Fakta-fakta Menarik Supermoon 19 Februari 2019

Info Astronomy - Pada 19 Februari 2019 mendatang, Bulan purnama akan bertepatan perigee, jarak terdekat Bulan dengan Bumi dalam orbitnya, dan perigee ini akan menjadi yang terdekat di tahun 2019. Anak indie menyebutnya: Supermoon.

Hemm, apa itu Supermoon? Biar artikelnya tidak membosankan, mari kita bahas Supermoon ini dari fakta-fakta menariknya saja. Siapa tahu ada yang belum kamu ketahui, bukan?

Terminologi
Tahukah kamu? Istilah "Supermoon" rupanya bukan istilah ilmiah, lho. Dalam astronomi, para astronom sebenarnya menyebut peristiwa ini dengan sebutan "Bulan purnama perigee".

Seperti yang telah dijelaskan di paragraf awal, perigee adalah jarak terdekat Bulan ke Bumi. Lawan dari perigee sendiri adalah apogee (jarak terjauh Bulan ke Bumi). Bulan memiliki variasi jarak ini karena mengorbit Bumi tidak dalam jalur melingkar, melainkan elips.

Nah, istilah "Supermoon" sendiri berasal dari ranah astrologi. Itu, lho, ramalan bintang yang sering kamu baca di Instagram terus dalam hati mikir, "Ih, kok bener?" padahal pada dasarnya astrologi hanya menstereotipkan seseorang berdasarkan tanggal lahirnya.

Adalah Richard Nolle, (((ahli))) astrologi yang mengembangkan istilah "Supermoon" untuk menggantikan "Bulan purnama perigee". Memang, sih, istilah Supermoon tampaknya lebih keren dan mudah diingat, jadi tidak heran saat ini jarang ada yang menggunakan istilah Bulan purnama perigee.

Terdekat Tahun Ini
Tidak semua Bulan purnama yang berada di titik perigee akan disebut sebagai Supermoon. Menurut definisinya, Supermoon adalah ketika Bulan purnama (atau bisa juga Bulan baru), berada pada jarak kurang dari 362.000 kilometer dari Bumi.

Dengan kata lain, walaupun Bulan sedang berada di perigee tapi jaraknya masih lebih jauh dari 362.000 kilometer dari Bumi, maka ia tidak akan dikategorikan sebagai Supermoon. Nah, kan, mamam~

Beruntunglah Bulan purnama pada 19 Februari 2019 mendatang. Ia diperkirakan akan mencapai jarak kurang lebih sekitar 356.846 kilometer dari Bumi. Jarak tersebut sudah kurang dari "batas" kategori Supermoon, sehingga kita bisa menyebutnya sebagai Bulan purnama perigee, eh, Supermoon!

Tampak (Sedikit) Lebih Besar
Ya, sedikit. Jangan dulu membayangkan Supermoon akan membuat Bulan tampak sangat besar, atau luar biasa besar di langit malam.

Sebab, perbedaan diameter sudut Bulan pada saat Supermoon maupun saat Bulan purnama biasa sebenarnya tidak jauh berbeda, hanya sekitar 10-14 persen saja. Jadi, untukmu yang jarang melihat Bulan, kemungkinan akan sulit membedakannya sehingga akan berpikiran, "Lah? Ini Supermoon? Nga ada bedanya."
Perbedaan itu baru akan terlihat apabila kamu mengambil gambar Supermoon 19 Februari 2019 nanti, lalu mengambil gambar Bulan purnama pada 20 Maret 2019. Ambilah kedua gambar Bulan purnama itu dengan pengaturan kamera yang sama, lalu hasilnya bisa dibandingkan.

Nantinya, seperti pada foto perbandingan Supermoon tahun 2017 di atas, kamu bisa melihat bahwa diameter sudut Bulan purnama perigee sedikit lebih besar daripada Bulan purnama biasa.

Bisa Diamati di Mana Saja
Tidak seperti peristiwa gerhana Matahari yang ada lokasi-lokasi tertentunya untuk bisa mengamatinya, mengamati Supermoon bisa dilakukan di mana saja selama kamu masih di Bumi. Tepatnya, di sisi malam Bumi.

Karena pada dasarnya, melihat Supermoon adalah melihat Bulan purnama. Jadi tidak perlu persiapan khusus sebelum mengamatinya. Eits, simpan juga kacamata gerhanamu itu, kamu tidak perlu.

Terlihat Sepanjang Malam
Supermoon 19 Februari 2019 bertepatan dengan fase Bulan purnama. Itu artinya, kita bisa melihat Supermoon sepanjang malam, dari Matahari terbenam hingga Matahari terbit keesokan harinya!

Hemm, kok bisa?

Ya bisa, fase Bulan purnama terjadi ketika posisi Bulan berada sejauh 180 derajat dari posisi Matahari di langit Bumi. Hal itulah yang membuat seluruh wajah Bulan jadi tersinari sepenuhnya oleh Matahari. Dengan begitu, saat Matahari terbenam, Bulan baru terbit.

Karena kenampakan benda-benda langit di langit Bumi adalah sekitar 12 jam, maka Bulan baru akan terbenam keesokan harinya ketika Matahari terbit. Jadi kita bisa mengamatinya sepanjang malam deh~

Bukan Tanda Bencana
Beberapa sumber mungkin ada yang menyebut Supermoon sebagai "Bulan Darah" karena penampilan berubah warna ketika ia baru terbit. Walau begitu, sebenarnya Supermoon bukan tanda bencana.


Supermoon memang memiliki dampak pada tingkat pasang surut air laut, tetapi dampaknya tidak terlalu besar, sehingga sama sekali tidak berbahaya.

Nah, itulah fakta-fakta menarik Supermoon 19 Februari 2019. Siap untuk mengamatinya?
BERIKAN KOMENTAR ()