Apakah Hujan Juga Terjadi di Planet Lain?

Info Astronomy - Di Bumi, kita terbiasa merasakan adanya hujan air dan hujan salju. Tapi, apakah hujan hanya terjadi di Bumi? Apakah ada hujan juga di planet lain? Jawabannya: Ada, tapi berbeda.

Mari kita cari tahu lebih jauh!

Hujan Asam di Venus
Venus adalah planet kedua dari Matahari, dan dalam banyak hal, ia dianggap mirip seperti Bumi. Ukuran, massa, komposisi, dan bahkan kedekatannya dengan Matahari sangatlah mirip dengan planet rumah kita.

Tapi, Venus tidak sama dalam segala hal. Misalnya saja, atmosfernya. Atmosfer Venus terdiri dari karbon dioksida, dengan volume sebanyak 96,5%. Sementara 3,5% sisanya adalah nitrogen. Atmosfernya sangat padat, bahkan diperkirakan massa atmosfernya 93 kali lipat dari atmosfer Bumi, sedangkan tekanan di permukaan planet adalah sekitar 92 kali dari permukaan Bumi.

Bukti pengamatan para astronom awal menunjukkan bahwa ada kandungan asam sulfat di atmosfer Venus, tetapi kita sekarang tahu bahwa itu adalah unsur yang tidak terlalu melimpah di atmosfernya.
Karena sebagian besar terdiri dari karbon dioksida, yang merupakan gas rumah kaca, suhu di Venus sangat tinggi, yakni sekitar 462° Celsius di siang hari, jauh lebih tinggi daripada suhu siang hari di Merkurius yang jauh lebih dekat ke Matahari.

Permukaan Venus sering digambarkan sebagai "neraka". Venus memiliki awan yang dapat membentang dari sekitar 50 hingga 70 km; di bawah awan, ada lapisan kabut setinggi 30 km. Di atas lapisan karbon dioksida yang padat, ada awan tebal yang terdiri terutama dari tetesan sulfur dioksida dan asam sulfat.

Tapi rupanya, tidak ada curah hujan di permukaan Venus. Walaupun teramati hujan asam sulfat turun di atmosfer bagian atas, tetapi hujan tersebut menguap pada ketinggian sekitar 25 km di atas permukaannya. Jadi, dengan kata lain, memang ada hujan asam di Venus, tetapi tidak di permukaan, melainkan hanya di ketinggian 25 km di atmosfer.

Hujan Kaca di HD 189733b
HD 189733b adalah planet ekstrasurya (planet non-anggota tata surya yang mengitari bintang selain Matahari) yang berjarak sekitar 63 tahun cahaya dari Bumi kita. Planet asing ini ditemukan pada tahun 2005.

Dengan massa 13% lebih masif dari Jupiter, HD 189733b mengorbit bintang induknya sekali setiap 2,2 hari, menjadikannya kategori planet Jupiter panas, kelas planet ekstrasurya yang karakteristiknya mirip dengan Jupiter, tetapi memiliki suhu permukaan tinggi karena mereka mengorbit sangat dekat dengan bintang mereka.
Planet ini ditemukan menggunakan spektroskopi Doppler, metode pengamatan tidak langsung untuk mendeteksi planet ekstrasurya. Pada dasarnya, dengan metode ini, para astronom tidak mengamati sang planet, tetapi lebih ke melihat dan mempelajari bintang-bintangnya dan memperhatikan setiap guncangan kecil pada bintang tersebut yang sesuai dengan pergeseran Doppler.

Pengamatan yang dilakukan tahun 2011 terhadap planet asing yang satu ini menemukan bahwa planet tersebut memiliki albedo yang lebih besar di cahaya biru daripada di merah secara signifikan. Tetapi, biru di sini tidak berasal dari lautan atau permukaan air, melainkan berasal dari atmosfer planet yang bergejolak yang diyakini dipenuhi dengan partikel silikat, bahan pembuat kaca alami.

Dengan kecepatan angin yang terhitung sangat cepat (sekitar 7.000 km per jam) dan perkiraan suhu yang lebih dari 1.000 derajat Celcius, silikat pada atmosfer planet asing ini bisa turun sebagai hujan.

Walaupun para astronom belum mengetahuinya secara pasti, tetapi kemungkinan hujan partikel silikat (kita dapat menganggapnya sebagai kaca) bisa terjadi di planet yang kita sebut HD 189733b ini.

Hujan Berlian di Neptunus
Neptunus adalah planet kedelapan dan terjauh dari Matahari di tata surya (hemm, maaf Pluto~). Komposisi Neptunus mirip dengan Uranus, dan berbeda dengan raksasa gas seperti Saturnus dan Jupiter.

Atmosfer Neptunus terutama terdiri dari hidrogen dan helium, bersama dengan sedikit jejak unsur hidrokarbon dan kemungkinan nitrogen. Namun, berbeda dengan Saturnus dan Jupiter, planet Neptunus mengandung “es” yang lebih tinggi, seperti air, amonia, dan metana. Maka dari itulah ia disebut sebagai "raksasa es", bukan "raksasa gas".
Cuaca Neptunus ditandai oleh sistem badai yang sangat dinamis, dengan kecepatan angin mencapai hampir 2.160 km per jam. Kelimpahan metana dan etana di ekuator Neptunus adalah 10-100 kali lebih besar daripada di kutubnya.

Menurut penelitian yang dilakukan beberapa kelompok astronom, Neptunus (dan Uranus) mengalami hujan yang tak biasa: hujan berlian!

Kemungkinan hujan berlian ini disimpulkan setelah sekelompok astronom merekayasa kondisi Neptunus di laboratorium. Para astronom membuat kondisi yang mirip dengan planet tersebut untuk melakukan simulasi.

Hasil simulasi itu mengungkapkan bahwa metana di atmosfer Neptunus mampu membebaskan atom karbon penyusunnya karena tekanan yang tinggi di sana. Atom karbon yang terbebaskan tersebut kemudian saling terikat satu sama lain, membentuk jelaga.

Ketika jelaga semakin turun ke bawah lapisan atmosfer Neptunus, ia akan merasakan suhu dan tekanan yang semakin tinggi, membuat jelaga berubah menjadi grafit, dan selanjutnya menjadi berlian.

Semakin turun lagi, sekitar 7.000 km dari atmosfer teratas Neptunus, suhu di kedalaman Neptunus bisa mencapai 7.000 derajat Celsius. Berlian yang semula padat pun meleleh menjadi berlian cair, menjelma sebagai hujan berlian.

Hujan Metana di Titan
Memang, Titan bukanlah planet, melainkan sebuah bulan yang mengitari planet Saturnus.
Titan adalah bulan terbesar Saturnus. Ia adalah satu-satunya satelit alami yang diketahui memiliki atmosfer padat, dan satu-satunya objek selain Bumi yang memiliki benda cair yang stabil di permukaannya.

Titan memiliki lautan yang terdiri dari hidrokarbon. Ada pula danau, gunung, kabut, samudera air bawah tanah, dan curah hujan metana. Faktanya, Bumi dan Titan adalah satu-satunya dunia di tata surya yang memiliki curah hujan tinggi.

Yang cukup menarik, cuaca di Titan mirip dengan yang ada di Bumi. Iklim, termasuk angin dan hujan, menciptakan fitur permukaan Titan hingga mirip dengan Bumi, seperti adanya bukit pasir, sungai, danau, laut, dan delta.

Titan mendapat radiasi Matahari 100 kali lebih sedikit daripada yang diterima Bumi, sehingga suhu permukaan rata-rata di sana sangat dingin, sekitar -179° Celsius. Pada suhu sedingin ini, cairan di permukaannya memiliki tekanan uap yang sangat rendah, sehingga atmosfernya hampir bebas uap air.

Hujan metana di Titan bisa turun ketika awan terbentuk, biasanya saat awal musim panas di salah satu belahan Titan. Awan di sana biasanya hanya menutupi 1% luas permukaan Titan, tapi mampu menurunkan hujan lebat.

Nah, itulah hujan-hujan yang terjadi di dunia selain di Bumi. Percayalah, hujan di Bumi adalah hujan ternyaman dan teraman.
BERIKAN KOMENTAR ()