Kiat Sukses Memotret Bentangan Galaksi Bimasakti

Info Astronomy - Tahukah kamu kalau Agustus ini bentangan galaksi Bimasakti bisa teramati di langit malam? Untukmu yang tinggal di daerah dengan tingkat polusi cahaya dan polusi udara tinggi, mungkin tidak akan pernah menyadari hal ini.

Mumpung Agustus belum berakhir, artikel kali ini akan menjelaskan kepada kamu tentang bagaimana kiat sukses memotret bentangan galaksi Bimasakti. Artikel panduan ini akan berisi panduan dasar-dasar fotografi Bimasakti. Karena sebelum bisa menjadi ekspert, kita harus mempelajari dasar-dasarnya dulu. Kami harap kamu bisa menemukan hal yang berbeda dalam panduan ini dari panduan lain yang tersebar di internet.

Tujuan dari panduan ini adalah untuk membuat kamu mengerti dasar-dasar secepat mungkin sehingga kamu bisa langsung mencari lokasi yang cocok untuk memotret Bimasakti. Sudah siap untuk mendapatkan foto Bimasakti pertamamu?

Peralatan Kamera

Bimasakti di Belitung. Kredit: Martin Marthadinata
Para fotografer biasanya suka ngomongin tentang peralatan kamera, istilah kerennya adalah "gear". Meskipun penting untuk mengetahui gear yang kamu gunakan, sebenarnya lebih penting lagi untuk mencoba memotret secara langsung dengan gear yang kamu punya saat ini daripada sibuk mencari ke sana sini gear tambahan yang tidak kamu tahu gunanya..

Gear Minimum yang Dibutuhkan
Pertama, tripod. Kamu benar-benar membutuhkan tripod. Kalau perlu, beli tripod yang mahal agar bisa bertahan selama bertahun-tahun. Tripod yang murah akan cenderung tidak stabil, menyebabkan gambar jepretan Bimasaktimu menjadi buram.

Kedua, kamera dengan mode manual. Dalam hal ini, mode manual berarti kamu bisa secara manual menyesuaikan ISO, aperture, dan kecepatan rana pada kamera. Ketiga, lensa kamera dengan aperture minimum f/4 (lebih baik lagi f/2,8 atau yang lebih kecil lagi). Semakin kecil f-stop, semakin banyak cahaya yang dapat diambil ke dalam lensa kamera. Semakin banyak cahaya, semakin banyak detail bintang yang akan muncul di hasil jepretanmu.

Gear yang Disarankan
Pertama, untuk tripod, sebaiknya pilih tripod tinggi dan kuat. Kedua, carilah kamera full-frame, sebab kamera jenis ini memiliki performa ISO yang berkinerja lebih baik.

Ketiga, kamu perlu tambahan berupa lensa sudut lebar 14-24mm dengan aperture minimum f/2,8. Lensa ini dibutuhkan agar hasil jepretan kamu lebih luas lengkap dengan lanskapnya. Keempat, kamu juga perlu intervalometer, alat yang memungkinkan kamu untuk menekan tombol rana tanpa menggoncangkan kamera. Ingat, kita akan memotret dengan waktu eksposur lebih dari 30 detik.

Kelima, pelacak bintang atau star tracker. Alat yang satu ini bisa kamu pasang pada tripod yang disambungkan ke kameramu untuk nantinya bisa mengikuti (melacak) gerak bintang-bintang di langit malam, yang pada akhirnya memungkinkan waktu eksposur yang lebih lama dan gambar bentangan Bimasakti menjadi semakin jelas. Namun, pelacak bintang ini hanya opsional saja ya, kami juga tidak akan membahasnya di panduan ini.

Persiapan dan Perencanaan

Persiapan dan perencanaan merupakan dua aspek terpenting dalam fotografi Bima Sakti. Mengetahui fase bulan, berapa banyak polusi cahaya di lokasi pemotretan, di mana letak bentangan Bimasakti berada di langit malam, dan seperti apa cuaca akan menjadi beberapa faktor terbesar untuk sukses atau tidaknya kamu mengabadikan Bimasakti.

Oke, kita bahas satu per satu saja yuk!

Fase Bulan
Bulan sangatlah terang, lebih terang dari yang mungkin kamu ketahui apabila kamu ingin memotret bentangan galaksi Bimasakti. Misalnya saja ketika fase Bulan purnama, cahaya Bulan akan membuat sebagian besar bintang tidak terlihat di langit.

Saat memotret Bimasakti, disarankan kamu perlu mencari waktu yang tepat, yakni pekan pertama setelah fase Bulan baru dan pekan terakhir menjelang fase Bulan baru. Dengan kata lain, semakin dekat waktu pemotretan kamu dengan fase Bulan baru, semakin baik.


Untuk mengetahui fase Bulan, kamu bisa cari tahu di InfoAstronomy App, lho!

Polusi Cahaya
Manusia menciptakan banyak cahaya buatan, terutama di kota-kota besar. Semakin dekat kamu dengan area kota, semakin banyak polusi cahaya yang pada akhirnya akan mempengaruhi hasil jepretan Bimasakti.

Pergilah menjauh dari kota, misalnya ke pedesaan, puncak gunung, atau mungkin pantai. Pastikan saat malam hari tidak banyak sumber cahaya di sekitarmu, agar kondisi langit benar-benar gelap dan ideal untuk memotret Bimasakti.

Tidak tahu di mana lokasi yang minim polusi cahaya? Kamu bisa menggunakan situs web seperti darksitefinder.com untuk melihat berapa banyak polusi cahaya di daerah kamu. Semakin gelap area karena bebas polusi cahaya, semakin baik untuk memotret Bimasakti.

Letak Bimasakti
Bintang-bintang, termasuk bentangan galaksi Bimasakti, melakukan gerak semu setiap malamnya akibat Bumi berotasi. Karena Bumi juga melakukan revolusi, bintang-bintang pun akan terbit terlambat sekitar 4 menit per harinya. Itulah mengapa letak bentangan Bimasakti akan berbeda-beda setiap bulannya.

Nah, Agustus ini, Bimasakti bisa diamati dan dipotret sejak awal malam. Kalau kamu tidak tahu di mana letaknya, kamu bisa menggunakan aplikasi seperti Stellarium atau peta bintang lainnya untuk memudahkan pencarian Bimasakti.

Cuaca
Cuaca mungkin merupakan faktor terbesar dalam fotografi Bimasakti. Jika terlalu mendung, kamu tidak akan dapat melihat bintang-bintang. Mengetahui apakah langit akan cerah atau berawan bisa membantu kamu dalam merencanakan pemotretan Bimasakti. Memang, cuaca sulit diketahui, tapi prakiraan cuaca dari situs web BMKG bisa cukup membantu kok!

Memfokuskan Lensa

Oke, sekarang kamu sudah punya gear dan sudah melakukan persiapan hingga perencanaan. Selanjutnya adalah mulai mencoba memotret. Sudah siap? Harus siap dong!

Sebelum itu, kamu perlu memfokuskan lensa dulu. Tanpa lensa yang fokus, kesuksesan dalam memotret Bimasakti tidak akan tercapai. Tapi, sudah tahu belum bagaimana cara membuat lensa menjadi fokus?

Saat memotret objek yang dekat, mungkin sangat mudah untuk memfokuskan lensa. Tapi karena bintang sangat jauh, kamu mungkin cenderung berpikir perlu mengatur fokus ke mode tak terbatas (atau simbol ∞). Faktanya, beberapa lensa masih harus disesuaikan lebih lanjut, lho.

Jangan khawatir, kami akan mengajarkan kamu dalam dua metode: satu yang dapat kamu lakukan di siang hari, dan satu lagi di malam hari.
Bimasakdi di Bali. Kredit: Sandi Astina P.
Metode Pertama: Atur Fokus di Siang Hari
Siapkan kamera lengkap dengan tripod dan lensa yang akan kamu gunakan gunakan, lalu sesuaikan lensa kamu dengan panjang fokus yang akan kamu gunakan. Misalnya 24mm untuk 14-24mm.

Arahkan kamera beserta lensanya ke suatu objek. Fokuslah pada objek yang jauh menggunakan autofokus. Kalau belum fokus juga, lakukan penyesuaian manual menggunakan cincin fokus jika perlu. Fokus otomatis hari ini biasanya sangat akurat kok.

Kalau sudah fokus, ambil beberapa gambar sebagai latihan di aperture normal, seperti f/8. Lalu perbesar lagi foto dan periksa kembali apakah objek yang kamu fokuskan masih terlihat tajam atau tidak.

Apabila hasil jepretanmu masih fokus, itu artinya kamu telah menemukan titik fokus tak terbatas (infinity) pada kameramu. Kamu cukup mengingat atau mengunci fokus itu untuk nanti malam digunakan pengaturannya dalam memotret Bimasakti.
Mengunci fokus. Kredit: Martin Marthadinata
Metode Kedua: Atur Fokus di Malam Hari
Siapkan kamera lengkap dengan tripod dan lensa yang akan kamu gunakan gunakan, lalu atur cincin fokus kamera kamu sedekat mungkin dengan simbol ∞. Jangan lupa untuk menyalakan "live view" dan arahkan kamera kamu ke bintang atau objek paling terang di langit yang dapat kamu temukan. Pokoknya paling terang ya!

Kalau sudah ketemu objeknya, langsung carilah fokus pada objek itu. Sesuaikan cincin fokus kameramu sampai objek yang kamu amati itu muncul sebagai titik cahaya sekecil mungkin. Kalau berhasil, selamat, kamu telah menemukan titik fokus kamera untuk bisa mulai memotret Bimasakti!

Mengatur Kamera

Pengaturan kamera juga menjadi bagian paling penting dalam belajar memotret bentangan galaksi Bimasakti. Dalam seni fotografi siang hari, kamu mungkin bisa langsung memotret dengan pengaturan kamera yang sederhana saja. Tapi, hal itu tidak berlaku untuk memotret di malam hari.

Fotografi di malam hari punya satu tujuan dasar: mengumpulkan sebanyak mungkin cahaya.

Kenampakan bintang-bintang tidak terlalu terang, jadi untuk memotretnya kita perlu menyesuaikan pengaturan kamera kita untuk bisa mengumpulkan cahaya sebanyak mungkin sambil menjaga kualitas gambar tetap optimal. Pengaturan di bawah inilah yang mungkin kamu butuhkan.

Format Gambar
Kita mulai saja dengan format gambar. Jika kamera kamu memungkinkan, selalu potret bentangan galaksi Bimasakti dalam format gambar RAW. Format gambar ini akan menghasilkan jepretan dengan detail terbaik yang nantinya bisa kamu olah lagi.

Bukaan/F-stop
Aturlah bukaan, f-stop, atau dikenal juga sebagai aperture ke angka terkecil. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, semakin kecil f-stop, semakin banyak cahaya yang dapat ditangkap lensa kamera kamu. Dalam pengaturan aperture, kamu lah sebagai astrofotografer yang bisa menentukan sebesar apa f-stop yang dibutuhkan sesuai gear yang kamu miliki.

Kecepatan Rana
Karena kita akan mengumpulkan cahaya sebanyak-banyakya, maka kita perlu mengambil eksposur lama dengan ISO yang rendah. Sayangnya, karena Bumi berputar, bintang-bintang ikut bergerak terbit dan terbenam. Bila kecepatan rana terlalu lambat, hasil jepretan kita nantinya akan muncul bergaris, atau yang dikenal sebagai "star trail".

Ini berarti paparan kami hanya bisa begitu lama sebelum kami mendapatkan "jejak bintang". Untuk membuat segalanya lebih rumit, semakin panjang fokus Anda, semakin pendek eksposur Anda sebelum bintang Anda mulai jejak.
Star Trail Bromo. Kredit: Martin Marthadinata
Oh iya, seberapa lamanya waktu eksposur tergantung dari lensa yang kamu gunakan ya. Misalnya, lensa 16mm biasanya dapat memotret dengan eksposur sekitar 30 detik, sedangkan lensa 50mm lebih dekat ke 10 detik.

Untuk mencegah munculnya star trail, kamu bisa ikuti rumus 500. Dalam rumus 500 ini, kamu dapat menghitung waktu eksposur terpanjang yang dapat kamu lakukan berdasarkan jarak fokus lensa kamera kamu. Ingat, rumus 500 hanyalah rumus praktis dan bukan ilmu pasti. Aperture dan ISO tidak berpengaruh pada rumus 500.

Rumus 500 cukup mudah kok, kamu hanya perlu membagi 500 berdasarkan panjang fokus kamera. Misalnya lensa 16mm, maka 500/16 = 31,25 detik. Sementara lensa 50mm, 500/50 = 10 detik. Mudah dimengerti, kan?

ISO
Ya, ISO biasanya merupakan pengaturan terakhir yang perlu kamu sesuaikan setelah kamu mengatur f-stop dan menemukan waktu eksposur yang cocok. Untuk menemukan ISO terbaik, diperlukan beberapa tes pemotretan.

Mulailah dengan ISO sekitar 1600 dan ambil bidikan. Jika hasil bidikan tersebut terlalu gelap, cobalah langsung tingkatkan angkasa ISO. Lakukan hal itu berulang-ulang hingga mendapatkan hasil jepretan di mana Bimasakti tampak jelas.

Biasanya, dengan lensa f/2,8, pengaturan ISO 6400 biasanya merupakan "sweet spot". Tapi hal ini akan berbeda-beda tergantung pada kamera. Dengan ISO 6400, beberapa kamera mungkin akan mendapati hasil jepretan yang banyak noise (bintik-bintik).

Gabungkan Semuanya!
Sekarang, pengaturan kamera sudah kamu dapatkan dasar-dasarnya, yang harus kamu lakukan setelahnya adalah menggabungkan semuanya. Bila menggunakan lensa 24mm, maka ISO 6400, f/2, 20 detik. Tapi kalau lensa 14mm, ISO 6400, f/2,8, 30 detik.

Bagaimana? Memotret Bimasakti memang butuh kreativitas dan keahlian dalam memotret. Tenang, kamu pasti bisa mendapatkan hasil jepretan Bimasakti pertamamu. Selamat mencoba!
BERIKAN KOMENTAR ()