Inilah Jadwal Peristiwa Langit Agustus 2019

Info Astronomy - Bayangkan ketika kamu lagi ngamat langit malam yang cerah berbintang, tiba-tiba sebuah meteor terang kekuningan lengkap dengan ekornya melesat cepat. Apa yang akan kamu lakukan? Make a wish? Terkagum-kagum? Atau malah takut? Eits, Agustus ini adalah waktu yang tepat untuk melihat hujan meteor.

Pada awal Agustus saja, kita sudah bisa menyaksikan peristiwa hujan meteor Delta Akuarid. Walaupun puncaknya sudah terjadi pada 30 Juli kemarin, beberapa meteor dari hujan meteor ini masih bisa diamati kok. Kamu cuma perlu mengamati langit malam sambil berbaring, pastikan cuaca cerah dan tingkat polusi udara sekitarmu rendah ya!

Nah, selain Delta Akuarid, kita masih bisa lho mengamati peristiwa-peristiwa langit lainnya. Apa saja sih? Daripada penasaran, langsung saja deh kita bahas.

Sepanjang Agustus: Galaksi Bimasakti

Kalau kamu tinggal di wilayah yang bebas polusi cahaya dan polusi udara yang baik tidak seperti di Jakarta, kamu berkesempatan melihat bentangan galaksi Bimasakti di sepanjang Agustus ini. Sebab setiap tahunya, Agustus merupakan waktu terbaik untuk mengamati bentangan galaksi Bimasakti.

Dalam pandangan mata telanjang, bentangan galaksi Bimasakti memang tidak akan seterang apa yang ada di foto-foto yang tersebar di internet. Karena sebenarnya, foto-foto tersebut telah dinaikan kontras cahayanya untuk bisa lebih menampilkan Bimasakti dalam hasil foto.

Walau begitu, kamu tetap bisa melihat adanya bentangan galaksi Bimasakti, kok. Menurut pengalaman kami yang pernah mengamati bentangan galaksi Bimasakti secara langsung, Bimasakti akan muncul seperti pita kabut putih yang tidak biasa di langit, lengkap dengan bentangan bintangnya dan debu-debu gelap di tengahnya yang memanjang.

Persis seperti foto ini, namun jauh lebih redup:
Foto: Martin Marthadinata. Belitung, 2016.
Bentangan galaksi Bimasakti juga bisa dipotret, lho. Cukup cari tahu di mana letak bentangan galaksi Bimasakti, lalu arahkan kamera DSLR kamu ke arah pusat galaksi. Atur diafragma kamera ke f/3,5, ISO 3200 atau lebih, kecepatan rana 15-30 detik, dan fokus ke infinity. Pengaturan dasar tersebut akan membuatmu bisa mendapatkan bentangan Bimasakti di hasil jepretan. Cobain deh!

1 Agustus 2019: Fase Bulan Baru

Fase Bulan baru, selain sebagai penanda berakhirnya suatu bulan Komariah, juga merupakan waktu terbaik untuk melakukan pengamatan langit. Pada fase ini, Bulan tidak akan tampak di langit karena akan terbit dan terbenam berbarengan dengan Matahari. Langit malam pun akan benar-benar bersih tanpa gangguan cahaya Bulan.

Secara astronomis, fase Bulan baru akan terjadi pukul 10:13 WIB. Di waktu ini, Bulan akan mengalami konjungsi dengan Matahari di langit Bumi.

8 Agustus 2019: Fase Bulan Perbani Awal

Tujuh hari setelah fase Bulan baru, fase Bulan akan berubah menjadi perbani atau separuh. Pada fase ini, Bulan akan berada sekitar 90 derajat posisinya terhadap Matahari di langit Bumi. Hal itu akan membuat ia terbit saat tengah hari, berada di atas kepala saat Matahari terbenam, dan akan terbenam saat tengah malam.

Secara astronomis, fase Bulan perbani awal akan terjadi pukul 00:32 WIB.

9 Agustus 2019: Waktu Terbaik Mengamati Merkurius

Tidak setiap hari kita bisa melihat Merkurius. Sebagai planet terdekat dengan Matahari, sudut elongasi (jarak posisi benda langit dari posisi Matahari di langit Bumi) planet Merkurius sangat kecil. Bila terlalu pagi mengamatinya, Merkurius belum terbit. Tapi bila telat mengamatinya, Matahari sudah terbit dan Merkurius tak teramati lagi.
Nah, ada saat-saat tertentu di mana kita bisa melihat Merkurius lebih lama, salah satunya adalah pada 9 Agustus 2019 ini. Saat Matahari terbit di tanggal itu, Merkurius akan mencapai ketinggian 17 derajat dari cakrawala timur. Itu adalah sudut tertinggi yang bisa dicapai Merkurius yang juga merupakan waktu terbaik mengamatinya.

10 Agustus 2019: Konjungsi Bulan dengan Jupiter

Pernah melihat planet Jupiter? 10 Agustus adalah waktu terbaik untuk mengamatinya karena ia akan tampak berdekatan dengan Bulan. Dalam peristiwa yang dikenal sebagai konjungsi ini, Bulan dan Jupiter akan terpisah sekitar 2°28' satu sama lain.

Kamu bisa mulai mengamatinya sekitar beberapa menit setelah Matahari terbenam. Pada pukul 18:05 waktu setempat daerahmu, mereka akan berada setinggi 64° di atas cakrawala tenggara. Mereka kemudian akan mencapai titik tertinggi di langit pada pukul 19:30 waktu setempat daerahmu, yakni setinggi 74° di atas cakrawala selatan. Kamu bisa terus mengamatinya sampai sekitar pukul 01:09 waktu setempat daerahmu, ketika mereka tenggelam di bawah 7° di atas cakrawala barat.
Pada momen konjungsi ni, Bulan akan bersinar terang dengan magnitudo -12. Sementara Jupiter akan berada pada magnitudo -2,4. Pengamatan Jupiter wajib menggunakan teleskop ya. Tanpa teleskop, Jupiter hanya akan tampak seperti bintang kuning terang di dekat Bulan saja.

12 Agustus 2019: Konjungsi Bulan dengan Saturnus

Setelah sebelumnya bersama Jupiter, di tanggal 12 Agustus 2019 nanti giliran planet Saturnus yang digebet Bulan. Memang, Bulan ini gebetannya banyak.

Carilah rasi bintang Sagitarius. Kedua benda langit ini akan tampak di depan arah pusat galaksi Bimasakti. Kalau tidak tahu di mana Sagitarius, menghadap saja ke tenggara sekitar pukul 6 sore waktu setempat daerahmu. Bulan dan Jupiter akan berada setinggi 37° di atas cakrawala tenggara pada saat itu.
Pasangan kosmis ini kemudian akan mencapai titik tertinggi di langit pada pukul 21:30 waktu setempat daerahmu, yakni ketinggian 73° di atas cakrawala selatan. Karena Bumi berotasi, mereka akan terbenam pada pukul 03:12 keesokan harinya waktu setempat daerahmu.

Oh iya, dalam pandangan mata, kita hanya akan melihat Saturnus seperti bintang kuning terang di dekat Bulan. Gunakan teleskop untuk bisa melihat Saturnus lebih jelas lengkap dengan cincinnya yang megah ya.

13 Agustus 2019: Hujan Meteor Perseid

Hujan meteor terbaik setiap tahunnya telah tiba! Ya, Perseid merupakan peristiwa hujan meteor tahunan yang bisa muncul sangat banyak dalam semalam. Eits, dengan catatan lokasi pengamatannya cerah dan bebas polusi cahaya kota ya.

Hujan meteor Perseid akan mencapai puncaknya pada malam 13 Agustus 2019. Hujan meteor tahunan ini terjadi muncul ketika Bumi melewati aliran puing yang ditinggalkan oleh sebuah komet yang menguap ketika mendekati Matahari. Saat potongan puing berukuran kerikil dari komet itu bertabrakan dengan Bumi, mereka akan terbakar di atmosfer pada ketinggian sekitar 70 hingga 100 km, sehingga muncul terang menjadi meteor.
Perseid sendiri berasal dari puing komet 109P/Swift – Tuttle. Nantinya, diperkirakan akan muncul 50-80 meteor per jam saat puncaknya. Tidak ada jam-jam tertentu untuk mengamatinya. Ingat, ini bukan peristiwa seperti gerhana. Mulai saja pengamatan ke arah rasi bintang Perseus jam 3 dini hari waktu setempat daerahmu hingga menjelang Matahari terbit.

Meteor-meteor akan terbakar habis di atmosfer sehingga tidak akan mencapai permukaan Bumi. Walaupun disebut sebagai "hujan meteor", kenampakannya tidak akan keroyokan seperti hujan air. Kamu butuh kesabaran untuk mengamatinya.

15 Agustus 2019: Fase Bulan Purnama

Bulan akan tampak penuh pada malam hari di tanggal ini. Bukan tanpa sebab, posisinya dari Matahari akan mencapai sekitar 180 derajat, sehingga keseluruhan wajahnya yang menghadap ke Bumi akan disinari sepenuhnya oleh bintang terdekat Bumi kita itu.

Secara astronomis, Bulan purnama akan terjadi pukul 19:31 WIB.

21 Agustus 2019: Hujan Meteor Alfa Cygnid

Alfa Cygnid merupakan peristiwa hujan meteor minor, yakni yang memiliki intensitas sangat sedikit. Pada puncaknya, hanya teramati sekitar 5 meteor per jam, itu pun harus diamati di lokasi pengamatan yang cuacanya cerah dan benar-benar jauh dari polusi cahaya.
Belum diketahui dari mana asal muasal hujan meteor ini. Namun kemungkinan berasal dari pecahan Komet Halley. Hujan meteor Alfa Cygnid memiliki titik radian di rasi bintang Cygnus dan bisa diamati di seluruh Indonesia mulai tengah malam sampai menjelang Matahari terbit.

23 Agustus 2019: Fase Bulan Perbani Akhir

Hampir mirip seperti fase Bulan perbani awal, yang membedakan hanya pada fase ini giliran area gelap Bulan pada fase perbani awal yang disinari oleh Matahari. Bulan akan terbit saat tengah malam, mencapai titik tertinggi di langit saat Matahari terbit, dan terbenam saat tengah hari.

Secara astronomis, fase Bulan perbani akhir akan terjadi pada pukul 21:75 WIB.

28 Agustus 2019: Konjungsi Bulan dengan M44

Pernahkah kamu mengamati sebuah gugus bintang? Di tanggal ini, Bulan akan menjadi pemandu kamu dalam menemukan M44, sebuah gugus bintang terbuka yang berada di rasi bintang Kanser.

Oh iya, sudah tahu bedanya gugus bintang dengan rasi bintang? Gugus bintang merupakan kumpulan bintang yang terikan secara gravitasi satu sama lain. Jarak antarbintangnya saling berdekatan. Sementara itu, rasi bintang merupakan susunan bintang yang dirangkai oleh manusia berdasarkan kedekatannya dalam pandangan dari permukaan Bumi saja.

Nah, pada 28 Agustus 2019, Bulan akan berada sejauh sekitar 2 derajat dari M44. Mencapai magnitudo +3, gugus bintang M44 memang masih sulit diamati bila lokasi pengamatanmu sudah tercemar polusi cahaya.
Pengamatan bisa dilakukan mulai pukul 05:00 pagi hari waktu setempat daerahmu. Mereka akan berada di langit timur persis seperti pada gambar di atas.

30 Agustus 2019: Fase Bulan Baru

Ya, ada dua fase Bulan baru pada Agustus ini. Dengan begitu, fase Bulan baru kedua ini bisa disebut sebagai "Bulan Biru". Tapi tunggu dulu, Bulan tidak akan benar-benar tampak berwarna biru kok!

Alih-alih biru, Bulan malah tidak akan teramati karena akan terbit dan terbenam bersama Matahari, membuat area terang yang disinari Matahari tidak akan teramati dari Bumi. Dengan kata lain, posisinya di tata surya adalah Matahari-Bulan-Bumi berada segaris lurus. Walau begitu, gerhana Matahari tidak akan terjadi karena bidang orbit Bulan masih miring sekitar 5 derajat dari ekliptika Bumi.

Nah, itu dia peristiwa langit Agustus 2019 yang dapat kita amati di seluruh Indonesia. Semoga cuaca selalu mendukung pengamatanmu ya. Untukmu yang mau beli teleskop, kami menyediakannya di InfoAstronomy Store.
BERIKAN KOMENTAR ()