Panduan Pengamatan Bentangan Galaksi Bimasakti 2019

Info Astronomy - Pernahkah kamu mengamati bentangan galaksi Bimasakti di langit malam? Bila di tahun 2018 kemarin masih belum berhasil, kamu wajib mencobanya di tahun 2019 ini. Artikel ini akan menjadi panduanmu dalam mengamatinya. Gaaaasss~

Setiap tahunnya, ada yang dikenal sebagai "Musim Bimasakti". Hemm, apa itu, ya?

Planet Bumi berada di sebuah galaksi spiral berpalang yang disebut sebagai Bimasakti. Karena itulah kita bisa melihat bagian galaksi kita yang tampak bagaikan bentangan di langit malam. Musim Bimasakti adalah waktu-waktu terbaik untuk mengamati bentangan tersebut.

Apa yang menjadi patokan utama dalam menentukan Musim Bimasakti? Tentu saja waktu terbit dan terbenamnya bentangan galaksi kita tersebut. Karena Bumi melakukan revolusi terhadap Matahari, waktu terbit dan terbenam bentangan galaksi kita pun berubah-ubah sepanjang tahun.

Musim Bimasakti dimulai pada Maret hingga Oktober, dengan waktu pengamatan terbaik adalah dari akhir April hingga akhir Juli. Pada waktu-waktu ini, bentangan galaksi Bimasakti sudah terbit dari awal malam sampai menjelang Matahari terbit.

Mengapa akhir April hingga akhir Juli dianggap waktu pengamatan terbaik? Sebab patokan lainnya dalam menentukan Musim Bimasakti adalah musim. Pada akhir April hingga akhir Juli, di Indonesia cenderung sudah memasuki musim kering. Semakin jarang hujan, semakin cerah langit, semakin ideal untuk mengamati Bimasakti.

Pada Musim Bimasakti nanti, kamu dapat melihat bentangan galaksi kita dengan mata telanjang, asalkan lokasi pengamatanmu cukup gelap, jauh dari perkotaan, minim polusi cahaya. Dalam pandangan mata, bentangan Bimasakti akan terlihat seperti pita samar yang membentang di langit.
Sebelum kamu kecewa, kami ingin menginformasikan di sini: pemandangan bentangan galaksi Bimasakti dengan mata telanjang tidak akan seperti pada gambar di atas.

Gambar-gambar bentangan galaksi Bimasakti diambil menggunakan kamera. Seperti yang kita ketahui, lensa kamera dapat lebih sensitif daripada mata kita, bahkan bisa mengumpulkan lebih banyak cahaya daripada yang mata kita bisa lakukan. Dengan begitu, hasil jepretan kamera akan sangat berbeda dengan pandangan mata telanjang.

Yang Harus Dihindari
Untuk mengamati bentangan galaksi Bimasakti, kita harus pergi ke lokasi pengamatan yang jauh dari perkotaan atau minim polusi cahaya. Nah, perkotaan adalah yang harus dihindari. Kebocoran polusi cahaya sedikit saja dapat membuat langit menjadi terang, bentangan galaksi Bimasakti tidak akan teramati.

Selain area perkotaan, sumber cahaya lain yang harus dihindari adalah Bulan. Pastikan kamu mengetahui fase Bulan apa yang akan muncul pada malam hari. Hindari fase Bulan purnama hingga empat belas hari setelahnya. Idealnya, mengamati bentangan Bimasakti bisa dimulai pada fase Bulan baru hingga menjelang fase Bulan purnama.

Memotret Bimasakti
Seperti yang sudah disinggung di atas, pengamatan dengan mata telanjang akan sangat berbeda dengan hasil jepretan kamera. Dengan begitu, tidak ada salahnya bila kita jepret saja Bimasakti di langit~

Tidak, kamu tidak butuh teleskop! Diameter sudut pengamatan teleskop yang sempit tidak akan membantumu untuk melihat bentangan galaksi Bimasakti. Justru yang kamu butuhkan adalah lensa sudut lebar (wide-angle).

Tidak perlu juga lensa yang mahal, sebab kamera DSLR dengan lensa kit pun bisa digunakan. Selain itu, kita juga perlu beberapa peralatan pendukung seperti tripod, shutter release cable, dan senter (sebagai media penerangan di gelapnya malam). Tapi bila tidak punya shutter release cable, kamu bisa memanfaatkan fitur timer saja.

Penggunaan shutter release cable atau timer nantinya adalah karena kita akan memotret dengan paparan panjang (long-exposure). Penggunaan shutter release cable ataupun timer dapat mengurangi goncangan pada kamera (yang akan berdampak pada hasil jepretan) di saat menekan tombol shutter.

Untuk memotret bentangan galaksi Bimasakti, yang pada dasarnya adalah memotret suasana malam hari yang gelap, maka atur diafragma lensa ke yang terbesar untuk lensa kit, yakni f/3,5. Atur pula ISO ke tertinggi 3200 atau 6400, dan rana atur ke slow speed 30". Jangan lupa juga atur kamera kita ke mode manual. Untuk white balance, atur ke mode Auto.

Hindari kecepatan rana yang lebih dari 30", sebab nantinya bintang-bintang pada hasil jepretan akan tampak bergaris (trail) karena hasil dari rotasi Bumi. Oh iya, sebagai tambahan, bila kamu menggunakan lensa kit, maka untuk fokus lensa kamu perlu sedikit trik. Bila fokus telah ditemukan, plester lensa agar fokus tidak hilang.

Menemukan Bimasakti
Sampai di sini, kita sudah mengetahui apa itu bentangan Bimasakti, apa yang harus dihindari dalam mengamatinya, dan bagaimana cara memotretnya. Lalu, tahukah kamu bagaimana cara menemukan Bimasakti?

Di era modern seperti sekarang ini, kita bisa memanfaatkan aplikasi peta langit untuk menemukan bentangan galaksi Bimasakti. Dalam hal ini, kami menggunakan Stellarium Mobile untuk Android.

Pertama-tama, bila sudah mengunduh aplikasinya, atur lokasi pengamatanmu pada aplikasi tersebut seperti di bawah ini:
Kedua, bila lokasi sudah diatur, langkah selanjutnya adalah menentukan waktu pengamatan. Di sini, kami mengaturnya ke 1 Juli 2019 pukul 00:00 WIB.

Perhatikan gambar berikut:
Dari gambar di atas, kita bisa melihat bahwa pada 1 Juli 2019 pukul 00:00 WIB, bentangan galaksi Bimasakti berada di langit atas kepala, membentang dari cakrawala barat daya hingga timur laut, dengan area jantungnya (rasi bintang Sagitarius) berada sekitar 40 derajat dari cakrawala barat.

Nah, cukup mudah, kan, untuk menemukannya? Kamu tinggal menyesuaikan saja ingin mengamati jam berapa dan ketika bentangan galaksi Bimasakti ada di ketinggian berapa.

Nantinya, hasil jepretan yang masih mentah bisa diolah di aplikasi pengolah gambar seperti Lightroom, Photoshop, dan sejenisnya. Pengolahan ini diperlukan untuk memperjelas hasil jepretan Bimasakti.

Itu dia panduan pengamatan bentangan galaksi Bimasakti untuk tahun 2019 ini. Semoga tahun ini bisa mengamatinya ya!


Foto: Martin Marthadinata
BERIKAN KOMENTAR ()