FarFarOut, Objek Langit Terjauh di Tata Surya

Info Astronomy - Desember tahun lalu, sekelompok astronom menemukan sebuah objek kecil, bulat, dan berwarna merah muda yang mengorbit Matahari pada jarak 120 AU, di mana 1 AU setara dengan jarak Bumi-Matahari (150 juta km). Objek ini sempat dianggap merupakan yang terjauh di tata surya, sehingga dijuluki FarOut. Namun, rupanya bukan.

Dr. Scott Sheppard dari Carnegie Institution for Science, mengumumkan sebuah penemuan baru pada hari Kamis (28/2) pekan lalu, bahwa ia menemukan sebuah objek yang lebih jauh dari FarOut.

Objek tersebut, jika dikonfirmasi keberadaannya oleh pengamatan tambahan, diperkirakan berada pada jarak sekitar 140 AU dari Matahari, yang kira-kira 3,5 kali jarak antara Matahari ke Pluto. Dr Sheppard adalah bagian dari tim yang menemukan FarOut, sehingga ia menjuluki objek langit yang baru ditemukan ini sebagai FarFarOut.

"(FarFarOut) sangat redup. Ia berada di ujung kemampuan kita untuk mengamatinya," kata Sheppard dilansir ScienceMag. "Kami belum mengetahui tentang apapun mengenai objek ini, termasuk mengetahui jalur orbitnya. Kami hanya tahu ia jauh, jauh sekali."

Karena berada sangat jauh dari Matahari, baik FarOut maupun FarFarOut bergerak sangat lambat melintasi jalur orbitnya di tata surya, sehingga akan butuh bertahun-tahun bagi para astronom untuk sepenuhnya menentukan orbit kedua objek langit di tepian tata surya kita tersebut. Namun, dengan melakukannya, kita dapat belajar sesuatu tentang "Planet Kesembilan".

Banyak jalur orbit objek-objek langit yang terletak di tepian tata surya yang tampaknya dipengaruhi oleh keberadaan objek masif besar yang berjarak lebih jauh dari keduanya. FarOut sendiri terletak di tempat yang tepat di langit untuk bisa terpengaruh gravitasi dari "objek masif" tadi. Sementara FarFarOut kemungkinan juga sama.

Keberadaan Planet Kesembilan sendiri pertama kali diusulkan oleh duo astronom dari Caltech, Konstantin Batygin dan Mike Brown, pada Januari 2016. Planet hipotesis ini diperkirakan memiliki massa 5 kali massa Bumi. Sayangnya, belum ada pengamatan langsung terhadapnya, sehingga belum ada bukti mengenai keberadaannya.
BERIKAN KOMENTAR ()