Fenomena Langit September 2019

Fenomena langit September 2019
Info Astronomy - Fenomena langit September 2019 akan dihiasi beberapa konjungsi planet, hujan meteor, hingga fenomena Bulan mini. Siap untuk mengamati langit?

Nah, biar tidak penasaran, di bawah ini kami sudah merangkum jadwal fenomena langit yang akan terjadi sepanjang September 2019. Fenomena-fenomena di bawah ini tentunya bisa diamati di seluruh Indonesia. Yuk gas~

6 September 2019: Fase Bulan Perbani Awal
Tujuh hari setelah fase Bulan baru yang terjadi pada 30 Agustus 2019 kemarin, Bulan di tanggal ini sudah masuk fase perbani. Dalam pandangan dari Bumi, ia akan tampak separuh saja, karena separuh bagian lainnya sedang tidak disinari Matahari akibat posisinya dari Matahari sekitar 90 derajat di langit Bumi.

Secara astronomis, fase Bulan perbani awal ini akan terjadi pukul 10:11 WIB. Kamu bisa mengamati Bulan yang akan terbit sejak tengah hari hingga terbenam saat tengah malam.

6 September 2019: Konjungsi Bulan dengan Jupiter
Ketika Matahari terbenam di tanggal ini, amatilah langit atas kepala. Kamu akan menemukan Bulan separuh yang ditemani oleh bintang kuning terang yang tidak berkelap-kelip. Eits, kalau diamati dengan teleskop, bintang tersebut rupanya merupakan planet Jupiter, lho!
Fenomena langit September 2019
Dalam astronomi, peristiwa ini dikenal sebagai konjungsi, yakni ketika dua atau lebih benda langit teramati di arah yang sama. Pada momen konjungsi ini, Bulan dan Jupiter akan terpisah sejauh 2° saja. Bulan akan bersinar dengan magnitudo -11,9 dan Jupiter dengan magnitudo -2,2. Keduanya akan berada di arah rasi bintang Ofiukus dan bisa terus diamati hingga tengah malam.

8 September 2019: Konjungsi Bulan dengan Saturnus
Setelah bersama Jupiter, Bulan akan tampak berada di arah yang sama di langit Bumi dengan planet Saturnus, sang planet bercincin termegah di tata surya. Fenomena konjungsi ini akan membuat Bulan dan Saturnus terpisah sejauh 1° saja, sangat dekat.

Kamu butuh teleskop untuk bisa melihat Saturnus lebih jelas lengkap dengan cincinnya. Sebab dalam pandangan mata telanjang, Saturnus hanya akan muncul sebagai bintang kuning keemasan terang yang tidak berkelap-kelip di dekat Bulan.
Fenomena langit September 2019
Keduanya bisa diamati mulai setengah jam setelah Matahari terbenam. Cukup amati langit timur, atau sekitar 60° di atas cakrawala tenggara. Konjungsi Bulan dan Saturnus ini bisa terus diamati hingga pukul 01:22 keesokan harinya waktu setempat daerahmu.

10 September 2019: Oposisi Neptunus
Planet Neptunus, planet paling luar di tata surya, akan berada di titik oposisi pada tanggal ini. Itu artinya, Matahari-Bumi-Neptunus sedang berada dalam satu garis lurus di bidang tata surya, lho.

Tanggal ini juga menandai jarak terdekat antara Bumi dan Neptunus (sekitar 28,9 AU, dengan 1 AU = 150 juta kilometer). Walau begitu, fenomena ini bukan berarti Neptunus akan tampak besar di langit Bumi. Ia hanya akan tampak dengan diameter sudut sebesar 2,4 detik busur dan magnitudo +7,8, masih sangat kecil dan redup sehingga kamu butuh teleskop untuk mengamatinya.

Pada momen oposisi ini, Neptunus bisa diamati antara pukul 19:15 hingga 04:30 waktu setempat daerahmu. Ia akan berada setinggi 21° dari cakrawala timur pukul 19:15 waktu setempat daerahmu, lalu akan terbenam di bawah 20° dari cakrawala barat pukul 04:30 waktu setempat daerahmu.

14 September 2019: Fase Bulan Purnama
Bulan purnama untuk September ini terjadi hampir di tengah bulan, atau secara astronomis tepatnya pada 14 September pukul 11:34 WIB.

Fase Bulan purnama terjadi ketika Matahari-Bumi-Bulan berada hampir segaris lurus, sehingga seluruh wajah Bulan yang menghadap ke Bumi sedang disinari sepenuhnya oleh Matahari. Pada fase ini tidak selalu terjadi gerhana. Hal itu disebabkan karena bidang orbit Bulan miring sekitar 5° terhadap ekliptika Bumi.
Oh iya, fase Bula purnama September ini juga dijuluki sebagai Bulan mini lho. Itu karena Bulan purnama ini akan bertepatan dengan jarak terjauhnya dari Bumi untuk tahun ini (sekitar 406.000 kilometer). Bulan pun akan tampak sedikit lebih kecil, atau sekitar 14% lebih kecil dari Bulan purnama super.

22 September 2019: Fase Bulan Perbani Akhir
Tujuh hari setelah purnama, Bulan sudah bergerak mengelilingi Bumi sedemikian rupa sehingga posisinya kini menjadi 90° lagi terhadap Matahari. Dengan kata lain, ia akan tampak separuh untuk kedua kalinya. Bedanya, yang disinari Matahari kali ini adalah yang pada fase perbani awal mengalami malam hari.

Secara astronomis, fase Bulan perbani akhir akan terjadi pukul 09:42 WIB. Walau begitu, Bulan baru akan terbit mulai tengah malam hingga terbenam pada tengah hari.

23 September 2019: Ekuinoks
Bukan, ini bukan fenomena naiknya suhu Bumi. Ekuinoks merupakan fenomena penanda kembalinya pergerakan tahunan Matahari ke ekuator. Dengan kata lain, di tanggal ini Matahari akan menyinari Bumi tepat di atas ekuator, terbit dan terbenam tepat di ufuk timur dan barat.
Fenomena langit September 2019
Ekuinoks terjadi karena adanya kemiringan sumbu Bumi. Setelah miring 23,5° ke utara sejak solstis Juni kemarin sehingga menyebabkan musim panas di belahan Bumi utara dan musim dingin di belahan Bumi selatan, kali ini kemiringan Bumi membuat Matahari sudah kembali ke ekuator lagi, untuk nantinya bergerak semu ke selatan pada solstis Desember.

Secara astronomis, ekuinoks September akan terjadi pukul 14:36 WIB.

25 September 2019: Konjungsi Bulan dengan Gugus M44
Pernahkah kamu melihat gugus bintang? Pada 25 September ini, Bulan akan menjadi pemandu kamu dalam menemukan sebuah gugus bintang terbuka bernama M44, atau yang dikenal juga sebagai gugus bintang Hyades.

Sebab di tanggal ini, Bulan akan berada sejauh 1° dari gugus bintang M44. Untuk mengamatinya, carilah dulu Bulan sabit yang akan terbit pada pukul 02:25 dini hari waktu setempat daerahmu, atau kurang lebih 3 jam sebelum Matahari terbit. Pada saat itu, Bulan (dan tentunya M44) akan berada pada ketinggian 40 ° di atas cakrawala timur laut.
Fenomena langit September 2019
Walau begitu, pastikan cuaca cerah ya. Walaupun Bulan akan cukup terang karena bersinar dengan megnitudo -11, gugus bintang M44 masih cukup redup dengan magnitudo +3,1.

27 September 2019: Hujan Meteor Sekstantid
Pernah melihat hujan meteor di siang hari? Berbeda dengan kebanyakan hujan meteo yang puncaknya terjadi mulai dini hari hingga Subuh saja, hujan meteor yang satu ini bisa kamu amati sampai siang hari, lho!

Namanya Sekstantid, berasal dari nama titik radiannya yakni rasi bintang Sekstan. Hujan meteor ini sudah aktif dari 9 September hingga 9 Oktober, namun pengamatan terbaik adalah pada puncaknya yakni 27 September.

Pada puncaknya tersebut, ada peluang untuk melihat meteor-meteor Sekstantid pada siang hari. Di langit Indonesia, kita bisa mengamatinya mulai pukul 03:30 dini hari, ketika rasi bintang Sekstan mulai terbit dari cakrawala timur.
Fenomena langit September 2019
Hujan meteor Sekstantid kemungkinan akan mencapai puncak aktivitasnya pada sekitar pukul 07:00 pagi waktu setempat daerahmu hingga sekitar pukul 10:00. Pada puncaknya ini, diperkirakan akan ada 5 meteor per jam. Walau begitu, pengamatan wajib dilakukan di daerah yang cerah tanpa awan. Matamu juga harus awas dalam mengamati pergerakan meteor di langit yang sudah membiru.

29 September 2019: Fase Bulan Baru
Fase Bulan baru adalah ketika kedudukan Matahari-Bulan-Bumi berada segaris lurus. Namun, alih-alih terjadi gerhana, Bulan yang miring 5° terhadap ekliptika Bumi malah tidak akan teramati karena sisi terangnya sedang membelakangi Bumi. Dengan kata lain, pada fase ini Matahari dan Bulan akan terbit bersamaan.

Dalam kalender Hijriah, fase Bulan baru menandai akhir dari suatu bulan Komariah, lalu akan berganti bulan pada fase sabit muda (satu hari setelah fase Bulan baru). Secara astronomis, fase Bulan baru akan terjadi pada pukul 01:28 WIB.

Nah, itulah fenomena langit September yang bisa kita amati di seluruh Indonesia. Mana nih fenomena langit yang paling kamu tunggu-tunggu? Selamat mengamati ya!
BERIKAN KOMENTAR ()