Penemuan Cincin di Kerdil Putih Tertua dan Terdingin

Info Astronomy - Cincin adalah fenomena umum di alam semesta kita. Dalam beberapa dekade terakhir, para astronom telah mengetahui bahwa planet raksasa gas dan raksasa es dapat memiliki cincin. Di tata surya kita misalnya, planet Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus semuanya memiliki cincin.

Bahkan sejauh ini, telah ditemukan beberapa asteroid yang memiliki sistem cincinnya sendiri. Bintang-bintang, terutama bintang-bintang muda yang masih dalam proses pembentukan sistem planetnya sendiri, memiliki cincin.

Tak hanya bintang-bintang yang masih dalam proses pembentukan saja, tetapi jenis bintang kerdil putih--akhir kehidupan bintang bermassa rendah seperti Matahari--diketahui bisa memiliki cincin.

Namun, bila biasanya sistem cincin ditemukan untuk kerdil putih yang masih berusia muda, baru-baru ini sekelompok astronom menemukan sistem cincin pada kerdil putih yang berusia jauh lebih tua

Penemuan tersebut berhasil dilakukan oleh seorang ilmuwan warga bernama Melina Thévenot. Ia tergabung dalam proyek sukarelawan Backyard Worlds: Planet 9, yang dipimpin oleh NASA. Proyek tersebut secara aktif menemukan objek-objek langit dari data-data yang dikumpulkan oleh teleskop-teleskop antariksa.

Berkat kegigihannya, Thévenot menemukan sebuah bintang kerdil putih yang dikatalogkan sebagai LSPM J0207+3331, berjarak sekitar 145 tahun cahaya dari Bumi di arah rasi bintang Kaprikornus. Pada tahun 2014, J0207 diketahui sebagai kerdil putih tertua dan terdingin yang pernah ditemukan.

J0207 sendiri diketahui memiliki diameter yang seukuran dengan diameter Bumi. Dulunya, J0207 merupakan sebuah bintang yang mirip Matahari kita, namun ia kini telah mencapai masa akhir kehidupannya karena telah kehabisan bahan bakarnya.

Menurut John Debes, seorang astronom di Space Telescope Science Institute mengatakan, "Kerdil putih ini sangat tua sehingga proses apa pun yang membentuk cincinnya kemungkinan sudah terjadi dalam rentang waktu miliaran tahun. Sebagian besar model yang telah diciptakan sejauh ini hanya dapat menjelaskan cincin pada kerdil putih yang baru berusia sekitar 100 juta tahun saja."
J0207 temuan Melina Thévenot. Kredit: NASA
J0207 diperkirakan saat ini telah berusia tiga miliar tahun. Perkiraan itu didasarkan pada suhunya yang hanya lebih dari 5.800 derajat Celsius. Kehadiran debu di sekitar J0207 menjadi bukti adanya cincin dalam data dari misi Wide-field Infrared Survey Explorer (WISE) NASA.

Sekarang, J0207 tidak hanya menyandang status kerdil putih tertua dan terdingin yang pernah diketahui, melainkan itu juga merupakan kerdil putih tertua dan terdingin yang dilengkapi dengan sistem cincin.

Thévenot menemukan J0207 saat menjelajahi arsip data dari satelit Gaia milik Badan Antariksa Eropa (ESA). Arsip tersebut sebenarnya berisi data-data kerdil cokelat, benda langit yang terlalu besar untuk disebut planet tetapi terlalu kecil untuk menjadi bintang. Dengan kata lain, Thévenot tidak mencari cincin pada kerdil putih pada awalnya.

Nah, setelah memperhatikan sebuah benda yang menurutnya merupakan kerdil cokelat, Thévenot kemudian melihat benda langit tersebut dalam data yang lain, yakni dari data inframerah WISE. Rupanya, dua data yang Thévenot pelajari menunjukkan bahwa benda langit yang ia amati terlalu terang dan terlalu jauh untuk menjadi kerdil cokelat.

Thévenot pun lantas menyampaikan temuannya kepada tim Backyard Worlds: Planet 9, dan Adam Burgasser dari Universitas California diminta untuk melakukan pengamatan lanjutan dengan teleskop Keck II di Observatorium W. M. Keck di Hawaii.

Tak berselang beberapa lama, pengamatan Keck mengonfirmasi yang sebelumnya temuan Thévenot. J0207 kini diketahui memiliki cincin berkat penemuannya.

Lalu, bagaimana kerdil putih yang sangat tua dan dingin ini bisa memiliki cincin? Sejauh ini, para astronom belum begitu yakin, tetapi jawabannya kemungkinan ada hubungannya dengan hal-hal yang tersisa di orbit sekitar kerdil putih tersebut.

Dengan kata lain, bintang kerdil putih ini dulunya adalah bintang biasa seperti Matahari kita, dan ketika mengakhiri kehidupannya maka lapisan terluarnya akan terlontar. Nah, material dari lontaran tersebutlah yang menyatu membentuk sistem cincin.

Tapi dilansir EarthSky, menurut NASA ada beberapa kemungkinan lain bagaimana kerdil putih ini dapat memiliki cincin, salah satunya terbentuk dari debu yang berasal dari asteroid atau komet yang bergerak mendekati sang kerdil putih, sehingga gravitasi kerdil putih dapat merobeknya menjadi potongan kecil-kecil, dan pada akhirnya berputar mengelilingi kerdil putih sebagai cincin.

Sebuah kerdil putih yang berusia tua sendiri dianggap lebih berpotensi memiliki cincin karena semakin tua mereka, semakin banyak interaksi yang telah terjadi dengan asteroid atau komet yang dapat memberikan debu pada sistem cincinnya.

Kerdil putih aja punya cincin, kamu kapan?
BERIKAN KOMENTAR ()