Artemis: Misi Pendaratan Manusia di Bulan Penerus Apollo

Info Astronomy - Lima puluh tahun yang lalu, atau tepatnya pada 21 Juli 1969 silam, manusia untuk pertama kalinya dapat menginjakkan kaki di Bulan dalam misi Apollo. Dan dalam lima tahun lagi, kita kemungkinan akan menjadi saksi sejarah kembalinya manusia ke Bulan dalam misi penerus bernama Artemis.

Apa itu Artemis? Misi ini merupakan misi Lembaga Antariksa AS (NASA). Berbeda dengan misi-misi Apollo yang hanya mendaratkan manusia di Bulan lalu beberapa jam kemudian kembali lagi ke Bumi, nantinya misi Artemis akan menjadi langkah pertama menuju era di mana Bulan dapat dihuni dalam jangka panjang dan berkelanjutan bagi manusia.

Bedanya dengan Apollo?
Kalau sudah pernah berhasil mendaratkan manusia di Bulan pada misi Apollo, kenapa harus melakukannya lagi? Faktanya, tujuan misi Artemis tidak sesederhana "mendaratkan manusia di permukaan Bulan" saja, lho. Ada begitu banyak perbedaan antara Apollo dengan Artemis.

"Apollo adalah 'misi yang sederhana', NASA hanya perlu mendaratkan manusia saja di permukaan Bulan," kata Nujoud Merancy, kepala Kantor Perencanaan Misi Eksplorasi NASA. Kala itu, misi Apollo diluncurkan dengan roket bermesin tunggal yang berisi kendaraan, pendarat Bulan, dan logistik. Para astronaut Apollo hanya bisa mengunjungi satu tempat di Bulan untuk satu misi, tanpa bisa mengulangi pendaratan di tempat yang sama.

Misi Artemis berbeda. Ini adalah misi di mana kita akan membangun pangkalan di Bulan. Para astronaut harus dapat kembali ke titik yang sama berulang-ulang. Dengan kata lain, perhitungan waktu keberangkatan dan penentuan titik pendaratan akan lebih diperhitungkan dalam misi Artemis ini.

Hal lainnya yang membedakan Apollo dengan Artemis adalah dari sektor komersial. NASA bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan antariksa swasta seperti SpaceX dan Blue Origin dalam misi Artemis untuk membangun segala hal yang dibutuhkan agar nantinya pangkalan manusia di Bulan bisa berkembang secara berkelanjutan karena dikelola oleh sektor swasta.

Detail Misi
Lima tahun dari sekarang memang terkesan ambisius untuk dijadikan "deadline" misi Artemis ini. Namun, sebenarnya NASA telah lama merencanakan misi untuk kembali ke Bulan, lho.

Misi Artemis berangkat dari dua dasar tujuan utama. Pertama, misi ini harus berjalan demi berkembangnya sains dan teknologi. Kedua, kita perlu belajar untuk mengeksplorasi luar angkasa lebih jauh. Bulan memberikan peluang sempurna untuk melakukan hal-hal itu.

Terlebih lagi, manusia dianggap perlu menjadi spesies multi-planet, mengingat perubahan iklim, pertumbuhan populasi, dan menipisnya sumber daya alam di Bumi harus dicarikan solusinya. Salah satunya adalah, kita perlu belajar hidup di planet lain, dan itu bisa dimulai dengan belajar hidup di Bulan.

Lalu, bagaimana kita bisa sampai di Bulan?

Ada empat teknologi yang harus bersatu padu untuk bisa melakukan pendaratan manusia di Bulan pada tahun 2024. Pertama adalah roket Space Launch System (SLS), roket terkuat yang pernah dibuat oleh NASA. Terdiri dari dua mesin pendorong dan satu mesin pendorong inti, SLS akan membawa para astronaut yang nantinya akan menaiki kapsul antariksa Orion.

Kapsul antariksa Orion sendiri merupakan sebuah modul antariksa yang berguna untuk mengangkut maksimal empat astronaut dalam sekali jalan ke dan dari Lunar Gateway, sebuah stasiun antariksa kecil yang nantinya akan ditempatkan di orbit Bulan. Tidak seperti ISS, Lunar Gateway tidak akan dihuni manusia secara permanen. Lunar Gateway hanya akan menjadi seperti "checkpoint" dari Bumi ke Bulan atau sebaliknya.

Ketika para astronaut tiba di Lunar Gateway, mereka akan pindah ke sebuah modul pendarat, untuk nantinya diangkut pergi pulang dari permukaan Bulan.
Seluruh teknologi di atas sampai sejauh ini belum ada yang mulai beroperasi. Bahkan, dua dari empat teknologi di atas, yakni Lunar Gateway dan modul pendarat, belum selesai dibangun.

Baru roket SLS dan kapsul antariksa Orion yang sejauh ini terus berkembang. NASA baru-baru ini sempat melakukan uji coba yang sukses terhadap kapsul antariksa Orion, sementara itu roket SLS akan mulai uji coba pada tahun 2020 mendatang.

SLS dan Orion akan menjalani uji coba dalam misi Artemis 1 tahun depan. Bila misi tersebut berhasil, NASA akan menjalani misi Artemis 2 pada tahun 2022 mendatang untuk uji coba dan perakitan Lunar Gateway serta modul pendarat. Barulah pada tahun 2024, misi Artemis 3 akan berjalan, yang mana kali ini sudah memiliki awak.

Jadwal padat nan agresif ini mengasumsikan bahwa setiap bagian misi berjalan lancar. Bila ada satu saja penghambat, semuanya akan gagal total dan dimundurkan jadwalnya.

Penghambatnya Bisa Jadi Adalah...
Sekalipun semuanya berjalan lancar, ternyata masih ada penghambat besar yang kemungkinan akan dihadapi oleh NASA, yakni dukungan politik. Agar NASA dapat melakukan pendaratan manusia di Bulan pada tahun 2024, mereka membutuhkan lebih banyak dana. Dan pendanaan itu harus disetujui oleh Kongres AS.

NASA memperkirakan, untuk menjalani misi Artemis 1, 2, dan 3, akan menelan biaya sekitar 20 hingga 30 miliar dolar AS. Akankah Kongres AS menyetujui dana anggaran sebesar itu? Sebagai bagian dari warga negara dunia ketiga, kita hanya bisa menyimak saja saat ini.

Yang jelas, cepat atau lambat, kita mungkin bisa melihat ada tempat tinggal manusia di Bulan saat sedang mengamati Bulan purnama dari permukaan Bumi.
BERIKAN KOMENTAR ()