Bimasakti Menculik Galaksi Satelit Milik Awan Magellan Besar

Info Astronomy - Kasus penculikan ternyata tidak hanya terjadi pada kehidupan manusia, galaksi pun juga melakukannya. Baru-baru ini, galaksi Bimasakti kita menjadi tersangka penculikan galaksi satelit milik galaksi satelitnya sendiri.

Eh, gimana gimana?

Galaksi besar seperti Bimasakti tidak berkeliaran sendirian di alam semesta. Mereka dikelilingi oleh banyak galaksi pendamping yang lebih kecil, yang disebut sebagai "galaksi satelit". Galaksi satelit terbesar milik Bimasakti sendiri dikenal dengan nama Awan Magellan Besar. Eits, walaupun ada kata "Awan" di namanya, itu hanya sebutannya saja karena saat pertama ditemukan galaksi ini muncul bagaikan awan di langit malam.

Awan Magellan Besar yang merupakan galaksi dengan bentuk tak beraturan itu diketahui berukuran cukup besar untuk memiliki galaksi satelitnya sendiri. Namun, pengamatan para astronom menemukan bahwa galaksi satelit yang seharusnya mengelilingi Awan Magellan Besar itu rupanya tidak ada.

Bimasakti awalnya dicurigai sebagai terduga penculik galaksi satelit milik galaksi satelitnya sendiri itu. Dikelilingi lebih dari 50 galaksi satelit, beberapa galaksi satelit Bimasakti itu di antaranya diperkirakan dulunya merupakan milik Awan Magellan Besar.

Hal itu akhirnya terungkap lewat penelitian yang diterbitkan dalam Pemberitahuan Bulanan Royal Astronomical Society. Dalam penelitian tersebut, para astronom menjabarkan bahwa dua galaksi satelit paling terkenal milik Bimasakti, yang bernama Karina dan Fornax, serta empat galaksi kerdil lainnya yang lebih redup, pada awalnya mengelilingi Awan Magellan Besar.

Mengapa hal ini terjadi? Masih dalam penelitian yang sama, para astronom yang dipimpin oleh Ethan Jahn dari Universitas California Berkeley menjelaskan bahwa ini merupakan proses merger antara Bimasakti dan Awan Magellan Besar.

"Tingginya jumlah galaksi kerdil kecil tampaknya menunjukkan bahwa Bimasakti sedang mengalami merger paling masif dalam sejarahnya dengan Awan Magellan Besar,” kata Jahn seperti dilansir IFLScience.com.

Jahn dan rekan-rekannya bisa sampai pada kesimpulan ini setelah melakukan analisis data yang diperoleh menggunakan wahana antariksa Gaia, satelit buatan pengamatan bintang yang dirancang dan dimonitori oleh Agensi Antariksa Eropa (ESA). Gaia begitu canggih, ia seperti sebuah observatorium antariksa yang mengumpulkan data-data seperti posisi dan kecepatan jutaan bintang di seantero Bimasakti.

Dengan data-data yang melimpah dari Gaia, Jahn dan rekan-rekannya mampu merekonstruksi bagaimana Bimasakti bisa memiliki bintang-bintangnya dari satu miliar tahun yang lalu hingga saat ini.

Dari data tersebut, diketahui bahwa terjadi sebuah proses tarikan gravitasi Bimasakti yang menarik galaksi satelitnya, Awan Magellan Besar, bersama dengan tujuh galaksi satelit miliknya, yang kini sudah menjadi galaksi satelit Bimasakti seutuhnya.

"Hasil ini merupakan konfirmasi penting dari model kosmologis kami, yang memprediksi bahwa galaksi kerdil kecil di alam semesta bisa juga dikelilingi oleh galaksi-galaksi yang lebih kecil lagi," kata salah satu astronom dalam studi ini, Laura Sales.

Setelah diketahui bahwa galaksi Bimasakti merupakan penculik, para astronom tentunya tidak bisa menuntut galaksi sendiri ke meja hijau. Mereka lebih tertarik untuk memahami dan mempelajari lebih jauh tentang bagaimana galaksi-galaksi kerdil ini bisa membentuk bintang-bintang mereka, apakah ini terkait dengan seberapa banyak materi gelap yang mereka miliki, dan bagaimana karakteristik spesifiknya.
BERIKAN KOMENTAR ()