Bagaimana Cara Isi Ulang Bahan Bakar Satelit?

Info Astronomy - Satelit katanya bisa terus-terusan mengorbit Bumi kita tanpa jatuh. Memangnya bahan bakarnya apa, dan bagaimana cara mengisi ulangnya? Mengherankan bukan?

Sebelum kita berprasangka buruk kalau satelit itu cuma hoaks, kita cari tahu dulu yuk bagaimana sebenarnya cara kerja satelit itu. Bukannya kita diperintahkan untuk Iqra alias baca? Nah, artikel ini lahir setelah penulis membaca dari satu sumber ke sumber lainnya.

Jadi, Bagaimana Satelit Bisa Tetap di Orbit?
Sebenarnya, satelit tidak membutuhkan bahan bakar sama sekali untuk bisa mengorbit. Satelit dapat mengorbit planet kita karena mereka bergerak dalam kecepatan yang cukup cepat dan konstan untuk bisa mengalahkan tarikan gravitasi yang menariknya ke bawah (ke arah permukaan Bumi).

Lalu, dari mana kecepatan itu didapat? Begini, pada awalnya, satelit diluncurkan ke luar angkasa oleh roket yang meluncur dari permukaan Bumi dengan kecepatan hingga 28.000 kilometer per jam untuk melawan tarikan gravitasi Bumi. Setelah roket mencapai lokasi orbit yang ditentukan, ia akan melepaskan satelit yang dibawahnya. Nah, kecepatan awal satelit setelah dilepaskan roket itulah yang terus bertahan untuk membuat mereka bisa terus berputar.

Sebuah satelit dapat mempertahankan orbitnya dengan menyeimbangkan dua faktor: kecepatannya (kecepatan yang diperlukan untuk bergerak lurus) dan tarikan gravitasi Bumi. Dengan kata lain, satelit yang mengorbit lebih dekat dari permukaan Bumi harus bergerak lebih cepat untuk dapat melawan tarikan gravitasi yang lebih kuat.

Nah, kalau membicarakan tentang bahan bakar, satelit memang membawa pasokan bahan bakarnya sendiri. Namun, tidak seperti bagaimana bahan bakar digunakan pada mobil untuk ngegas, satelit tidak perlu menggunakan bahan bakar itu untuk melaju.

Bahan bakar pada satelit hanya berguna untuk mengubah orbit atau menghindari tabrakan dengan satelit lain. Karena sekali ia bergerak setelah dilepaskan roket, maka akan bergerak terus di luar angkasa yang hampir vakum itu.

Sebagian besar satelit yang mengorbit Bumi menggunakan kombinasi bahan bakar atau oksidator hipergol. Untuk satelit yang ditempatkan di orbit geostasioner, mereka menggunakan Monomethylhydrazine (MMH) untuk bahan bakar dan Nitrogen Textroxide (N2O4) untuk oksidator. Ada pula Reaction Engine Assemblies (REA) yang digunakan dalam manuver untuk dapat mengubah orbit satelit.

Ketika satelit hampir kehabisan bahan bakar, para ilmuwan satelit akan segera mengubah orbitnya ke arah orbit "kuburan" (300 km di atas orbit geostasioner) dan kemudian mematikan semua mesin dan perangkat elektroniknya. Satelit yang mati harus segera dikirim ke orbit "kuburan" sehingga tidak ada lagi satelit mati yang melayang bersama semua satelit hidup.

Jadi, sudah sedikit lebih mengerti kan ya bagaimana cara kerja satelit? Biar kamu lebih yakin di luar angkasa sana memang banyak satelit, kamu bisa melihat satelit terbesar yang pernah dibuat manusia: Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Pada waktu-waktu tertentu, ISS bisa tuh diamati dari Bumi. Berada pada ketinggan sekitar 360 kilometer di atas permuakaan Bumi, ISS akan tampak seperti bintang yang berjalan saat senja atau Subuh. Kamu bisa cek jadwal melintasnya ISS pada tautan berikut: Heavens-Above.com (jangan lupa untuk mengubah lokasimu ya!).

Intinya adalah, para astronom atau astronaut tidak perlu repot-repot ke luar angkasa untuk mengisi bahan bakar satelit agar bisa terus mengitari Bumi.
BERIKAN KOMENTAR ()