Mengapa Waktu Terbit Matahari dan Bulan Berbeda?

Ilustrasi. Kredit: Riza/InfoAstronomy.org
Info Astronomy - Pernahkah kamu bertanya-tanya tentang bisakah Matahari dan Bulan terbit berbarengan sehingga kita bisa melihat keduanya di langit dalam waktu yang bersamaan? Atau ternyata waktu terbit keduanya memang selalu berbeda?

Dari kedua pertanyaan itu, dua-duanya ada benarnya. Matahari dan Bulan bisa terbit berbarengan, tapi di lain waktu bisa berbeda. Nah, apa sih sebabnya?

Matahari dan Bulan selalu terbit bersama setiap 29,53 hari, yakni pada fase Bulan Baru. Namun, pada saat itu, kita tidak bisa melihat keberadaan Bulan karena sisi gelapnya (yang tidak disinari Matahari) yang sedang menghadap ke arah Bumi.

Hanya pada fenomena gerhana Matahari total, cincin, atau parsial saja kita dapat melihat Matahari dan Bulan saling tumpang tindih. Bulan pada saat itu akan muncul sebagai siluet, menghalangi Matahari dalam pandangan dari Bumi.

Nah, selain saat fase Bulan Baru, Matahari dan Bulan tidak akan terbit berbarengan lagi.

Menurut Forbes Science, Bulan selalu telat terbit 50 menit setiap harinya. Hal itu tidak lain dan tidak bukan disebabkan karena Bulan mengorbit planet kita. Dengan begitu, sudut yang dibentuk antara Matahari, Bumi, dan Bulan selalu berubah.
Diagram Bulan. Kredit: Universetoday.com
Tapi, bukan hanya gerakan Bulan dalam mengelilingi Bumi saja yang membuat perubahan waktu terbitnya Bulan, melainkan ada fakta juga bahwa rotasi Bumi berputar lebih cepat daripada gerak revolusi Bulan terhadap Bumi.

Dari perpaduan antara rotasi Bumi dan revolusi Bulan ini, Bulan akan selalu bergerak ke arah timur rata-rata 13 derajat tiap harinya, inilah yang menyebabkan Bulan selalu telat terbit. 13 derajat itu setara dengan 50 menit, jadi Bulan selalu telat terbit 50 menit tiap harinya.

Karena gerak orbit Bulan mengelilingi Bumi, maka setiap harinya ia juga akan memiliki fase yang berbeda-beda. Contohnya, ketika Matahari dan Bulan terbit berbarengan, sudut yang dibentuk antara Matahari-Bulan-Bumi adalah 0 derajat, sehingga Bulan berada dalam fase Bulan Baru.

Seminggu kemudian, posisi Bulan sudah berubah lagi dalam orbitnya mengelilingi Bumi, membuat sudut yang dibentuk antara Matahari-Bulan-Bumi menjadi 90 derajat. Nah, pada saat itu, fase Bulan juga sudah berubah menjadi perbani awal (separuh). Di fase ini terbitnya Bulan sudah tidak berbarengan lagi dengan Matahari, melainkan baru terbit ketika Matahari tepat di atas kepala (sekitar pukul 12 siang).

Selanjutnya, seminggu setelah fase Bulan perbani awal, posisi Bulan sudah berubah lagi, kali ini Matahari-Bulan-Bumi membentuk sudut 180 derajat. Pada saat itu, fase Bulan adalah purnama, Bulan akan terbit tepat ketika Matahari terbenam.

Membuat Bulan Muncul di Langit Siang
Pernah melihat Bulan di langit yang sudah siang lalu terheran-heran karena Bulan seharusnya berada di malam hari saja?

Kenampakan Bulan di langit Bumi adalah selama 12 jam setiap harinya, dari mulai ia terbit sampai terbenam. Karena gerak orbit Bulan mengelilingi Bumi, waktu terbitnya bisa berubah-ubah seperti yang telah disinggung di atas.

Nah, hal itulah yang kadang membuat Bulan bisa terlihat di langit siang. Misalnya pada fase perbani awal, yang mana Bulan sudah terbit saat tengah hari. Pada fase itu, jangan heran bila kamu bisa melihat Bulan sudah tinggi di langit timur pada pukul 2 siang, karena memang ia sudah terbit sejak pukul 12 siang.

Atau ketika fase perbani akhir, tujuh hari setelah purnama, Bulan baru akan terbit saat tengah malam, sehingga membuatnya baru berada di langit atas kepala pada pukul 6 pagi. Di fase ini, jangan heran juga kalau kamu masih melihat Bulan di langit barat pada pukul 8 pagi, karena memang Bulan belum terbenam.

Mengapa Tak Selalu Gerhana?
Dari penjelasan di atas, kita bisa memahami bahwa Matahari dan Bulan bisa terbit berbarengan pada fase Bulan Baru. Tapi, mengapa bila berbarengan, peristiwa gerhana Matahari tidak selalu terjadi?
Miringnya Bulan. Kredit: Westminsterastro.net
Hal itu disebabkan oleh miringnya bidang orbit Bulan terhadap ekliptika. Kemiringan tersebut sekitar 5,14 derajat, sehingga ada kalanya walaupun Matahari-Bulan-Bumi berada segaris lurus, tetapi posisi Bulan tidak sampai menutupi Matahari dalam pandangan dari Bumi.

Karena kemiringan orbit Bulan itu, posisi Bulan saat fase Bulan Baru hanya berada beberapa derajat saja dari posisi Matahari, tidak benar-benar berada di depan wajah Matahari.

Nah, sampai di sini, sepertinya sudah bisa tuh membuang kalimat "Aku dan kamu bagaikan Matahari dan Bulan, tidak pernah terbit di waktu yang sama" dalam kamus galaumu. Karena, secara ilmiah, kedua benda langit ini bisa terbit dan terbenam bersama.
BERIKAN KOMENTAR ()