Gempa di Bulan Membuat Permukaannya Menyusut

Info Astronomy - Bagaikan buah anggur yang menyusut menjadi kismis, menurut sebuah studi terbaru, Bulan--satu-satunya satelit alami Bumi kita--juga mengalami penyusutan. Bagaimana para astronom bisa sampai pada kesimpulan ini?

Menurut makalah ilmiah yang dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience pada 13 Mei 2019, kajian yang dilakukan oleh para astronom di NASA mengungkap bahwa penyusutan permukaan Bulan meninggalkan bukti-bukti berupa jurang-jurang curam di permukaannya yang kedalamannya mencapai 50 meter.

Kerak permukaan Bulan yang rapuh menyebabkan munculnya banyak retakan besar saat ia menyusut, lempengannya pun saling mendorong satu sama lain. Inilah yang diamati oleh para astronom.

“Analisis kami memberikan bukti pertama bahwa penyusutan sedang terjadi dan menyebabkan adanya gempa Bulan,” kata Thomas Watters, dari Smithsonian National Air dan Space Museum, dilansir ScienceDaily.com. “Gempa Bulan bisa sangat kuat hingga sekitar 5 skala Richter.”

Gempa di Bulan sendiri sebenarnya telah dideteksi secara tidak langsung oleh NASA pada misi Apollo 17 tahun 1972. Kala itu, modul Apollo yang dikendari astronot Eugene Cernan dan dua rekannya harus melintasi wilayah permukaan Bulan yang bertebing sangat tinggi. Tebing-tebing itulah hasil dari gempa di Bulan.
Bukti gempa di Bulan juga datang dari empat seismometer yang sempat ditinggalkan secara sengaja di Bulan oleh para astronot dalam serangkaian misi Apollo, yakni Apollo 11, Apollo 12, Apollo 14, Apollo 15, dan Apollo 16. Seismometer-seismometer tersebut dilengkapi dengan algoritma yang memungkinkannya bisa mendeteksi aktivitas seismik di permukaan Bulan.

Seluruh seismometer tersebut saat ini sudah tidak aktif, tapi gabungan semuanya telah mencatat sekitar 28 gempa Bulan yang dangkal yang terjadi dalam rentang tahun 1969 hingga 1977. Gempa-gempa tersebut memiliki kekuatan rata-rata 2 hingga 5 SR.

Para astronom melihat bahwa 8 hingga 28 gempa Bulan yang berhasil dideteksi itu terjadi dalam jarak kurang lebih 30 kilometer dari tebing-tebing yang diamati. Selain itu, diketahui pula bahwa 6 dan 8 gempa terjadi ketika Bulan berada pada jarak terjauh dari Bumi, ketika tekanan gravitasi Bumi menjadi lebih kuat sehingga menyebabkan tegangan di permukaan Bulan meningkat.

Bagaimana gempa ini berhubungan dengan penyusutan permukaan Bulan? Menurut pengamatan melalui wahana antariksa Lunar Resonnaissance Orbiter (LRO), ketika gempa terjadi, permukaan Bulan patah, lalu menyusut. Dilansir dari IFLScience.com, jumlah susutannya juga cukup signifikan: 50 meter per tahun.

LRO, selama misinya yang telah berlangsung sejak tahun 2009, berhasil mengamati 3.500 kerutan patahan pada permukaan Bulan. Beberapa kerutan tersebut merupakan longsoran. Hal ini menjadi bukti bahwa gempa memang dan masih terjadi.

Saat ini, untuk lebih mendapatkan banyak bukti, para astronom berencana untuk memasang lebih banyak seismometer di Bulan. Hal tersebut cukup penting untuk mempelajari lebih jauh mengenai interior Bulan sehingga para astronom dapat menentukan seberapa bahaya gempa di Bulan bagi astronot masa depan yang akan mendarat di sana.

Bulan tidak hanya semakin bergerak menjauh 3,8 cm per tahun dari Bumi, tapi juga menyusut ukurannya menjadi semakin kecil.
BERIKAN KOMENTAR ()