Wajib Lihat! Inilah Jadwal Peristiwa Langit Desember 2018

Kredit: Pexels.com
Info Astronomy - Akhirnya, tiba juga kita di penghujung tahun 2018. Telah banyak peristiwa langit yang terjadi di tahun ini, dan sebagai bulan penutup, Desember juga masih memiliki peristiwa langit yang menarik untuk diamati.

Apa saja peristiwa langit tersebut? Seperti biasanya, InfoAstronomy.org selalu menjadi yang pertama menyusun jadwal peristiwa langit tiap bulannya untukmu. Gaassss~

4 Desember 2018: Konjungsi Venus dengan Bulan
Mulai puku 04:00 dini hari waktu setempat daerahmu, planet Venus akan tampak berdekatan dengan Bulan sabit tua. Dalam pandangan dari Bumi, keduanya akan berdekatan 3°37' satu sama lain, walau sebenarnya mereka terpisah pada jarak yang sangat jauuuuuuuuh.

Dalam astronomi, peristiwa ini dikenal sebagai konjungsi, yang bisa diartikan sebagai "searah". Dengan kata lain, planet Venus dan Bulan akan tampak berada di arah langit yang sama dalam pandangan dari Bumi.

Saat konjungsi terjadi, cahaya Bulan akan mencapai magnitudo -10, sementara planet Venus akan mencapai magnitudo -4,6. Keduanya akan bertengger di depan rasi bintang Virgo. Oh iya, Venus hanya akan muncul bagaikan bintang paling terang bila kamu mengamatinya tanpa teleskop.
Kredit: Stellarium/InfoAstronomy.org
7 Desember 2018: Fase Bulan Baru
Secara astronomis, fase Bulan baru akan terjadi di tanggal ini pada pukul 14:22 WIB. Ketika mencapai fase ini, Bulan tidak teramati dari Bumi karena sudut elongasinya sangat berdekatan dengan Matahari, yang membuat bagian terangnya membelakangi Bumi.

Di fase Bulan baru, konfigurasi Bumi, Bulan, dan Matahari akan berada dalam satu garis lurus, dengan Bulan berada di tengah. Tapi, karena bidang orbit Bulan yang miring sekitar 5 derajat dari Bumi, gerhana Matahari tidak selalu terjadi.

9 Desember 2018: Konjungsi Saturnus dengan Bulan
Setelah bersanding dengan Venus, Bulan sabit muda akan menemani Saturnus di langit senja menjelang malam pada tanggal ini. Dalam pandangan dari permukaan Bumi, pasangan kosmis tersebut akan berada sejauh 2° satu sama lain.

Saturnus, karena jaraknya yang jauh dari Bumi, hanya akan muncul bagaikan bintang kuning terang di dekat Bulan saja. Kamu memerlukan teleskop dengan magnifikasi minimal 75x untuk bisa melihat Saturnus lebih jelas lengkap dengan cincinnya. Belum punya teleskop? Beli di InfoAstronomy Store atuh~
Kredit: Stellarium/InfoAstronomy.org
Untuk melihat konjungsi ini, amatilah langit barat mulai sekitar pukul 18:10 waktu setempat daerahmu. Pada saat itu, kamu akan melihat kedua benda langit ini berada pada ketinggian sekitar 17° di atas cakrawala barat. Mereka bisa terus diamati hingga 1 jam 34 menit setelah Matahari terbenam.

Cahaya Bulan sabit akan mencapai magnitudo -9 dan Saturnus mencapai magnitudo 0,4. Keduanya berada di depan rasi bintang Sagitarius.

9 Desember 2018: Hujan Meteor Puppid-Velid
15 meteor per jam bisa diamati pada puncak hujan meteor Puppid-Velid asalkan cuaca cerah dan lokasi pengamatan minim polusi cahaya. Mulailah pengamatan pada tengah malam sampai Matahari terbit. Meteor-meteor akan muncul dari arah rasi bintang Vela.

Puppid-Velid memang termasuk hujan meteor minor, namun peristiwa ini cukup aktif menghasilkan bola api, atau meteor yang sangat terang. Di mana pun kamu di Indonesia, bila cuaca cerah, kamu bisa mengamatinya tanpa bantuan alat semacam teleskop dan sejenisnya. Cukup berbaring dan amati langit saja.
Kredit: Stellarium/InfoAstronomy.org
14 Desember 2018: Fase Bulan Perbani Awal
Pada fase ini, Bulan akan tampak separuh dalam pandangan dari Bumi. Fase ini menandai posisi Bulan yang sudah berada sejauh 90 derajat dari posisi Matahari di langit Bumi. Secara astronomis, fase perbani awal akan terjadi pukul 18:51 WIB.

14 Desember 2018: Hujan Meteor Geminid
Inilah hujan meteor terbaik setiap tahunnya! Berasal dari debris yang ditinggalkan oleh asteroid 3200 Phaethon, hujan meteor Geminid bisa mencapai intensitas 50-100 meteor per jam, asalkan pengamatan dilakukan di lokasi yang gelap gulita tanpa cahaya dan cakung (cuaca mendukung~).

Titik radian hujan meteor ini tentu saja adalah rasi bintang Gemini. Titik radian tersebut akan berada pada ketinggian 42° di atas ufuk timur laut pada tengah malam. Dengan begitu, pengamatan Geminid cukup ideal dilakukan di Indonesia.
Kredit: Stellarium/InfoAstronomy.org
Tahun ini, Bulan juga masih berada di fase perbani awal saat puncak hujan meteor Geminid terjadi, sehingga ia sudah terbenam sebelum tengah malam, cahayanya tidak akan menjadi gangguan.

15 Desember 2018: Konjungsi Mars dengan Bulan
Planet Merah, yang baru-baru ini dikunjungi oleh wahana antariksa InSight milik NASA, bakal teramati sejauh 3° dari Bulan yang sudah mencapai fase cembung.

Pasangan benda langit ini akan terlihat mulai sekitar pukul 18:10 waktu setempat daerahmu. Keduanya akan berada pada ketinggian sekitar 80° di atas cakrawala barat pada saat itu. Mereka kemudian akan tenggelam ke cakrawala barat sekitar 5 jam 41 menit setelah Matahari terbenam, atau tepatnya pada pukul 23:40 waktu setempat daerahmu.
Kredit: Stellarium/InfoAstronomy.org
Pada saat konjungsi, mereka akan berada di depan rasi bintang Akuarius. Bulan akan bersinar dengan magnitudo -11,7 dan planet Mars dengan magnitudo 0,2.

16 Desember 2018: Puncak Kecerahan Komet 46P/Wirtanen
Komet ini digadang-gadang sebagai komet terbaik di tahun 2018, lho.

Pada tanggal ini, Komet 46P/Wirtanen diperkirakan mencapai puncak kecerahannya, dengan magnitudo visualnya yang diperkirakan akan mencapai +3,8 sampai +4,7, cukup terang untuk diamati dengan mata telanjang. Pada saat itu juga, komet ini akan terletak pada jarak 1,05 AU dari Matahari dan 0,07 AU dari Bumi, dengan 1 AU = 150 juta kilometer.

Dari Indonesia, komet ini akan terlihat mulai sekitar pukul 18:55 waktu setempat daerahmu, ketika ia berada setinggi 37° di atas ufuk timur laut. Kemudian, sang komet akan mencapai titik tertinggi di langit pada pukul 21:56 waktu lokal, 63° di atas cakrawala utara. Komet ini akan terus teramati sampai sekitar pukul 02:26 dini hari waktu lokal, ketika ia tenggelam ke ketinggian 19° di atas ufuk barat laut.

Komet ini lebih mudah lagi ditemukan karena akan tampak berada di dekat gugus bintang Pleiades!
Kredit: Stellarium/InfoAstronomy.org
Tentunya, penggunaan teleskop akan sangat membantu pengamatanmu.

22 Desember 2018: Solstis Desember
Hemm, apa itu solstis Desember? Apakah semacam asteroid ramalan suku Maya yang akan membuat Bumi kiamat? Tenang dulu, bukan kok.

Solstis Desember adalah peristiwa ketika gerak tahunan Matahari melalui rasi bintang zodiak mencapai titik paling selatan di langit, tepatnya di depan rasi bintang Kaprikornus yang terletak pada deklinasi 23,5° S.

Saat solstis Desember terjadi, wilayah-wilayah di belahan Bumi selatan akan mengalami siang hari yang lebih panjang dari biasanya. Sementara wilayah-wilayah di belahan Bumi utara akan mengalami malam hari yang lebih panjang. Solstis Desember juga seperti mengawali musim dingin di belahan utara dan musim panas di belahan selatan.

Peristiwa ini sendiri terjadi karena poros rotasi Bumi terhadap Matahari tidak tegak lurus, melainkan miring 23,5°. Kemiringan ini bisa menyebabkan salah satu belahan Bumi lebih condong tersinari Matahari daripada belahan Bumi lainnya, yang membuat Bumi memiliki musim yang bervariasi.

23 Desember 2018: Bulan Purnama
Tahun 2018 akan ditutup dengan peristiwa Bulan purnama ketigabelas, mengingat pada Januari kemarin terjadi dua kali Bulan purnama di mana yang kedua adalah Supermoon sekaligus gerhana Bulan total.

Secara astronomis, Bulan purnama Desember ini akan terjadi pukul 00:50 WIB. Walau begitu, kamu sudah bisa mengamatinya selepas Matahari terbenam di tanggal 22 Desember hingga Matahari terbit tanggal 23 Desember 2018.

Pada saat mencapai fase purnama, Bulan akan terletak pada deklinasi +21°07', di depan rasi bintang Orion. Jaraknya dari Bumi diperkirakan akan mencapai 363.000 kilometer jauhnya, sehingga akan muncul dengan diameter sudut selebar 32'52".

Nah, itulah jadwal peristiwa langit yang akan terjadi di sepanjang Desember 2018. Selamat mengamati sekaligus menyambut tahun yang baru~
BERIKAN KOMENTAR ()