Mengenal Hilal Sebagai Penentu Awal Bulan Hijriah

Info Astronomy - Sebelum memasuki bulan puasa atau menjelang lebaran, kita pasti selalu melihat berita atau informasi kalau pemerintah sedang mengamati hilal. Nah, sudah tahu belum apa itu hilal dan kenapa harus banget diamati?

Sebelum kita ke pembahasan utama, sudah tahu belum kenapa Bulan memiliki bentuk yang berbeda-beda setiap malamnya? Yuk bahas itu dulu~

Seperti yang kita ketahui, Bulan adalah satu-satunya satelit alami yang mengelilingi Bumi. Menurut informasi pada situs Science at NASA, untuk sekali mengelilingi Bumi, Bulan perlu waktu 29,5 hari.

Perubahan bentuk Bulan yang kita amati setiap malam disebabkan karena posisinya berubah-ubah terhadap posisi Bumi dan Matahari, sehingga kita yang mengamatinya dari Bumi akan melihat bentuk Bulan yang berubah-ubah pula, tergantung bagaimana Matahari menyinarinya.

Yak, cahaya Bulan itu sebenarnya berasal dari pantulan cahaya Matahari. Bulan tidak bisa memancarkan cahayanya sendiri karena hanya bintang yang bisa melakukannya melalui proses yang dikenal sebagai fusi nuklir (mengubah dua inti hidrogen menjadi helium). "Bentuk-bentuk" Bulan yang selalu berubah-ubah itu disebut dengan fase Bulan.
Ketika posisi Bulan berada di antara Bumi dan Matahari, maka akan disebut sebagai fase Bulan baru. Pada fase ini, Bulan dan Matahari akan tampak terbit dan terbenam dalam waktu yang bersamaan. Kemudian, di hari berikutnya, Bulan akan bergerak menjauhi Matahari secara perlahan hingga bentuknya mulai berubah menjadi Bulan sabit. Nah, Bulan sabit di awal-awal seperti inilah yang disebut hilal.

Sederhananya, hilal adalah istilah bahasa Arab untuk Bulan sabit muda. Dikutip dari EarthSky.org, hilal adalah Bulan sabit yang bisa kita lihat pertama kali tepat setelah fase Bulan baru. Dengan kata lain, hilal adalah Bulan sabit yang sangaaat tipis karena usia fasenya masih sangat muda.

Tapi, perlu dicatat nih, tidak sembarangan Bulan sabit tipis bisa disebut hilal. Ada kriteria khusus supaya Bulan sabit bisa disebut sebagai hilal, lho!

Bulan sabit tipis agar bisa disebut hilal harus bisa diamati saat Matahari terbenam untuk menghitung ketinggiannya. Dengan begitu, terlihatnya Bulan sabit tipis di siang hari tidak menjamin ia akan terlihat juga saat Matahari terbenam, sehingga tidak menunjukkan pergantian bulan dalam kalender Hijriah.

Hal itu disebabkan karena Bulan sabit tipis di siang hari bukan selalu fase Bulan sabit muda, tapi bisa saja masih merupakan Bulan sabit tua (fase Bulan sebelum konjungsi, usia Bulan masih kurang dari 0 jam) ataupun Bulan sabit muda yang masih berusia 0 jam. Jadi, pengamatan Bulan sabit di siang hari bukan hilal penentu awal bulan dalam kalender Hijriah.

Bulan sabit yang pasti sebagai hilal hanya yang teramati setelah Magrib.

Kenapa hilal dijadikan penentu awal bulan Hijriah padahal kenampakannya sangat tipis dan sulit diamati? Bukan, bukan karena para astronom atau pemerintah suka sesuatu yang greget dan menantang. Tetapi karena hilal adalah penanda yang paling mudah dikenali bahwa malam itu adalah malam dimulainya bulan baru dalam kalender Hijriah.

Bila malam-malam sebelumnya ditandai dengan kemunculan Bulan sabit tua yang tampak pagi hari, setelah fase Bulan baru, barulah kemudian malam dengan hilal.

Oh iya, mencari hilal bukanlah hal yang mudah lho. Karena sangat tipis, diperlukan kejelian level mata elang untuk menemukannya. Ditambah lagi, pengamatan hilal yang dilakukan saat langit senja yang masih terang bikin kenampakannya semakin redup.
Selain itu, rentang waktu untuk melihat hilal juga sangat sebentar. Karena tidak lama setelah Matahari terbenam, hilal juga akan ikut terbenam. Usia hilal yang selama ini diamati biasanya masih kurang dari 12 jam dan ketinggiannya masih di bawah 6 derajat dari cakrawala barat. Dengan ketinggian seperti itu, hilal akan terbenam kurang lebih sekitar 24 menit setelah Matahari terbenam.

Setelah hilal teramati, itu artinya malamnya sudah masuk awal dari bulan baru. Kalau itu hilal awal Ramadan, maka seluruh kegiatan ibadah yang biasa dilakukan selama Ramadan akan dimulai saat malam itu pula, seperti misalnya salat tarawih maupun sahur di keesokan hari.

Bagaimana dengan Hilal Ramadan 2019?
Memulai Ramadan sepertinya tidak afdol tanpa melihat hilal. Sebelum melihat hilal, para astronom biasanya mencari tahu dulu kapan waktu ijtimak atau konjungsi, fase Bulan baru.

Pada Mei 2019 ini, fase Bulan baru terjadi pada tanggal 5 sekitar pukul 05:47 pagi WIB. Nah, karena konjungsinya pagi hari seperti ini, secara hisab (perhitungan) seharusnya hilal sudah dapat teramati pada sore harinya di tanggal yang sama.

Tinggi hilal pada saat Matahari terbenam pada 5 Mei 2019 sudah berada sekitar 5 derajat, sehingga para astronom yang mengamatinya sudah dapat melihat Bulan sabit tipis. Mengacu pada standar Wujudul Hilal (pengamatan hilal) pemerintah Indonesia yang menyatakan bahwa hilal harus berada di atas 2 derajat dari cakrawala saat Matahari terbenam, maka malam hari tanggal 5 Mei sudah masuk 1 Ramadan 1440 H.

Nah, itulah sedikit informasi mengenai hilal sebagai penentu awal bulan Hijriah. Selamat berpuasa untukmu yang menjalankannya ya!
BERIKAN KOMENTAR ()