Mengenal Gugus Bintang Terjauh di Galaksi Bimasakti

Info Astronomy - Gugus bintang merupakan kumpulan ribuan hingga jutaan bintang yang terikat secara gravitasi. Kebanyakan gugus bintang juga berusia sangat tua, yang bahkan setua galaksi tempat mereka berada, sekitar 13 miliar tahun.

Bintang-bintang pada gugus bintang juga terbentuk secara sekaligus, yang membuat mereka lebih mudah dipelajari: semua bintang pada gugus bintang punya usia, jenis, dan elemen kandungan yang sama persis.

Gugus bintang yang besar dan berjarak dekat dari Bumi juga menakjubkan saat diamati melalui teleskop, yang tampak seperti sarang bintang. Setiap gugusan bintang memiliki inti padat dengan bintang-bintang yang saling berdekatan, dengan sisa bintang lainnya yang menyebar di tepiannya.

Menurut Britannica, galaksi Bimasakti sendiri memiliki setidaknya 150 gugus bintang yang mengorbit pusatnya, dan kemungkinan juga masih banyak lagi yang redup sehingga belum ditemukan. Di InfoaAstronomy.org, kami sangat sering membahas gugus bintang, tapi sekarang pertanyaannya adalah, apa gugus bintang paling jauh di galaksi Bimasakti yang pernah diketahui?

Sebagian besar dari 150 gugus bintang di Bimasakti berjarak puluhan ribu tahun cahaya jauhnya dari Bumi, mengorbit galaksi kita di wilayah yang dikenal sebagai halo. Lalu, siapa yang saat ini memegang rekor terjauh?

Izinkan kami untuk memperkenalkannya, PSO J174.0675-10.8774:
Seperti yang kamu lihat pada gambar di atas, gugus bintang terjauh dari Bumi di Bimasakti ini termasuk dalam jenis gugus bintang bola. Untuk mempersingkat, kita sebut saja dia sebagai PSO J174. Ia ditemukan secara independen oleh dua tim astronom yang berbeda pada tahun 2014. Jaraknya diperkirakan mencapai 470.000 tahun cahaya!

Jarak tersebut sangat... jauh. Cakram galaksi Bimasakti saja--dari ujung ke ujung--hanya selebar 100.000 tahun cahaya. Hal itu membuat PSO J174 berada pada jarak sekitar seperenam dari jarak ke Galaksi Andromeda. Dengan kata lain, PSO J174 berada di ruang antargalaksi, di luar galaksi Bimasakti kita.

Perkiraan awal menyebutkan bahwa PSO J174 memiliki massa kurang lebih sekitar 7.000 kali massa Matahari, massa yang cukup kecil untuk sebuah gugus bola. Tetapi ukurannya besar. Diameternya sejauh ini masih sulit diukur karena gugus PSO J174 tampak tidak memiliki tepian, namun para astronom memperkirakan diameternya kira-kira 150 tahun cahaya, sekitar dua kali ukuran gugus bintang bola pada umumnya.

Yang lebih aneh lagi, usianya jauh lebih muda dari yang kamu mungkin duga. Menurut pengamatan spektroskopi, PSO J174 baru sekitar 8 miliar tahun, jauh lebih muda dari Bimasakti. Hemm, apa yang membuatnya masih sangat muda itu?

Beberapa gugus bintang memang banyak yang terbentuk berbarengan dengan terbentuknya Bimasakti, sehingga usianya sangat tua. Tetapi tidak semua seperti itu, beberapa lainnya ada yang masih lebih muda dan lebih besar, seperti PSO J174 ini.

Gugus bintang seperti PSO J174 diduga terbentuk pada sebuah galaksi kerdil yang mengorbit galaksi Bimasakti jauh di masa lalu, tetapi kemudian galaksi kerdil tersebut berada terlalu dekat dengan Bimasakti sehingga "dimakan" oleh galaksi kita.

Bintang-bintang pada galaksi kerdil yang termakan oleh Bimasakti banyak yang bergabung dengan galaksi kita. Nah, dalam beberapa kasus, gugus bintang yang mengorbit galaksi kerdil dapat menghindari penggabungan itu karena gravitasinya yang kuat, sehingga pada akhirnya malah mengorbit Bimasakti pada jarak yang jauuuuuh seperti PSO J174 ini.

Oh iya, penemuan PSO J174 juga bukan tanpa kontroversi. Tim astronom yang menemukannya sempat menganggap bahwa ia adalah galaksi kerdil, dan bukan gugus bola. Para astronom bisa sampai pada kesimpulan itu setelah mengamati bintang-bintang biru di PSO J174, bintang-bintang yang telah berumur begitu tua sehingga mereka mulai mati.

Nah, bintang-bintang semacam itu berusia jauh lebih muda daripada bintang-bintang lain dalam gugusan, sehingga para astronom menafsirkannya bagwa telah ada beberapa fase kelahiran bintang di PSO J174, ciri khas sebuah galaksi. Gugus bintang tidak dapat membentuk bintang-bintang baru lagi.

Tapi ternyata, ada plot twist menarik di penelitian ini. Tim astronom lain menunjukkan bahwa dua dari tiga bintang biru yang terlihat oleh tim astronom sebelumnya sebenarnya adalah bintang latar depan milik galaksi Bimasakti, sehingga mereka bukan merupakan anggota dari PSO J174.
Teleskop Antariksa Hubble pun turun tangan. Pada gambar di atas yang dipotret melalui Hubble, kita dapat melihat lebih jelas bagaimana wujud PSO J174 yang sebenarnya. Tim astronom yang sebelumnya mengira bahwa PSO J174 merupakan galaksi kerdil pun keliru, jelas-jelas bahwa PSO J174 adalah gugus bintang bola.

Pengamatan dengan Hubble yang berhasil mengungkap PSO J174 lebih detail pun membuat adanya pembaruan pada perkiraan massa gugus bintang ini. Dengan kemampuan Hubble yang dapat melihat bintang-bintang yang lebih redup di sana, massa PSO J174 pun kini diketahui hampir sekitar 10.000 kali massa Matahari.

Nah, itulah gugus bintang terjauh di galaksi Bimasakti yang berhasil ditemukan sampai saat ini.

Pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab selanjutnya adalah: Mengapa gugus bintang bisa bertahan dari peristiwa kanibalisme galaksi? Bisakah kita menemukan bintang-bintnag yang mirip seperti yang ada pada PSO J174 di galaksi kita sendiri? Apa artinya penemuan gugus bintang seperti PSO J174 bagi evolusi galaksi? Kamu mungkin akan jadi astronom masa depan yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.
BERIKAN KOMENTAR ()