Selamat Tinggal, Teleskop Antariksa Kepler!

Ilustrasi. Kredit: NASA
Info Astronomy - Kepler, teleskop antariksa milik NASA, baru-baru ini telah mengirim data terakhirnya ke Bumi. Para ilmuwan proyek misi Kepler bahkan sudah menghentikan aktivitas teleskop yang berbasis di luar angkasa itu sejak bulan lalu ketika bahan bakarnya mulai habis.

Sejak September 2018, untuk menghemat bahan bakar, para ilmuwan misi Kepler mengaktifkan "mode hibernasi". Kepler tidak bekerja mengamati alam semesta lagi sejak saat itu. Ia hanya ditugaskan untuk mengirimkan data-data terakhirnya ke Bumi menggunakan sisa bahan bakarnya.

Inikah saatnya mengucapkan selamat tinggal? Memang, ditinggal suatu hal yang dicinta sangatlah berat. Termasuk apa yang dialami oleh para ilmuwan misi Kepler. Sebelum adanya teleskop antariksa Kepler, para astronom tidak banyak mengetahui planet-planet asing luar surya, kebanyakan yang diketahui hanya planet raksasa gas yang tidak nyaman karena berjarak dekat dengan bintang induknya.

Namun, dengan adanya misi Kepler, jumlah penemuan planet asing bertambah hingga ribuan. Planet-planet yang ditemukan juga memilik ukuran yang bervariasi. Mulai dari planet asing seukuran Bumi, hingga planet yang sedikit lebih besar dari Jupiter.

Keberhasilan teleskop antariksa Kepler adalah sebuah pencapaian tersendiri bagi William Borucki, ilmuwan NASA yang berjuang untuk membujuk lembaga antariksa tersebut untuk membangun Kepler.

Teleskop yang ditempatkan pada jarak lebih dari 150 juta kilometer dari Bumi di luar angkasa itu dengan canggihnya berhasil menemukan banyak planet yang mengitari bintang-bintang lain. Membuat manusia belajar bahwa Bumi hanya satu dari miliaran planet di galaksi.

Kala itu, ketika sedang membujuk NASA, Borucki memaparkan bagaimana cara kerja sebuah teleskop antariksa untuk menemukan planet asing. Menurutnya, planet-planet bisa ditemukan ketika mereka melintas di depan bintang induknya dalam pandangan dari Bumi, yang mana peristiwa itu bisa menghalangi sebagian kecil dari cahaya bintangnya.

Benar saja. Ribuan planet asing langsung ditemukan, dikonfirmasi, dan dipelajari lebih lanjut. Walau begitu, usulan Borucki sempat ditolak empat kali sebelum NASA akhirnya menyetujui misi tersebut pada 2001.

Misi Kepler yang menghabiskan biaya 692 juta dolar AS tersebut pun akhirnya diluncurkan pada tahun 2009. Teleskop antariksa tersebut didesain dengan memiliki cermin 1,4 meter dan kamera 95 megapiksel, kualitas terbesar dan terbaik pada saat itu.

Kepler diarahkan untuk menatap pada bidang langit yang sama, kira-kira sebesar kepalan tangan, untuk secara bersamaan memantau kecerahan 150.000 bintang di bidang langit tersebut. Sampai saat ini, telah ada 2.650 planet asing yang dikonfirmasi keberadaanya, dan hampir 3.000 lebih lainnya yang masih menunggu konfirmasi.

Di antara hasil temuan Kepler itu, 30 di antaranya adalah planet berbatu, semuanya kurang dari dua kali ukuran Bumi, mengorbit di zona laik huni bintang induknya di mana air dalam bentuk cair bisa saja ada di permukaannya. Berkat Kepler, para astronom memperkirakan bahwa galaksi Bimasakti paling tidak memiliki 100 miliar planet.

Penemuan planet-planet oleh Kepler terjadi begitu cepat dan hebat. Beberapa tahun awal setelah misi itu berjalan, tim Kepler akhirnya membuka akses eksklusif kepada para ilmuwan lain di luar AS untuk menggunakan data Kepler.

Namun, semua tidak berjalan mulus. Pada tahun 2013, dua dari empat giroskop yang digunakan untuk mengarahkan teleskop antariksa Kepler ke bidang pandang tertentu rupanya rusak, membuat ia hanya bisa mengarah ke bidang yang itu-itu saja. Laju penemuan planet asing oleh Kepler pun mulai melambat sejak saat itu.

Dan saat ini, sembilan tahun setelah peluncurannya, Kepler mulai kehabisan bahan bakar.

Isi Ulang Bahan Bakar
Mengapa tidak isi ulang saja bahan bakar Kepler agar kembali aktif? Mungkin pertanyaan itu ada di benakmu saat membaca artikel ini. Tapi, hal itu tampaknya percuma.

Kepler berada sangat jauh dari Bumi. Butuh biaya yang sangat besar apabila ingin mengirimkan astronot lengkap dengan bahan bakar baru untuk isi ulang Kepler.

Ditambah lagi, NASA akan membutuhkan sistem peluncuran baru untuk mencapai ke Kepler. Sebuah pesawat antariksa yang mengangkut astronot dan bahan bakar untuk Kepler harus mampu melarikan diri dari orbit Bumi, dan kemudian memperlambat dirinya untuk masuk ke orbit Kepler, dan kemudian berlabuh dengannya, lalau (entah bagaimana) mentransfer bahan bakar.

Kepler sendiri tidak dirancang untuk bisa diisi ulang bahan bakar. Jadi, daripada repot-repot mengisi ulang bahan bakarnya, NASA lebih memilih untuk mengembangkan sebuah teleskop antariksa baru pengganti Kepler.

Selamat tinggal, Kepler. Terima kasih banyak!
BERIKAN KOMENTAR ()