Pulsar dan Magnetar: Sama Tapi Beda

Ilustrasi pulsar. Kredit: NASA/JPL-Caltech
Info Astronomy - Bagaikan saudara kembar yang mirip atau sama tapi berbeda karakteristik, seperti itulah pulsar dan magnetar, dua tipe bintang yang sudah berada dalam tahap akhir kehidupannya. Tapi, sudah tahukah kamu siapa mereka?

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa dua jenis bintang eksotis tersebut mungkin merupakan satu jenis bintang yang sama, tetapi memiliki perbedaan pada berbagai tahap kehidupannya.

Baik pulsar dan magnetar, keduanya adalah jenis bintang neutron. Bintang neutron adalah inti sisa dari bintang yang jauh lebih besar kehabisan bahan bakar lalu meledak dalam supernova. Gravitasi dari peristiwa eksplosif itu memadatkan inti bintang itu menjadi objek seukuran kota Jakarta, namun dengan massa yang besar. Bayangkan saja, satu sendok teh material dari bintang neutron bisa memiliki massa sebesar Gunung Rinjani.

Bintang neutron berputar supercepat, mulai dari 10 kali per detik hingga 700 kali per detik. Beberapa bintang neutron ada yang dikenal sebagai pulsar radio, yakni yang memancarkan gelombang radio seperti jam.

Pulsar juga memiliki medan magnet yang kuat, meskipun tidak sekuat yang ditemukan di magnetar. Magnetar sendiri memiliki medan magnet paling kuat yang diketahui di alam semesta, bahkan sampai beberapa triliun kali lebih kuat dari medan magnet Matahari kita. Magnetar juga mengirimkan ledakan sinar-X dan sinar gamma secara ekstrem.

Sejak tahun 1970-an, para ilmuwan telah sepakat membedakan pulsar dan magnetar sebagai dua jenis objek. Namun, dalam satu dekade terakhir, bukti-bukti yang muncul menunjukkan bahwa mereka kadang-kadang bisa menjadi bagian dari tahap dalam evolusi suatu objek tunggal.

Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa magnetar secara bertahap bisa berhenti memancarkan sinar-X dan sinar gamma dari waktu ke waktu, sehingga pada akhirnya menjadi pulsa. Ilmuwan lain mengusulkan teori yang berlawanan: bahwa pulsar radio terbentuk lebih dulu, dan kemudian, seiring waktu, medan magnet muncul sehingga menyebabkan ia berevolusi menjadi magnetar.

Tidak ada yang tahu pasti skenario mana yang benar, tetapi para astronom akan terus berusaha mencari jawabannya dari penelitian-penelitian yang akan dilakukan di masa mendatang.
BERIKAN KOMENTAR ()