Mengenal Supernova dan Kenapa Bintang Meledak

Info Astronomy - Setiap malam yang cerah, kita sering melihat bintang-bintang kecil di langit. Mereka tampak kecil karena jaraknya sangat jauh dari Bumi, yang pada kenyataanya ukurannya bisa mencapai ribuan hingga ratusan juta kali lebih besar daripada Matahari. Pernah terbayang bagaimana jadinya kalau bintang-bintang raksasa ini meledak?

Pada artikel sebelumnya, kami sudah membahas mengenai seberapa dekat jarak aman Bumi dari ledakan supernova. Mungkin banyak dari kamu yang sebenarnya belum memahami apa itu supernova. Di artikel ini, kita akan belajar sebenarnya apa sih supernova itu dan kenapa bintang bisa meledak.

Penasaran? Langsung bahas aja yuk!

Pada dasarnya, bintang memiliki siklus kehidupan yang sama seperti manusia: mereka dilahirkan, hidup, lalu mati. Bintang dapat "hidup" dengan memadukan unsur-unsur yang lebih ringan menjadi yang lebih berat di intinya, yang mana proses ini disebut sebagai fusi.

Tekanan yang dihasilkan oleh fusi inilah yang menahan bintang untuk bisa melawan gaya gravitasinya sendiri yang sangat besar. Namun, bintang tidak selamanya melakukan fusi. Pasokan unsur-unsur yang bisa dipadukan dalam proses fusi jumlahnya terbatas. Dan ketika unsur-unsur ini habis, bintang akan "mati". Supernova adalah salah satu jalur kematian bintang.

Bintang-bintang yang terdiri dari berbagai ukuran massa di alam semesta menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan menggabungkan inti hidrogen menjadi inti helium. Para astronom menyebut tahap ini sebagai "deret utama".

Ketika semua hidrogen yang ada pada inti bintang deret utama habis karena semuanya sudah diubah menjadi helium, bintang tersebut akan mulai melakukan fusi helium menjadi karbon.

Selang beberapa juta tahun, helium di inti bintang tersebut pada akhirnya akan habis juga. Jadi, untuk bisa bertahan hidup, sebuah bintang harus cukup panas untuk mampu meleburkan unsur-unsur yang semakin berat yang dikandungnya.

Beruntung, bintang-bintang yang beratnya lebih dari sekitar 5 kali massa Matahari dapat melakukan hal tersebut tanpa masalah. Mereka melakukan fusi hidrogen, kemudian helium, dan kemudian karbon, oksigen, silikon, dan seterusnya ... sampai mereka mencoba untuk melakukan fusi besi.

Zat besi cukup istimewa karena merupakan unsur paling berat dalam tabel periodik yang tidak melepaskan energi saat kamu mencoba untuk menggabungkannya bersama sejenisnya. Itu berarti, alih-alih menghasilkan tekanan tambahan untuk tetap hidup (mampu menahan lapisan terluar yang sekarang sudah mengembang), fusi besi yang dialami pada bintang malah mengambil sejumlah besar energi termal dari inti bintang.

Dengan kata lain, tidak ada lagi unsur berat yang tersisa pada bintang untuk dapat melawan kekuatan gravitasinya sendiri. Yang terjadi selanjutnya adalah, runtuh! Iya, kurangnya tekanan radiasi yang dihasilkan oleh inti bintang dari proses fusi besi menyebabkan lapisan terluar mereka runtuh tertarik gravitasi ke arah intinya.

Pada tahap ini, bintang pun meledak. BOOM. Ledakan ini terjadi sangat, sangat, sangat luar biasa cepat. Dibutuhkan waktu hanya sekitar 15 detik untuk sebuah bintang menjadi porak poranda. Selama proses keruntuhan itu, inti di bagian luar bintang didorong sangat berdekatan, begitu dekat sehingga unsur-unsur yang lebih berat daripada besi mulai terbentuk.
Apa yang terjadi selanjutnya setelah ledakan supernova itu tergantung kembali pada massa bintangnya. Bintang-bintang dengan massa antara sekitar 5 hingga 8 kali massa Matahari kita akan berevolusi menjadi bintang neutron setelah ledakan. Inti bintang tersebut termampatkan hingga memiliki diameter sebesar kota Jakarta, namun massanya sebesar Matahari sehingga membentuk inti neutron yang sangat padat.

Sementara itu, bintang dengan massa lebih dari 10 kali massa Matahari akan memiliki nasib berbeda. Runtuhnya lapisan terluar bintang saat supernova terjadi begitu kuat sehingga bahkan inti neutron tidak bisa terbentuk. Dengan kata lain, yang terbentuk adalah lubang hitam, sebuah area di ruangwaktu yang begitu kecil dan amat sangat luar baiasa padat sehingga bahkan cahaya tidak dapat lepas dari cengkeraman gravitasinya.

Eits, setelah masing-masing jenis bintang ini berevolusi, tahap supernova tidak berhenti sampai di situ saja, lho. Supernova memainkan peran penting dalam program "daur ulang kosmis" yang luar biasa.

Hampir semua elemen di alam semesta yang lebih berat daripada hidrogen dan helium diciptakan baik di inti bintang selama masa hidupnya dan dari hasil ledakan supernova.
Setelah bintang meledak, mereka akan menyisakan nebula yang dikenal sebagai sisa-sisa supernova (gambarnya bisa kamu lihat di atas, yang merupakan Nebula Kepiting). Sisa-sisa supernova ini terdiri dari debu dan gas yang berasal dari dalam isi perut bintang yang meledak. Karena mengandung hidrogen yang cukup melimpah, sisa-sisa supernova dapat membentuk generasi bintang baru.

Ya, siklus kehidupan bintang pun dimulai kembali dalam nebula itu. Awan debu dan gas pada nebula dapat runtuh, membentuk protobintang, lalu mulai melakukan fusi hidrogen sehingga bersinar sebagai bintang sejati.

Jadi, itulah supernova dan kenapa bintang meledak. Untuk bintang-bintang bermassa rendah seperti Matahari, mereka tidak akan mengakhiri kehidupannya dalam supernova, melainkan hanya mengembang menjadi bintang raksasa merah untuk nantinya melepaskan lapisan terluarnya sebagai nebula planeter dan menyisakan intinya yang berevolusi menjadi bintang kerdil putih.
BERIKAN KOMENTAR ()