Bumi Punya Bulan Kedua, Benarkah?

Info Astronomy - Bumi dan Bulan seolah sudah mengucap janji setia berdua selamanya. Sejak Bumi terbentuk, tak lama kemudian Bulan juga terbentuk. Bulan mengelilingi Bumi sejak saat itu. Namun, hubungan mereka tampaknya renggang belakangan ini, ketika Bumi diketahui punya bulan kedua.

Tapi, apakah benar Bumi punya bulan kedua?

International Astronomical Union (IAU) melalui Minor Planet Center (MPC) memang mengumumkan pada 25 Februari 2020 kemarin, bahwa Bumi memiliki "objek tangkapan sementara" yang mengitarinya. MPC mengkatalogkan objek yang satu ini sebagai 2020 CD3, yang pada dasarnya merupakan sebuah asteroid.

2020 CD3 sendiri ditemukan pada 15 Februari 2020 oleh astronom Kacper Wierzchos dan rekan-rekannya di Catalina Sky Survey, yang berbasis di Tucson, Arizona.

Pada malam setelah penemuan, Wierzchos dan rekan-rekannya terus mengikuti jalur pergerakan objek ini untuk mencoba menentukan orbitnya. Perhitungan mereka menunjukkan bahwa, kemungkinan besar, 2020 CD3 telah mengitari Matahari dan gravitasi Bumi menariknya untuk mengitari planet kita pada sekitar tahun 2017, tiga tahun yang lalu.

Bagaimana bisa sebuah objek yang mengitari Bumi itu bisa luput dari perhatian para astronom selama tiga tahun terakhir ini? Pertama, wilayah langit sangat luas, sementara teleskop memiliki waktu terbatas untuk mencari asteroid.

Namun sekarang, banyak astronom di seluruh dunia yang mencoba untuk melihatnya. Salah satunya menggunakan Teleskop Gemini Utara di Hawaii, yang berhasil mengabadikan 2020 CD3 dengan gambar paling jelas sejauh ini:
Pada gambar di atas, 2020 CD3 muncul sebagai titik kecil di tengah. Gambar ini sendiri merupakan gabungan dari 3 gambar yang masing-masing diperoleh menggunakan filter berbeda untuk menghasilkan komposit warna. Garis-garis berwarna yang kamu lihat pada gambar atas adalah bintang-bintang latar belakang.

Apa yang kita ketahui tentang 2020 CD3 sejauh ini adalah ia sangat kecil dan redup. Sinar Matahari yang dipantulkannya membantu para astronom memperkirakan diameternya, yakni mencapai sekitar 1,9 hingga 3,5 meter saja, sangat kecil sehingga sulit diamati langsung dari permukaan Bumi. Magnitudo visualnya pun mencapai +20.

2020 CD3 juga diketahui memiliki orbit yang "kacau" karena ia ditarik oleh gravitasi Bulan dan gravitasi Bumi secara bersamaan. Hal tersebut membuat jaraknya ke Bumi bervariasi antara setara dengan 0,2 sampai 4,5 kali jarak Bumi-Bulan (jarak rata-rata dari Bumi ke Bulan adalah sekitar 384.000 kilometer.).

Karena jarak 2020 CD3 ke Bumi yang bervariasi ini, demikian pula periode orbitnya, atau waktu yang dibutuhkan minimun untuk mengelilingi Bumi. Sayangnya, sampai artikel ini diterbitkan, para astronom belum mengetahui periode orbit 2020 CD3 karena memang sulit untuk diukur secara presisi untuk saat ini.

John Blakeslee, Kepala Ilmuwan di Observatorium Gemini seperti dilansir EarthSky.org, mengatakan bahwa 2020 CD3 sendiri tidak akan selamanya mengelilingi Bumi. Ia akan keluar dari orbit Bumi pada bulan April 2020 mendatang.
BERIKAN KOMENTAR ()