Mengapa Ada Bintang di Alam Semesta?

Bintang-bintang. Kredit: Wikimedia
Info Astronomy - Tanpa bintang-bintang, alam semesta hanya akan terdiri dari hidrogen yang mengambang bebas. Kehidupan tidak mungkin terbentuk. Tapi, mengapa ada bintang di alam semesta?

Hemm, pertanyaan ini sering InfoAstronomy.org dapatkan melalui surel dari pembaca. Mengapa ada bintang? Apa fungsi dari bintang-bintang itu terhadap kehidupan di Bumi?

Untuk pertanyaan kedua, fungsinya adalah agar kamu bisa hidup. Bumi kita mendapatkan energi langsung dari Matahari yang merupakan salah satu bintang di alam semesta. Tanpa Matahari, Bumi tidak akan mendapatkan pasokan energi yang mencapai 99% itu, dan bahkan tidak bisa terbentuk mengingat planet terbentuk dari cakram akresi yang mengelilingi Matahari saat masih berusia muda miliaran tahun yang lalu.

Tidak ada planet, tidak ada kehidupan seperti yang kita kenal sekarang, secara ilmiah. Lalu, bagaimana dengan bintang-bintang yang lain?

Mari kita kenali dulu bagaimana bintang bisa ada di alam semesta. Diketahui, bintang terbentuk di dalam gas dan debu antarbintang yang relatif padat yang dikenal sebagai awan molekuler. Daerah ini sangat dingin (suhunya tepat di atas nol mutlak).

Pada suhu ini, gas dan debu tadi mengikat atom secara bersama-sama. CO dan H2 adalah molekul paling umum dalam awan gas dan debu antarbintang ini. Ketika pengikatan atom itu sudah cukup besar, gas dan debu akan menggumpal hingga memiliki kepadatan yang tinggi. Ketika kepadatan mencapai titik tertentu, cikal bakal bintang bisa mulai terbentuk.

Pembentukan bintang sejati akan dimulai ketika bagian padat dari inti awan molekuler tersebut runtuh di bawah gravitasi mereka sendiri. Inti ini biasanya memiliki massa sekitar 104 kali massa Matahari dalam bentuk gas dan debu.

Inti tersebut lebih padat daripada awan molekuler di luarnya, membuat mereka runtuh lebih dulu. Ketika inti runtuh, mereka terpecah, berpisah menjadi objek-objek individual dengan ukuran sekitar 0,1 parsecs dan massanya 10 hingga 50 massa kali massa Matahari. Gumpalan dari pecahan ini kemudian terbentuk menjadi protobintang.
Proses pembentukan protobintang. Kredit: Univ. Oregon
Proses runtuhnya awan molekuler hingga menjadi protobintang diketahui memakan waktu hingga setidaknya 10 juta tahun. Lantas, bagaimana kita tahu proses ini terjadi jika butuh waktu yang begitu lama?

Untungnya, sebagian besar inti pada sebuah awan molekuler ini memancarkan radiasi inframerah. Radiasi inframerah itu berasal dari energi yang dikeluarkan oleh protobintang. Dengan teknologi berupa teleskop radio, para astronom dapat mengamatinya walau terhalang awan molekuler yang gelap.

Kembali lagi ke protobintang, ketika protobintang berhasil terbentuk, elemen gas padanya akan jatuh tertarik gravitasi ke intinya. Gas yang jatuh itu akan melepaskan energi kinetik dalam bentuk panas dan tekanan, membuat inti protobintang menyala, bintang muda pun terbentuk.

Sementara itu, sisa debu dari awan molekulernya akan mengelilingi sang bintang muda tadi, membentuk cakram akresi yang pada akhirnya akan berevolusi menjadi planet-planet yang mengelilingi sang bintang.

Nah, sampai di sini, kita sudah mengetahui sedikit bagaimana bintang terbentuk. Alasan ilmiah mengapa ada bintang di alam semesta adalah karena keberadaan awan molekuler tadi. Alam semesta dipenuhi oleh awan molekuler yang terdiri atas hidrogen, membuat bintang-bintang sangat mudah terbentuk.

Masih penasaran dengan fungsi bintang-bintang bagi manusia? Hemm, tampaknya keberadaan benda langit tidak melulu tentang atau untuk kita. Bisa saja bintang-bintang (selain Matahari) dianggap tidak terlalu berguna bagi manusia, tetapi di bintang tersebut ada planet yang berisi kehidupan. Kehidupan di sana akan memerlukan energi dari bintangnya.

Ya, walaupun memang belum terbukti (atau kita belum bisa menemukan) kehidupan asing itu, setidaknya dari sekian banyak bintang di alam semesta, apakah memang kita hanya sendiri saja?

Lagi pula, bintang-bintang dulu cukup berguna bagi manusia. Nenek moyang kita sempat merangkai bintang-bintang ke dalam bentuk rasi bintang. Nah, beberapa rasi bintang ada yang digunakan sebagai penunjuk arah di kala melaut pada malam hari, sebagai tanda pergantian musim, atau ada pula sebagai tanda mulai menanam atau mulai panen.

Bila ditanya "manfaatnya apa", mungkin hal itu memang tidak berlaku untuk alam semesta. Semua benda di alam semesta ya memang ada di sana saja. Kita sebagai manusia hanya memiliki kesempatan untuk mempelajarinya.

Seharusnya, pertanyaannya diubah seperti: Bagaimana manusia bisa mengambil manfaat dari keberadaan bintang, planet, dan bahkan galaksi di alam semesta untuk kehidupan yang lebih maju?
BERIKAN KOMENTAR ()