Bintang Raksasa Merah dan Masa Depan Matahari

Info Astronomy - Di alam semesta, ada sebuah jenis bintang yang dikenal sebagai raksasa merah, bintang yang sedang sekarat karena memasuki tahap terakhir evolusinya.

Dalam beberapa miliar tahun dari sekarang, Matahari kita sendiri akan berubah menjadi bintang raksasa merah, mengembang dan menelan planet-planet bagian dalam, bahkan mungkin Bumi. Apa yang akan terjadi pada masa depan di tata surya kita jika Matahari menjadi raksasa merah?

Sebagian besar bintang di alam semesta diketahui merupakan jenis bintang deret utama, jenis bintang yang mengubah hidrogen menjadi helium melalui proses fusi nuklir di intinya. Sepanjang tahap evolusinya, proses fusi tersebut telah membuat bintang menjadi seimbang terhadap tekanan gravitasi yang terus-menerus menekannya ke dalam. Tapi setelah fusi berhenti, gravitasi akan menang dan bintang akan berkontraksi, mengompresi bintang menjadi lebih kecil dan lebih rapat.

Saat kontraksi terjadi, menurut Australian National Telescope, temperatur meningkat bintang, yang akhirnya akan mencapai tingkat di mana helium mampu melebur menjadi karbon. Tergantung pada seberapa besar massa bintang, pembakaran helium akan terjadi secar bertahap atau bisa juga dimulai dengan ledakan eksplosif.

Naiknya temperatur bintang juga akan memanaskan cangkang hidrogen yang mengelilingi intinya, yang pada akhirnya membuat bintang deret utama mengembang dalam ukurannya, berevolusi menjadi bintang raksasa merah.

Bintang raksasa merah bisa mencapai diameter selebar 100 juta hingga 1 miliar kilometer, atau sekitar 100 hingga 1.000 kali ukuran Matahari saat ini. Dan karena energi akan tersebar dalam perut bintang yang sudah lebih besar dari sebelumnya, suhu permukaan bintang raksasa merah pun akan menurun, yakni menjadi hanya sekitar 2.200 hingga 3.200 derajat Celsius, sedikit lebih panas dari Matahari.

Perubahan suhu ini menyebabkan bintang-bintang besar tersebut akan bersinar di bagian spektrum yang lebih merah, itulah mengapa mereka disebut sebagai raksasa merah, meskipun mereka cenderung lebih berwarna oranye.

Masa Depan Matahari

Dalam sekitar 5 miliar tahun mendatang, Matahari akan kehabisan hidrogen di intinya sehingga akan memulai proses pembakaran helium. Dan ya, Matahari akan berubah menjadi bintang raksasa merah, melepas masa-masa deret utamanya.

Matahari akan mengembang, menurut Alex Wolszczan, seorang astronom di Pennyslvania State University, lapisan terluarnya akan menelan Merkurius dan Venus, dan bahkan bisa mencapai Bumi. Para astronom saat ini masih memperdebatkan apakah planet kita akan ditelan atau tidak. Taip bagaimanapun, kehidupan di Bumi, jika belum bisa menemukan planet lain untuk dihuni, akan lenyap pada masa itu.

Matahari yang berevolusi itu mungkin akan memberikan harapan bagi planet lain. Ketika bintang berubah menjadi raksasa merah, zona laik huni pun akan berubah. Zona laik huni sendiri adalah wilayah di mana air dalam bentuk cair dapat ada di sebuah planet, yang dianggap oleh sebagian besar astronom sebagai wilayah yang cocok bagi kehidupan untuk berevolusi.

Bintang raksasa merah sendiri bisa hidup selama kurang lebih satu miliar tahun lamanya, maka dengan adanya zona laik huni baru menjadi sangat mungkin bagi kehidupan untuk muncul pada objek-objek di tata surya bagian luar, misalnya di bulan-bulan yang mengorbit Jupiter atau Saturnus.

Setelah 1 miliar tahun, helium di inti raksasa merah pun habis, dan fusi akan kembali berhenti untuk kedua kalinya. Pada tahap ini, raksasa merah akan menyusut lagi, membuat inti kembali berkontraksi hebat. Lapisan terluar bintang akan terlepas, menyeruak ke luar menjadi awan gas dan debu besar yang dikenal sebagai nebula planeter.

Sementara itu, inti raksasa merah akan terus runtuh menjadi apa yang dikenal sebagai bintang kerdil putih bersuhu rendah dan bercahaya redup.
BERIKAN KOMENTAR ()