Para Astronom Temukan Air di Atmosfer Planet Asing

Ilustrasi. Kredit: Shutterstock
Info Astronomy - Mengumpulkan informasi yang rinci mengenai sebuah planet asing merupakan hal yang sangat sulit. Ditambah lagi, cahaya dari bintang induknya akan sangat mendominasi, membuat para astronom belum mampu melihat planet dengan jelas melalui teleskop.

Namun, baru-baru ini, sekelompok astronom menggunakan teknologi termutakhir di Observatorium Keck, Hawaii, telah melakukan sebuah lompatan besar dalam pengamatan planet asing: mereka sukses mendeteksi air di atmosfer planet yang berjarak 179 tahun cahaya jauhnya dari Bumi.

Planet tersebut berada di sebuah sistem bintang yang dikatalogkan sebagai HR 8799. Bintang tersebut diketahui dikelilingi oleh empat planet, yang masing-masing dinamai sebagai HR 8799 b, HR 8799 c, HR 8799 d, dan HR 8799 e. Mereka semua berada di arah rasi bintang Pegasus dalam pandangan dari Bumi.

Bintang HR 8799 sendiri merupakan jenis bintang deret utama mirip Matahari. Namun, dari data spektrumnya, diperkirakan bahwa bintang ini telah berusia 30 juta tahun, masih lebih muda daripada Matahari yang sudah berusia 5 miliar tahun.

Temuan planet yang mengelilingi bintang HR 8799 sebenarnya telah diumumkan sejak tahun 2008. Kala itu, para ilmuwan mengumumkan bahwa mereka telah secara langsung mengamati tiga planet asing, yakni HR 8799b, c, dan d, menggunakan teleskop Keck. Kemudian pada tahun 2010, barulah diumumkan penemuan planet keempat, HR 8799 e.
Sistem bintang HR 8799. Kredit: Observatorium Keck
Nah, pengumuman keberadaan air pada sistem bintang ini pun berdasarkan data ilmiah yang telah dikumpulkan sejak tahun 2008 tersebut. Keberadaan air tidak ada di semua planet, melainkan hanya ada di planet HR 8799 c.

Lantas, apakah planet ini menjadi laik huni karena memiliki air? Tampaknya tidak. HR 8799 c merupakan sebuah planet raksasa gas mirip Jupiter yang memiliki massa sekitar 7 kali massa Jupiter. Sang planet diketahui mengorbit bintang  HR 8799 setiap 200 tahun sekali.

Melalui pencitraan langsung terbaru ini, keberadaan air di atmosfer planet HR 8799 c terkonfirmasi. Selain itu, planet ini juga diketahui memiliki sedikit metana di atmosfernya, sesuatu yang aneh bila dibandingkan planet raksasa gas lainnya.

Penemuan ini berhasil dilakukan berkat kombinasi kuat dari dua teknologi teleskop Keck, yakni teknologi optik adaptif dan pengamatan spektroskopi beresolusi tinggi.

Optik adaptif dapat menghilangkan efek buram akibat keberadaan atmosfer Bumi, sementara itu sspektrometer pada teleskop Keck 2, yang disebut Near-Infrared Cryogenic Echelle Spectrograph (NIRSPEC), merupakan spektrometer beresolusi tinggi yang bisa mengamati benda langit dalam cahaya inframerah.
Ilustrasi perbandingan planet-planet HR 8799. Kredit: Keck Observatory
Menurut Dimitri Mawet, profesor astronomi di Institut Teknologi California yang juga seorang astronomi di Jet Propulsion Laboratory NASA, jenis teknologi pengamatan inilah yang diinginkan para astronom untuk digunakan di masa yang akan datang untuk mencari tanda-tanda kehidupan di planet asing mirip Bumi.

Untuk sampai pada kesimpulan adanya air di atmosfer planet HR 8799 c, para astronom telah menganalisis gambar-gambar yang diperoleh. Karena sekali gambar planet asing berhasil diperoleh, para astronom dapat menggunakan instrumen yang disebut spektrometer untuk memecah cahaya dari sang planet, seperti prisma yang mengubah sinar Matahari menjadi pelangi, sehingga bisa mengetahui komposisi kimianya.

Saat ini, para astronom berencana melakukan hal yang sama dengan penelitian terhadap planet HR 8799 c ini ke planet yang lebih kecil dan yang lebih dekat dengan bintang mereka (semakin dekat planet dengan bintangnya dan semakin kecil ukurannya). Para astronom berencana untuk mengamati planet-planet yang berbatu mirip Bumi.

Tentu saja, tujuan utama dari penelitian semacam ini adalah untuk mencari komposisi kimia di atmosfer planet-planet asing mirip Bumi yang mengorbit di "zona laik huni" bintang induknya, yang mungkin mengindikasikan kehidupan asing luar Bumi.

Hasil penelitian ini bisa dibaca di Astrophysical Journal.
BERIKAN KOMENTAR ()