Jika Lubang Cacing itu Ada, Bisakah Kita Melaluinya?

Info Astronomy - Wormhole atau lubang cacing seringkali dianggap sebagai sebuah jalan pintas terbaik di alam semesta. Secara teoretis, lubang cacing dapat menghubungkan sudut-sudut semesta yang jauh (atau bahkan alam semesta yang berbeda), memungkinkan kita untuk pergi ke suatu tempat di alam semesta tanpa harus bergerak terlalu lama.

Eits, tunggu dulu, apakah lubang cacing itu benar-benar ada?

Dalam dunia fiksi ilmiah, lubang cacing memang ada. Katakanlah seperti film Interstellar (2014), di mana pesawat antariksa dalam film tersebut melintasi lubang cacing untuk berkunjung ke sudut lain di alam semesta yang jauh.

Namun, sayang sekali, sejauh yang para astronom ketahui, lubang cacing tidak ada di dunia nyata.

Menilik Sejarahnya

Walaupun memang tidak ada di dunia nyata, bukan berarti lubang cacing tidak mungkin ada. Kita hanya belum mengetahui seperti apa lubang cacing itu bekerja, serta apakah lubang cacing memang bisa dimanfaatkan sebagai jalan pintas di alam semesta.

Sejak Albert Einstein menerbitkan teori relativitas umumnya, banyak kok penelitian oleh para astronom yang menggambarkan struktur fantastik lubang cacing dalam bahasa matematika. Namun, pada masa-masa awal sejarah penelitian lubang cacing, para astronom menyebutnya sebagai "tabung satu dimensi" dan/atau "jembatan".

Baca Juga: Mengenal Lubang Cacing

Di dunia akademis, istilah "lubang cacing" lebih dikenal sebagai "jembatan Einstein-Rosen", jalur teoretis yang menghubungkan sudut-sudut semesta yang digagas oleh Albert Einstein dan fisikawan Nathan Rosen.

Adalah fisikawan AS, John Wheeler, yang menciptakan istilah "lubang cacing" dalam penelitiannya yang diterbitkan tahun 1957 dalam Annals of Physics.

Istilah yang diciptakan John Wheeler lantas viral di kalangan astronom. Istilah "lubang cacing" dianggap sangat membantu menggambarkan apa yang sedang diteliti. Lubang cacing sering dianalogikan sebagai lubang dalam buah apel yang dibuat oleh cacing. Dengan melewati lubang dalam apel tersebut, kita bisa ke sisi lain dari apel tanpa harus berjalan mengitari apel.
Maka, tidak mengherankan jika lubang cacing menjadi sangat populer dalam kisah-kisah fiksi ilmiah. Para penulis cerita fiksi ilmiah biasanya menggunakan lubang cacing agar perjalanan antariksa para tokoh dalam ceritanya bisa lebih cepat.

Walaupun para penulis fiksi ilmiah bisa saja menggunakan kecepatan cahaya agar perjalanan antariksa dalam cerita yang mereka buat bisa lebih cepat. Namun, dalam kehidupan nyata menurut teori relativitas Einstein, kecepatan cahaya adalah batas akhir. Tidak benda bermassa yang bisa berakselerasi lebih cepat dari kecepatan cahaya.

Butuh 5 jam dengan kecepatan cahaya untuk sampai ke Pluto dari Matahari, dan bertahun-tahun perjalanan dengan kecepatan cahaya untuk mencapai sistem bintang lain. Cepat, tapi lambat.

Baca Juga: Apa yang Dimaksud dengan "Tahun Cahaya"?

Dengan demikian, lubang cacing adalah cara sempurna untuk melewati batas kecepatan Einstein, dan membuat para penjelajah antariksa dalam kisah-kisah fiksi ilmiah bisa melakukan perjalanan antargalaksi dalam kerangka waktu yang sangat cepat.

Jadi, pertanyaan sebenarnya adalah: Dapatkah kita yang sebenarnya bergerak melalui lubang cacing juga? Jawabannya adalah... mungkin saja.

Mencari Lubang Cacing

Masalah pertama bagi setiap penjelajah antariksa yang mau menggunakan lubang cacing sebagai jalan pintas adalah: menemukan lubang cacingnya.

Walaupun teori relativitas Einstein mengatakan lubang cacing bisa saja ada, saat ini para astronom tidak tahu bagaimana mereka terbentuk dan bagaimana mencarinya. Bahkan menurut beberapa hukum fisika lainnya, lubang cacing melanggar hukum-hukum fisika.

Masalah kedua adalah, meskipun sudah bertahun-tahun melakukan penelitian mengenai lubang cacing, sejauh ini para astronom masih belum yakin bagaimana lubang cacing bekerja.

Bisakah kita menciptakan teknologi untuk membentuk lubang cacing, atau lubang cacing hanya bisa terbentuk secara alami di alam semesta? Apakah lubang cacing bisa tetap terbuka selamanya, atau mereka hanya dapat dilalui untuk waktu yang terbatas? Dan yang paling penting, apakah mereka cukup stabil untuk memungkinkan perjalanan manusia?

Jawaban untuk semua pertanyaan di atas adalah: Kita tidak tahu.

Jadi, sampai kita berhasil menemukan adanya lubang cacing sungguhan di alam semesta untuk dipelajari, atau menyadari bahwa mereka bisa jadi tidak dapat membantu kita menjelajahi alam semesta, kita masih harus melakukan penjelajahan antariksa dengan cara klasik: Meluncur dengan roket.
BERIKAN KOMENTAR ()