Supernova Penyebab Kepunahan Megalodon dan Kawan-kawannya

Ilustrasi. Kredit: IFLScience.com
Info Astronomy - Jutaan tahun yang lalu, lautan di Bumi didominasi oleh salah satu pemangsa terbesar dan paling menakutkan yang pernah ada: Megalodon, hiu monster sepanjang 18 meter. Namun, 2,6 juta tahun yang lalu, megalodon, bersama dengan lebih dari sepertiga makhluk laut besar yang hidup bersamanya, musnah oleh peristiwa kepunahan massal.

Sejak para peneliti menemukan bukti pertama dari bencana biologis ini, mereka telah mencoba untuk mencari tahu penyebab kepunahan massal tersebut. Salah satu teori berkata bahwa mungkin penyebabnya adalah perubahan iklim, teori lain berpendapat bahwa keserakahan sang megalodon sendirilah yang menghancurkan ekosistemnya sehingga ia mati.

Tapi, sebuah makalah penelitian baru yang diterbitkan bulan lalu di jurnal Astrobiology menawarkan penjelasan dari sisi astronomi: kepunahan massal itu terjadi akibat dari supernova.

Memang, rentetan sinar kosmik dari bintang yang meledak yang membombardir Bumi bukanlah masalah besar. Namun, dalam studi ini, para astronom memaparkan bahwa jumlah energi yang dilepaskan oleh rentetan supernova tersebut pernah cukup besar untuk menerobos atmosfer, menghujani megafauna prasejarah Bumi dengan sejumlah besar radiasi yang mematikan.

Supernova adalah peristiwa kosmis yang sangat besar, dan tergantung pada seberapa dekat supernova dengan Bumi, peristiwa kosmis tersebut bisa memiliki konsekuensi mulai dari bencana sampai yang tidak penting seperti hanya meradiasi Bumi.

Selama bertahun-tahun, para astronom memang telah mempelajari bagaimana supernova dapat mempengaruhi kehidupan di Bumi. Dan sekarang, sebuah studi akhirnya memberikan bukti spesifik yang menghubungkan supernova dengan peristiwa kepunahan megafauna laut Bumi.

Jadi, sekitar 2,6 juta tahun yang lalu, beberapa supernova yang terletak 150-160 tahun cahaya jauhnya dari Bumi diperkirakan meledak. Pada saat yang sama, ada juga peristiwa kepunahan di Bumi yang disebut kepunahan megafauna laut Pliosen. Peristiwa kepunahan tersebut membuat sepertiga spesies besar di laut Bumi mati, termasuk megalodon.

Menurut Universe Today, bukti dari hubungan antara supernova dan kepunahan tersebut adalah keberadaan partikel yang disebut muon. Ada pula kandungan besi radioaktif pada Bumi sejak sekitar 2,6 juta tahun yang lalu, yang disebut Besi 60.

Hemm, bagaimana bukti-bukti ini bisa dijelaskan?

Pertama-tama, mari kita bahas mengenai Besi 60. Besi 60 adalah isotop dari unsur besi. Isotop hanyalah sebuah atom dengan jumlah neutron yang berbeda dalam nukleusnya. Semua besi memiliki jumlah proton yang sama, 26, dan jumlah elektron yang sama, juga 26. Tetapi, jumlah neutronnya bisa bervariasi.

Sebagian besar besi di alam semesta, termasuk di Bumi, adalah Besi 56, yang mana Besi 56 memiliki inti stabil 26 proton dan 30 neutron. Karena Besi 56 stabil, artinya ia tidak radioaktif dan tidak bisa meluruh.

Tapi rupanya, para astronom juga menemukan adanya Besi 60 di Bumi, dengan nukleus yang tidak stabil yang mengandung 26 proton dan 34 neutron. Besi 60 ini radioaktif, dan dapat meluruh menjadi nikel. Ada residu Besi 60 pada waktu yang berbeda dalam catatan geologis Bumi, namun lonjakan besar Besi 60 tercatat terjadi sekitar 2,6 juta tahun yang lalu. Dari mana asalnya?

Lonjakan keberadaan Besi 60 pada 2,6 juta tahun yang lalu kemungkinan berasal dari luar Bumi. Dan karena ledakan supernova adalah satu-satunya peristiwa di alam semesta yang dapat menciptakan Besi 60, maka itulah jawabannya.

Tetapi, Besi 60 tidak membunuh megafauna lautan Bumi. Besi 60 memang radioaktif, tetapi bukan penyebab di balik kepunahan. Keberadaannya hanya sebagai bukti bahwa memang ada supernova yang terjadi pada saat yang sama dengan peristiwa kepunahan megalodon dan kawan-kawannya.

Tunggu... tunggu... Para astronom mengemukakan teori hanya dengan satu bukti? Oh, tentu tidak~

Ada bukti lain yang mendukung teori "kepunahan oleh supernova" itu, yakni keberadaan gelembung raksasa di luar angkasa.

Fitur ini disebut sebagai Gelembung Lokal, sebuah gelembung renggang yang berada pada medium antarbintang. Medium antarbintang adalah materi dan radiasi yang ada di ruang antara sistem bintang, di dalam galaksi. Pada dasarnya, Gelembung Lokal adalah gas, debu, dan sinar kosmis yang mengisi di ruang antara tata surya.

Nah, keberadaan Gelembung Lokal ini berasal dari ledakan supernova. Ketika supernova terjadi, energi dari ledakannya bisa mendorong segala materi antarbintang dan memanaskan materi tersebut, membentuk Gelembung Lokal yang bisa semakin membesar.

Sampai di sini, para astronom sudah memiliki bukti adanya Besi 60 dan Gelembung Lokal yang mendukung hubungan antara ledakan supernova dengan kepunahan megafauna laut pada era Pliosen. Lalu, bagaimana sebenarnya mekanisme kepunahan itu?

Adrian Melott, pemimpin studi ini dari Universitas Kansas, AS dan rekan-rekannya mengatakan, semua bermuara pada partikel sub-atomik yang disebut sebagai muon.

Ketika supernova menyebarkan Besi 60 dan mengarah Bumi, itu bukan satu-satunya hujan radiasi yang turun ke planet kita, melainkan ada juga muon. Muon dapat digambarkan sebagai "elektron berat". Dan meskipun kita sebenarnya sering menerima muon dari luar angkasa, kebanyakan dari partikel ini tidak berbahaya. Tetapi hal itu lain cerita ketika yang terjadi adalah bombardir radiasi.

Akibat bombardir radasi dari ledakan beberapa supernova, akan ada ratusan kali lebih banyak muon daripada biasanya. Saking banyaknya, partikel muon ini bisa menyebabkan terjadinya kanker, terutama ke hewan laut besar. Kanker itulah yang kemungkinan besar merupakan mekanisme terjadinya kepunahan besar.

Megalodon juga bukan satu-satunya spesies yang punah selama waktu itu. Dalam makalah penelitian yang sempat diterbitkan tahun 2017, para peneliti memaparkan kepunahan megafauna laut lainnya termasuk mamalia, burung laut, dan kura-kura.


Sumber:
BERIKAN KOMENTAR ()