Lupakan Mars, Mari Menjelajah Bulan!

Ilustrasi. Kredit: Shutterstock
Info Astronomy - Harapan untuk berkunjung ke Mars tampaknya harus dilupakan sejenak. Mengingat Mars yang belum laik huni bagi manusia ditambah adanya penelitian baru-baru ini yang meragukan gagasan untuk teraformasi planet Merah, kita tampaknya harus lebih dulu menjelajah Bulan.

Pada tahun 1966, manusia pertama kalinya mampu mengirim wahana antariksa yang mendarat di permukaan Bulan. Adalah Rusia yang sukses mendaratkan wahana antariksa Luna 9. Misi wahana antariksa tersebut sukses mengungkap lanskap Bulan yang tandus dalam detail tinggi untuk pertama kalinya.

Sejak keberhasilan Luna 9 itu, era antariksa dimulai, ada lebih dari 60 misi sukses ke Bulan, termasuk delapan misi berawak. Yang paling terkenal adalah Apollo 11 pada bulan Juli 1969 yang menjadi awal manusia untuk menginjakkan kaki di Bulan.

Berhasil mendarat di Bulan tak lantas membuat manusia puas kala itu. Lembaga-lembaga antariksa milik negara-negara maju di dunia pun saling berlomba untuk menuju ke benda antariksa lainnya: Mars.

Berbagai macam wahana antariksa, mulai dari wahana penjelajah seperti robot Curiosity hingga wahana pengorbit seperti Mars Express, diluncurkan untuk dikirim ke Mars. Penelitian terhadap planet tetangga itu bahkan lebih intens daripada penelitian lautan Bumi.

Tapi kini, perlahan manusia mulai sadar. Menjelajah Mars dalam misi berawak belum bisa dilakukan, terlebih dengan teknologi yang ada sekarang. Masih banyak keterbatasan teknologi yang membuat misi pendaratan manusia di Mars mandeg.

Dan tampaknya, kita memang harus melupakan Mars dulu, dan kembali ke Bulan.

Berikut ini, ada beberapa alasan ilmiah mengapa kita harus menjelajahi Bulan dulu, baru bisa menjadikan Mars sebagai destinasi tempat huni baru.

Membangun Basis Luar Angkasa

Untuk mengatasi tarikan gravitasi dan berkunjung ke objek lain di ruang angkasa, kamu perlu mencapai kecepatan tertentu. Dalam kasus ini, perjalanan ke Mars dari permukaan Bumi memerlukan kecepatan total minimum hampir 13 kilometer per detik. Dengan kata lain, perjalanan ke Mars dari Bumi membutuhkan roket besar, berton-ton bahan bakar, dan manuver orbital yang rumit. Tapi, kita bisa memanfaatkan Bulan!

Karena tarikan gravitasi Bulan yang lebih lemah (dibandingkan Bumi), perjalanan ke Mars dari permukaan Bulan akan "hanya" membutuhkan kecepatan 2,9 kilometer per detik, atau kira-kira sepertiga dari kecepatan yang diperlukan untuk mencapai Stasiun Luar Angkasa Internasional dari Bumi.

Selain itu, Bulan juga memiliki kekayaan sumber daya mineral, termasuk logam berharga dan bahan bakar untuk roket, yang bisa diproduksi dengan memecah air es di Bulan menjadi bahan bakar hidrogen dan oksigen.

Mineral troilit, senyawa besi-belerang yang langka di Bumi, juga hadir di kerak bulan. Sulfur dari troilit dapat diekstraksi dan dikombinasikan dengan tanah Bulan untuk menghasilkan bahan untuk mendirikan bangunan yang lebih kuat dari semen, yang berarti pemukiman di Bulan dapat dibangun menggunakan material lokal. Tak perlu repot-repot membawanya dari Bumi.

Membangun basis luar angkasa di Bulan untuk memulai misi luar angkasa secara besar-besaran akan sangat menguntungkan, memungkinkan kita untuk menjelajahi tata surya dengan biaya lebih rendah dan usaha yang lebih ringan.

Untuk Energi Masa Depan

Fusi nuklir, proses yang membuat bintang bisa bersinar, dapat menyediakan pasokan energi untuk masa depan kita. Reaktor fusi masa depan akan menggunakan Helium-3, versi lebih ringan dari helium yang digunakan dalam balon pesta.

Namun, isotop Helium-3 ini langka di Bumi, tetapi berlimpah di Bulan. Dan menariknya, kita bisa menambang isotop tersebut di sana, mengolahnya, dan mengirimkannya kembali ke Bumi atau untuk energi pemukiman manusia di Bulan di masa mendatang.

Bulan. Kredit: Wikimedia Commons

Bulan Cukup Aman

Bulan adalah dunia yang tidak aktif. Bahkan, tidak ada perubahan geologis besar yang terjadi di Bulan dalam tiga miliar tahun terakhir. Tidak seperti di Bumi, yang mana ada perubahan geologis seperti hujan, pasang surut, angin, maupun pertumbuhan tanaman.

Dengan kata lain, Bulan cukup aman untuk mendirikan pemukiman. Selain itu, lanskap Bulan bisa membuat kita untuk meneliti mengenai sejarah Bulan itu sendiri serta sejarah tata surya.

Mengamati Alam Semesta

Kepadatan atmosfer Bulan sangat tipis, 10 triliun kali lebih tipis dari atmosfer Bumi. Minimnya atmosfer ini menyediakan kondisi sempurna untuk mendirikan observatorium dalam spektrum elektromagnetik di permukaan Bulan. Sebuah kesempatan besar untuk mengamati alam semesta, bukan?

Atmosfer dengan kepadatan minim ini juga membuat teleskop sinar-X atau teleskop sinar gamma berbasis darat dapat bekerja lebih baik. Selama ini, manusia membuat teleskop sinar-X dan sinar gamma sebagai satelit yang mengorbit Bumi. Tapi bila kedua jenis teleskop itu dibangun di Bulan, kita bisa mengoperasikannya dengan mudah.

Manusia di Ruang Angkasa

Salah satu rintangan utama untuk misi ke Mars adalah memahami bagaimana kesehatan manusia dipengaruhi oleh perjalanan jangka panjang melalui ruang angkasa. Jika ada sesuatu yang tidak terduga terjadi, maka penyelamatan baru bisa dilakukan lebih dari dua tahun lagi (jika kamu pernah menonton film "The Martian" [2015] mungkin tahu akan hal ini).

Dengan mengunjungi Bulan terlebih dahulu, manusia bisa mengembangkan teknologi dan pengalamannya, eksplorasi ke Mars atau ke benda antariksa yang lebih jauh nantinya akan jauh lebih praktis. Jika ada sesuatu yang tidak terduga terjadi di Bulan, maka penyelamatan hanya butuh tiga hari. Jauh lebih singkat.

Bagaimana? Bulan tampaknya cukup menjanjikan untuk menjadi "batu loncatan" misi ruang angkasa yang lebih besar, kan? Mari lupakan dulu Mars, dan jelajahi Bulan!
BERIKAN KOMENTAR ()