Di Mana Batas Antariksa Dimulai?

Bumi dari luar angkasa. Kredit: ESA/NASA/CSA
Info Astronomy - Kamu mungkin sering membayangkan bahwa antariksa atau luar angkasa sebagai suatu tempat yang letaknya sangatlah jauh, terkadang mungkin juga terbayang akan tempat yang gelap dan hampa udara di mana tidak ada makhluk hidup yang sanggup bertahan hidup tanpa adanya peralatan khusus.

Tapi, ya, memang benar sekali, antariksa merupakan suatu tempat, atau mungkin lebih tepatnya suatu “kekosongan” yang terhampar di antara asteroid, planet, dan benda-benda kosmis lainnya. Namun pernahkah kamu penasaran, sebenarnya mulai dari ketinggian berapa suatu wilayah bisa disebut sebagai antariksa atau luar angkasa? Apakah ada batasan jelasnya?

Nah, artikel ini akan membahas mengenai batasan-batasan yang telah ditentukan berdasarkan pendapat-pendapat di dunia tentang titik batas dimulainya antariksa.

Permulaan dari aktivitas keantariksaan manusia bisa dibilang dimulai dari masa Perang Dingin, di mana pada saat itu Amerika Serikat dan Uni Soviet berlomba-lomba mengembangkan teknologi penerbangan antariksanya.

Tapi, setelah Perang Dingin usai, ternyata isu program keantariksaan tidak ikut-ikutan berakhir, malah dengan semakin berkurangnya ketegangan dunia yang dulunya diakibatkan oleh Perang Dingin, isu program keantariksaan semakin menyebar dan berkembang ke seluruh dunia.

Negara-negara yang sebelumnya belum pernah terlibat secara langsung dalam aktivitas keantariksaan seperti India, Afrika Selatan, Tiongkok, dan bahkan Indonesia, menjadi negara-negara yang aktif dalam mengembangkan program keantariksaan, dan dengan semakin banyaknya pihak yang terlibat dalam aktivitas keantariksaan, semakin banyak pula masalah-masalah baru yang muncul.

Masalah-masalah tersebut di antaranya seperti perbedaan referensi dalam studi gravitasi, pengklasifikasian suatu pesawat sebagai wahana antariksa, arahan terbang bagi para astronot ketika berada di luar angkasa, perbedaan pendapat studi batas-batas udara (seperti atmosfer dan stratosfer), dan saling tindihnya kebijakan negara yang satu dengan negara yang lainnya mengenai batas udara.

Lantas, dari berbagai macam permasalahan yang muncul dari semakin ramainya “aktor” aktivitas keantariksaan, solusi apa yang dapat dijadikan sebagai jawaban? Salah satunya adalah dengan adanya delimitasi antariksa.

Hemm, apa itu?

Delimitasi antariksa adalah penetapan batas antariksa, yang mana sangat diperlukan karena dengan adanya pembatasan yang jelas mengenai di mana dimulainya antariksa kita bisa lebih efisien dan efektif dalam menjalankan suatu program keantariksaan. Saat ini batasan antariksa yang umumnya dipakai oleh pihak-pihak yang terlibat dalam aktivitas keantariksaan adalah Garis Kármán.

Garis Kármán merupakan batas ketinggian dimulainya antariksa yang dicetus oleh seorang fisikawan Hungaria, Theodore von Kármán. Garis Kármán dimulai dari ketinggian 100 kilomter di atas permukaan Bumi. Theodore von Kármán menetapkan ketinggian ini sebagai batas dimulainya antariksa karena berdasarkan penelitiannya pada ketinggian tersebut hukum alam terkait aeronautika tidak lagi berlaku.

Selain alasan itu, dinukil dari Popular Science, penetapan Garis Kármán sebagai batas antariksa didukung oleh seorang peneliti NASA, Paul Newman, yang menambahkan bahwa di atas ketinggian lebih dari 100 kilometer dari permukaan Bumi, unsur-unsur gas seperti nitrogen dan oksigen mengalami pemisahan molekul, sehingga menandakan ruang yang hampa udara, NASA kemudian menyebutkan fenomena pemisahan molekul ini sebagai fenomena “homopause”.

Tapi, pembatasan berdasarkan Garis Kármán rupanya tidak cukup untuk menjadi jawaban mutlak dalam menentukan batas antariksa, karena masih ada alasan lain yang menjadi ganjalan jika kita menetapkan Garis Kármán sebagai batas dimulainya antariksa, salah satunya adalah anggapan umum yang menyatakan bahwa batas akhir atmosfer adalah titik mulai dari antariksa.

Atmosfer terdiri dari lima lapisan, yaitu troposfer, stratosfer, mesosfer, termosfer, dan eksosfer. Umumnya, dilansir Space.com, para ilmuwan memiliki pendapat yang berbeda-beda mengenai batas atmosfer, ketebalan rata-rata dari total atmosfer Bumi adalah mencapai ketinggian sekitar 480 kilometer di atas permukaan Bumi, oksigen menjadi sangat tipis jika melebihi dari batas ketinggian tersebut.

Namun, atmosfer tidak berhenti di ketinggian itu. Eksosfer, lapisan terakhir dari atmosfer, memiliki ketinggian hingga sekitar 10,000 kilometer di atas permukaan Bumi. Nah, dari sini kita bisa ketahui, terdapat selisih yang sangat jauh antara batas ketinggian yang ditetapkan dalam Garis Kármán dengan batas akhir dari atmosfer Bumi.

Jika sebagian besar negara di dunia mengakui Garis Kármán sebagai batasan yang sah dalam menentukan mulainya batas antariksa, berarti apakah selama ini negara-negara tersebut keliru? Lantas bagaimana dengan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) yang terbang di ketinggian sekitar 408 kilometer dari permukaan Bumi, apakah ISS bukan sebuah wahana antariksa dikarenakan masih berada dalam atmosfer?

Tahan dulu, rupanya pembahasan mengenai pembatasan wilayah udara dan batas antariksa tidak berhenti di pendekatan saintifiknya saja, melainkan terdapat pertimbangan dari pendekatan yang lain, yaitu pendekatan fungsional.

Pendekatan fungsional dalam pembatasan antariksa adalah pendekatan yang menekankan pada sifat dan fungsi dari program keantariksaan, jadi artinya pertimbangan yang diambil dalam pendekatan ini didasari oleh kepentingan negara yang berkaitan dalam penggunaan aspek-aspek keantariksaan.

Contoh dari penerapan pendekatan fungsional ini adalah dengan adanya istilah-istilah "sub-orbital spaceflight" dan "low-Earth orbit spaceflight". Wahana-wahana antariksa yang termasuk dalam dua kategori tersebut seperti ISS dan Soyuz 18-a, tetap dianggap sebagai wahana antariksa meskipun ketinggian terbangnya tidak melewati batas maksimal atmosfer.

Hal ini dikarenakan negara-negara yang menggunakannya telah menetapkan wahana-wahana tersebut sebagai bagian dari kepentingan eksplorasi keantariksaan, tanpa memandang setinggi mana atmosfer berlaku.

Ini pun kemudian menjadi akar dari berbagai permasalahan yang telah disebutkan terkait pembatasan antariksa, negara-negara di dunia memiliki pegangan yang beda akan batas antariksa, sebagian ada yang menggunakan batas akhir atmosfer, sebagian besar juga mengandalkan Garis Kármán, bahkan ada juga yang tidak mementingkan batas antariksa, seperti Amerika Serikat.

Balik lagi ke pertanyaan awal, di manakah batas antariksa dimulai? Yah, ternyata hingga saat ini kita masih belum bisa menemukan jawaban yang mutlak, masing-masing pihak memiliki penetapan batas antariksa yang berbeda-beda, di forum internasional pun perdebatan mengenai isu ini belum selesai, dan sepertinya akan terus berlangsung.


Ditulis oleh: Mohammed Dean Syahreza
BERIKAN KOMENTAR ()