Planet Asing: Untuk Dikunjungi atau Cukup Dipelajari?

Ilustrasi. Kredit: NASA Ames/JPL-Caltech
Info Astronomy - Gambar di atas merupakan ilustrasi dari planet ekstrasurya Kepler-452b, planet ekstrasurya pertama yang ditemukan mengorbit bintang mirip Matahari. Dijuluki sebagai bumi super, planet ini memiliki ukuran sekitar 60% lebih besar dari Bumi, yang merupakan alasan utama mengapa kita tidak ingin mengirim misi berawak ke sana.

Meskipun jumlah total planet asing yang diketahui saat ini mendekati angka sekitar 4.000, rupanya kebanyakan dari mereka adalah planet raksasa gas. Hanya sebagian kecil dari katalog planet asing ini yang merupakan planet berbatu, dan bahkan planet yang mirip Bumi masuk dalam subkategori yang lebih kecil lagi.

Mirip Bumi di sini memiliki arti bahwa planet-planet tersebut berada di orbit yang stabil di zona laik huni sekitar bintang induknya, memiliki atmosfer, dan memiliki air dalam bentuk cair pada permukaannya. Namun demikian, sampai saat ini tidak ada "planet mirip Bumi" dengan massa yang sebanding dengan Bumi kita sendiri.

Dalam makalah penelitian yang ditulis oleh ilmuwan warga asal Jerman, Michael Hippke, yang berafiliasi dengan Observatorium Sonnenberg di Jerman, ia menggunakan planet asing Kepler-452b sebagai contoh untuk menjelaskan mengapa mungkin kita tidak perlu untuk mengirim misi berawak ke planet tersebut.

Pada dasarnya, makalah itu menjelaskan mengenai skenario apa yang mungkin akan menantang umat manusia yang dikirim ke planet berbatu super masif tersebut. Seperti misalnya sumber daya roket. Di Bumi saja, membuat roket untuk membawa muatan kecil ke orbit biayanya sangat mahal, terlebih dalam hal pengeluaran bahan bakar dan energi.

Misalnya saja, untuk mencapai orbit Bumi, roket peluncur harus memiliki massa antara 50 hingga 150 kali lipat dari muatan, dan itu belum termasuk bahan bakarnya.

Bila kita nantinya mengunjungi planet asing Kepler-452b yang massanya 9,7 kali lebih besar dari Bumi, akan dibutuhkan setidaknya 55.000 ton bahan bakar untuk mencapai orbit Kepler-452b dari permukaannya. Roket sebesar itu akan sangat sulit diciptakan, setidaknya untuk era teknologi kita saat ini.

Tentu saja, Hippke mengakui bahwa Kepler-452b merupakan contoh ekstremnya, tetapi ia juga menunjukkan bahwa planet-planet berbatu yang lebih kecil dari Kepler-452b juga akan menghadirkan tantangan yang serupa bagi manusia.

Selain itu, dalam makalah penelitian berbeda yang ditulis oleh Abraham Loeb dari Universitas Harvard, manusia juga akan mendapati kesulitan untuk meninggalkan permukaan planet yang mengorbit dekat dengan bintang induk berjenis kerdil merah dengan roket berbahan bakar kimia. Hal itu disebabkan karena tarikan gravitasi bintang induknya harus diatasi juga.

Karena alasan-alasan di atas, mengunjungi beberapa planet asing (untuk saat ini) mungkin merupakan ide yang sangat buruk dari perspektif kita. Bahkan jika kita berhasil sampai di sana, kita mungkin tidak dapat pergi lagi hanya karena kita tidak pernah bisa membawa bahan bakar yang cukup untuk melarikan diri dari gabungan tarikan gravitasi planet tersebut dan bintang induknya.

Menariknya, makalah penelitian ini menawarkan solusi bagi Paradoks Fermi. Dikatakan bahwa selama ini kita tidak melihat atau menemukan kehidupan asing di alam semesta karena mungkin saja penduduk asing tersebut tidak dapat meninggalkan planet-planetnya.

Penemuan planet-planet asing seperti Kepler-452b memang menarik. Dan tampaknya penemuan planet-planet, untuk saat ini, hanya untuk menambah wawasan semata. Dengan menemukan planet asing, bukan berarti kita harus mengunjunginya.
BERIKAN KOMENTAR ()