdiri di permukaannya mungkin akan merasakan gravitasi yang lebih kuat.

Pertanyaan besarnya menurut para astronom saat ini adalah, bisakah bumi super mendukung kehidupan?

Bisa jadi, iya. Kehidupan dalam air yang ada di planet bumi super kemungkinan besar ada. Namun, seberapa baik kehidupan dapat bertahan hidup di darat dan di udara planet bumi super tergantung pada gravitasi planetnya.

Dengan gravitasi yang lebih kuat, tanaman dan hewan (seperti yang ada di Bumi) tidak akan bisa tumbuh tinggi. Hewan membutuhkan kaki yang lebih tebal untuk bisa menopang berat badannya. Dan jika atmosfer lebih padat karena gravitasi yang lebih kiat, makhluk terbang akan bergerak lebih lambat dengan rentang sayap yang lebih besar.

Dan di sinilah menariknya: Walaupun sudah banyak bumi super ditemukan di alam semesta, rupanya di tata surya tidak ada jenis planet yang satu ini!

Yup, tata surya kita tidak memiliki satu pun anggota bumi super. Bumi adalah planet bebatuan terbesar di tata suryaurya, dengan semua planet yang lebih besar memiliki setidaknya 14 kali massa Bumi dan atmosfer gas yang tebal tanpa permukaan yang solid; mereka adalah raksasa gas atau raksasa es, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.

Pada Januari 2016, keberadaan planet kesembilan di ujung tata surya dianggap sebagai kandidat planet bumi super "yang hilang". Meski begitu, ada beberapa astronom yang tidak setuju, planet hipotesis yang "ditemukan" dari pengaruhnya terhadap objek-objek trans Neptunus itu lebih dianggap merupakan raksasa es seperti Uranus atau Neptunus.

Apakah absennya bumi super di tata surya kita membuat sistem keplanetan kita ini unik? Atau justru malah dianggap biasa saja oleh para alien yang selama ini sedang mengamati kita?
Menurut InsideScience.com, pada awal pembentukannya, tata surya kita mungkin memiliki sebuah planet raksasa berbatu yang membuat Bumi dan para tetangga berbatunya seolah merupakan planet kerdil. Tetapi, kemungkinan gravitasi Matahari membuat planet tertarik ke arahnya.

Hal itu dijabarkan dalam sebuah studi yang diterbitkan di Astrophysical Journal oleh Rebecca Martin, seorang astrofisikawan di Universitas Nevada, AS. Martin dan rekan sejawatnya, Mario Livio, berusaha memahami bagaimana tata surya bisa tidak mempunya bumi super.

Mereka pun menjalankan sebuah simulasi komputer tentang bagaimana bumi super bisa ada dalam sebuah sistem keplanetan. Mereka memeriksa dua model sekaligus yang memiliki potensi untuk bagaimana bumi super bisa terbentuk, baik pada jarak yang dekat atau jauh dari bintang induknya.

Berdasarkan data pengamatan dari Teleskop Antariksa Kepler yang kini telah pensiun, mayoritas dari ribuan sistem keplanetan yang terdeteksi sejauh ini menampung bumi super. Tetapi, ada hal yang perlu dicatat dalam data ini, Teleskop Antariksa Kepler nyatanya masih sulit mengidentifikasi planet yang lebih kecil daripada bumi super. Akibatnya, tidak jelas apakah planet bumi super memang lebih umum atau planet seukuran Bumi lah yang lebih mendominasi.

Dari data Kepler juga, kebanyakan bumi super ditemukan berada pada jarak yang dekat dengan bintang induknya. Banyak sistem keplanetan memiliki satu atau bahkan dua planet bumi super yang jaraknya lebih dekat daripada jarak Merkurius ke Matahari kita, meskipun ini bisa jadi disebabkan oleh bias dalam teknik deteksi untuk menemukan planet asing.

Bias seperti ini juga pernah terjadi pada abad ke-19, ketika para astronom pernah berpikir bahwa tata surya bagian dalam kita mungkin lebih ramai, dan mereka berhipotesis tentang keberadaan sebuah planet yang mereka juluki "Vulcan". Sayangnya, hipotesis itu didasarkan pada kesalahpahaman tentang orbit Merkurius, dan planet kelahiran Spock dalam film Star Trek itu tidak pernah ditemukan.

Martin dan Livio mengembangkan simulasi komputer untuk menyelidiki evolusi sistem keplanetan. Pertama, mereka menjalankan simulasi awan raksasa yang terdiri atas gas dan debu selebar ratusan tahun cahaya yang mulai menyatu dan membentuk bintang-bintang baru. Kemudian, gas dan puing-puing sisa pembentukan bintangnya berputar dengan cepat, berubah menjadi cakram protoplanet yang mengelilingi sang bintang.

Beberapa daerah di cakram tersebut, dalam simulasi, memiliki banyak turbulensi dan gesekan, yang kemudian membuat daerah tersebut tertarik gravitasi sang bintang. Di daerah tanpa gesekan, yang sering disebut "zona mati", material batuan dalam cakram protoplanet tetap berada di orbitnya, saling bertabrakan, menggumpal bersama membentuk cikal bakal planet, planetesimal.

Bintang-bintang yang kaya akan logam berat, unsur-unsur kimia yang lebih kompleks daripada hidrogen dan helium, cenderung membentuk planet-planet besar dan padat. Namun, planet tidak akan selamanya berada di orbit tempat mereka dilahirkan. Mereka dapat bergerak atau "bermigrasi" lebih dekat atau lebih jauh dari bintang induknya, fakta ini pun dimasukkan juga oleh Martin dan Livio dalam model mereka.

Bagaimana migrasi itu bisa terjadi? Jika ada dua planet dengan orbit yang saling berdekatan, satu di antara mereka (yang massanya lebih besar) dapat "menendang" planet yang lain, bahkan mengeluarkannya dari sistem planetnya.

Tata surya kita tampaknya tidak memiliki planet-planet dengan orbit yang seperti itu, kecuali jika para astronom mempertimbangkan planet kesembilan yang sempat disinggung di atas.

"Jika bumi super sempat terbentuk di bagian dalam tata surya kita," Martin berspekulasi, "maka mereka pasti telah bermigrasi (baik mendekati Matahari lalu terbakar habis, menjauh ke tepian tata surya, atau bahkan tertendang keluar tata surya) akibat dari pengaruh gravitasi Jupiter." Hal ini, walaupun masih membutuhkan lebih banyak bukti, mungkin bisa menjelaskan mengapa tata surya kita tidak memiliki planet bumi super.
BERIKAN KOMENTAR ()