Mencari Tahu Kelaikhunian Planet Lewat Ukurannya

Info Astronomy - Ketika membicarakan tentang kelaikhunian planet asing, para astronom seringkali terpaku pada apakah planet asing tersebut berada di zona laik huni atau tidak. Padahal, masih banyak variabel lain yang seharusnya jadi pertimbangan, salah satunya adalah, ukuran planet.

Adalah sekelompok astronom dari Universitas Harvard, yang baru-baru ini menerbikan sebuah jurnal ilmiah di The Astrophysical Journal yang berusaha mempelajari seberapa besar ukuran sebuah planet yang memiliki potensi lebih besar untuk menjadi planet laik huni.

Tim astronom ini berangkat dari asumsi bahwa agar kehidupan bisa berevolusi di sebuah planet yang berada di dalam zona laik huni bintangnya, planet tersebut sudah harus memiliki air dalam bentuk cair di permukaannya setidaknya dalam 1 miliar tahun terakhir.

Nah, agar hal tersebut terjadi, sebuah planet perlu mampu mempertahankan atmosfernya. Bila kemampuan planet mempertahankan atmosfernya di bawah ambang batas tertentu, maka planet secara teori tidak dapat melakukannya. Kemampuan ini berasal dari massa planet.

Dari perhitungan yang teliti, kelompok astronom ini menempatkan ambang batas terbawah massa planet agar bisa mempertahankan atmosfernya adalah sebesar 2,68 persen massa Bumi, atau lebih dari dua kali massa Bulan. Dengan kata lain, jika lebih rendah dari itu, sebuah planet asing mungkin tidak laik huni, atau tidak ada kehidupan seperti yang kita kenal.

"Ketika membicarakan planet asing, orang-orang cenderung hanya memikirkan seberapa dekat planet tersebut dengan bintangnya," kata pemimpin utama studi ini, Constantin Arnscheidt seperti dilansir IFLScience. "Sebenarnya, ada banyak variabel lain yang bisa digali lagi, seperti massa planet misalnya. Dengan kita bisa menetapkan batas bawah massa planet untuk mencari tahu kelaikhuniannya, pencarian planet asing di masa yang akan datang akan jauh lebih mudah."

Sekadar informasi, zona laik huni (iya, penggunaan kata yang benar adalah "laik", bukan "layak") merupakan area pada jarak tertentu di sekitar bintang di mana radiasi yang dipancarkan dari sang bintang cukup untuk memungkinkan planet memiliki air di permukaannya.

Zona ini juga dikenal sebagai zona Goldilocks. Bila ada planet di zona Goldilocks, maka planet tersebut suhunya tidak akan terlalu panas atau terlalu dingin, seperti yang kita rasakan sekarang di Bumi karena Bumi berada di zona Goldilocks Matahari.

Nah, zona Goldilocks ini tergantung juga pada jenis bintangnya. Misalnya untuk bintang seperti Matahari, zona Goldilocksnya yang paling baik adalah 150 juta kilometer dari Matahari. Namun, untuk bintang sekecil kerdil merah Proxima Centauri, zona Goldilocksnya bisa jadi setara dengan jarak Matahari-Merkurius di tata surya kita.

Sementara banyak astronom yang berpikir bahwa zona Goldilocks adalah satu-satunya kondisi yang diperlukan bagi sebuah planet agar laik huni, faktanya hal itu tidak cukup. Itulah sebabnya penting untuk mempertimbangkan massa planet serta atmosfernya.

Karena tidak hanya jarak dari bintang, rupanya atmosfer juga memiliki rentang Goldilocks, lho. Jika suatu atmosfer sebuah planet menyerap lebih banyak panas daripada yang dapat dilekuarkan, maka akan menyebabkan efek rumah kaca yang tak terkendali pada sebuah planet sehingga akan membuat seluruh air di permukaanya menguap seperti yang terjadi pada Venus. Atau jika atmosfernya tipis, sebuah planet bisa terlalu dingin dan kering seperti Mars.

Kasus lainnya, jika sebuah planet berada di zona laik huni namun massanya tidak cukup besar untuk dapat mempertahankan atmosfernya, maka tidak ada pengaruhnya zona Goldilocks tersebut. Planet akan tetap tidak laik huni.

Penelitian planet-planet asing di alam semesta memang menyenangkan. Sejauh ini, para astronom sudah mengonfirmasi keberadaan lebih dari 3.000 planet asing yang tersebar di seantero galaksi Bimasakti. Apakah ada kehidupan lain di planet-planet asing itu?
BERIKAN KOMENTAR ()