Apa yang Terjadi Jika Matahari Tiba-tiba Meledak?

Info Astronomy - Matahari merupakan sebuah bintang, dan di akhir masa hidupnya bintang bisa meledak sebagai supernova. Ledakan bintang sangat terang dan sangat energik. Peristiwa tersebut dapat melepaskan banyak debu dan gas ke ruang angkasa, yang nantinya bisa menjadi bahan pembentukan bintang baru. Tata surya kita terbuat dari bahan-bahan ledakan supernova. Bahkan manusia pun terbuat dari bahan bintang tersebut, lho!

Jika Matahari tiba-tiba meledak dalam supernova, maka seluruh tata surya akan hancur. Tapi, kita sebenarnya tidak perlu khawatir, hanya bintang yang berukuran 10 kali lebih masif dari Matahari kita, atau yang lebih besar lagi, yang dapat meledak dalam supernova. Matahari kita yang termasuk dalam bintang yang kurang masif akan mengakhiri hidupnya dengan cara yang berbeda.

Bila dianalogikan, supernova seperti meledakkan balon. Nah, ketika Matahari kita mati, kematiannya akan terjadi secara perlahan-lahan, seperti ketika kita membiarkan udara keluar secara perlahan-lahan dari sebuah balon.

Kematian Matahari
Dikutip dari ScienceAlert, Matahari akan mulai mati ketika kehabisan bahan bakarnya, dalam hal ini hidrogen dan helium, yakni dalam waktu sekitar 5.000.000.000 tahun (5 miliar tahun). Itu adalah waktu yang sangat, sangat lama. 77 kali lebih lama dari waktu ketika Tyrannosaurus rex terakhir punah di Bumi.

Sebelum Matahari mati, ia akan mengembang, ukurannya menjadi lebih besar dan suhunya sedikit lebih dingin, berubah menjadi apa yang oleh para astronom sebut sebagai “raksasa merah”. Matahari akan menjadi sangat besar sehingga akan melahap Merkurius, Venus, dan bahkan Bumi.

Nah, ketika Matahari berada dalam fase raksasa merah, ia akan mulai mengeluarkan lapisan terluarnya ke segala penjuru tata surya, membuat ukurannya akan semakin kecil, hingga akhirnya menjadi apa yang disebut sebagai kerdil putih.

Matahari sebagai Kerdil Putih
Kerdil putih merupakan inti dari bintang mati. Mereka sangat berat, bahkan beratnya hampir sama dengan massa Matahari, namun ukurannya sangat kecil, hanya seukuran diameter Bumi. Satu sendok teh kerdil putih memiliki berat sekitar 6.000 kilogram!

Dilansir UniverseToday, ketika Matahari memasuki fase sebagai kerdil putih, sebagian besar tata surya masih ada, kecuali Merkurius, Venus, dan Bumi yang sudah lenyap. Tata surya hanya menyisakan Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus yang masih bertahan dan terus mengitari Matahari. Begitu juga sabuk asteroid, sabuk Kuiper, dan planet kerdil seperti Pluto.

Kehidupan Tanpa Matahari
Cahaya dari Matahari adalah apa yang membuat planet kita hangat selama ini, membuat kehidupan bisa eksis. Tanpa Matahari, planet-planet di tata surya akan menjadi sangat dingin, kehidupan pun jadi lebih sulit untuk ada di tata surya.

Kerdil putih tidak menghasilkan banyak cahaya. Ketika Matahari sudah menjadi kerdil putih, tata surya akan menjadi tempat yang sangat berbeda dengan yang saat ini.

Tetapi mungkin saja di masa depan, manusia sudah membangun pesawat ruang angkasa yang memungkinkan kita meninggalkan Bumi. Manusia bahkan mungkin membangun sesuatu untuk menggerakkan Bumi, mungkin lho ya. Bisa saja Bumi berhasil diselamatkan dari Matahari yang mengembang menjadi raksasa merah, atau bisa juga manusia sudah menghuni planet asing di sistem tata surya lain.

Matahari akan menjadi raksasa merah dan kemudian kerdil putih selama miliaran tahun dari sekarang. Itu waktu yang sangat lama. Kita memang tidak dapat menyaksikan Matahari melewati fase-fase hidupnya, tetapi kita dapat belajar bagaimana bintang terbentuk dan lalu mati dengan melihat bintang-bintang lain di galaksi kita.

Bimasakti memiliki bintang-bintang dari segala usia, dan seiring berjalannya waktu, para astronom telah mengetahui mana yang muda, tua, atau mati. Dengan mempelajari bintang-bintang tua dan mati, kita dapat menemukan apa yang akan terjadi pada Matahari kita di masa yang akan datang.
BERIKAN KOMENTAR ()