Mengamati Pecahan Planet di Bintang Mati

Info Astronomy - Kematian sebuah bintang rupanya ada yang tidak cukup dahsyat untuk dapat menghancurkan planet yang mengitarinya. Salah satunya planet ini, yang berjarak 410 tahun cahaya jauhnya dari Bumi.

Untuk yang kedua kalinya, para astronom telah menemukan sebuah pecahan sebuah planet yang mengelilingi sebuah bintang mati, yang dikenal sebagai kerdil putih.

Yang lebih keren lagi: Ini adalah penemuan pertama yang dilakukan dengan menggunakan spektroskopi, sebuah teknik yang dapat membuat para astronom jauh lebih mudah untuk mendeteksi pecahan planet serupa di penelitian selanjutnya. Para astronom percaya bahwa pecahan semacam itu dapat membantu kita lebih memahami tidak hanya sistem tata surya lain, tetapi juga tata surya kita.

Ini adalah bukti, menurut para astronom, tentang apa yang terjadi pada planet ketika bintang induk mereka mati, sebuah nasib yang akan dialami juga oleh sebagian besar sistem bintang di alam semesta, termasuk di tata surya kita.

Inilah yang akan terjadi ketika Matahari kita mati:

Pertama, reaktor nuklir bertenaga hidrogen di jantung Matahari akan kehabisan bahan bakar. Matahari pun, pada detik itu, akan mengembang menjadi bintang raksasa merah, lapisan terluarnya membengkak hingga 100 kali ukurannya saat ini, sehingga akan menelan Merkurius, Venus, dan mungkin bahkan planet kita sendiri, Bumi, bersama kehidupan di dalamnya.

Selanjutnya, Matahari akan mulai melakukan fusi helium di intinya, menggabungkan atom-atom helium yang ada menjadi karbon sampai pada akhirnya kekurangan helium itu sendiri. Saat heliumnya habis, Matahari akan terguncang dan runtuh ke dalam gravitasinya sendiri, menumpahkan lapisan terluarnya hingga yang tersisa hanyalah bola padat dan bercahaya yang tidak jauh lebih besar dari Bumi: sebuah kerdil putih.

Tidak ada yang bisa mengatakan seperti apa tata surya kita setelah kematian Matahari kita itu, yang akan terjadi dalam waktu sekitar 5 miliar tahun mendatang di masa depan. Tetapi, sistem bintang yang baru ditemukan ini mungkin memiliki petunjuk.

"Kita seperti sedang melihat sekilas kemungkinan masa depan tata sura sendiri," kata Jessie Christiansen, seorang astronom di lembaga sains eksoplanet NASA, mengomentari studi ini dalam laporan yang ditulis di Science Alert. "Ini seru sekaligus sedikit menakutkan, kita seperti bisa membayangkan hal itu terjadi di tata surya kita."

Kerdil putih alias bintang mati yang diamati para astronom ini dikatalogkan sebagai SDSS J122859.93+104032.9. (Oke, untuk menghemat waktu dan mudah diingat, para astronom ini menyederhanakan namanya menjadi "1228" saja.)

Christopher Manser, seorang astrofisikawan di Universitas Warwick di Inggris yang memimpin studi terhadap 1228 ini pertama kali mengamati sang bintang kerdil putih itu beberapa tahun yang lalu. Ia dan rekan-rekannya begitu tertarik karena tampaknya si kerdil putih ini memiliki cakram puing-puing pecahan planet yang berputar-putar di sekitarnya.

Menggunakan teleskop optik terbesar di dunia, Gran Telescopio Canarias di Spanyol, ia berusaha untuk mengamati cahaya dari cakram puing-puing tersebut dengan metode spektroskopi, yang mana dapat membagi cahaya yang diamati menjadi bagian-bagian komponennya, yang pada akhirnya dapat memberikan informasi terbuat dari apakah cakram puing itu.

Melalui pengamatan spektroskopi, Manser dan rekan-rekannya terkejut melihat adanya "gangguan" dalam cakram puing ini. Setahun pengamatan berlalu, dan hasilnya menunjukkan bahwa "gangguan" tersebut terus muncul setiap dua jam.

"Gangguan" yang terjadi secara konsisten seperti itu hanya dapat dihasilkan oleh planetesimal, atau pecahan planet, yang mengorbit bintang yang baru saja mati.

Dan benar saja. Pengamatan lanjutan mengonfirmasi bahwa "gangguan" tersebut memang merupakan planet raksasa di sana yang pecah namun masih tersisa saat sang bintang 1228 mati. Planet tersebut berada sangat dekat dengan 1228, terbukti dari periode orbitnya yang hanya 2 jam.

Futurism mencatat, pecahan planet yang mengitari bintang 1228 memiliki lebar setidaknya satu kilometer, tetapi diameternya bisa mencapai beberapa ratus kilometer. Planet tersebut masih bisa bertahan dari kehancuran sistem bintangnya berkat komposisi besi dan nikel yang kokoh.

"Planet yang pecah ini memiliki kepadatan yang cukup tinggi sehingga bisa bertahan hidup dari gravitasi yang kuat saat bintang induknya mati," kata Manser. "Hal terpadat yang bisa kita pikirkan pertama kali adalah, besi."

Di tata surya kita sendiri, ada satu objek yang mirip dengan planet yang pecah ini, yakni sebuah asteroid yang terbentuk keseluruhannya dari logam, 16 Psyche. Para astronom bahkan memperkirakan bahwa 16 Psyche ini dulunya adalah bagian inti dari sebuah planet yang besar, yang kerak dan mantelnya lenyap entah ke mana.

Mungkin planetesimal yang diamati pada bintang 1228 ini memiliki kisah asal mula yang sama: Ia dilahirkan sebagai planet berbatu yang berjarak cukup jauh dari bintang 1228, namun ia terdorong ke dalam, ke arah bintang induknya oleh beberapa gangguan gravitasi. Di cengkeraman gravitasi luar biasa dari bintang mati itulah, kerak dan mantelnya yang rapuh lenyap, meninggalkan inti logam yang keras yang teramati saat ini.

Pengamatan terhadap cakram puing-puing kerdil putih rupanya mendukung gagasan ini. Cakram tersebut terdiri atas kalsium, oksigen, dan magnesium, material yang selalu ada pada sebuah planet berbatu di sistem bintang manapun.

Manser mengatakan dalam sebuah siaran pers bahwa ia dan rekan-rekannya juga sudah mengetahui ada beberapa sistem bintang lain dengan cakram puing serupa dengan 1228, sehingga mereka berencana untuk mulai mencari pecahan planet lainnya.

"Kami yakin bahwa kami akan menemukan planetesimal lainnya yang mengorbit kerdil putih lain," kata Manser, "Yang kemudian akan memungkinkan kami untuk mempelajari lebih lanjut tentang sifat umum mereka."

Dan mengingat bahwa Matahari kita sendiri suatu hari akan mati, apa pun yang dapat kita pelajari tentang kerdil putih pada dasarnya akan membantu kita lebih memahami masa depan tata surya kita.
BERIKAN KOMENTAR ()