Mengapa Gerhana Sangat Sering Terjadi Belakangan Ini?

Kredit: InfoAstronomy.org
Info Astronomy - Peristiwa gerhana, baik itu gerhana bulan ataupun gerhana matahari, sebenarnya merupakan peristiwa langit yang tergolong biasa saja dalam astronomi. Tidak ada yang spesial, melainkan hanya ditutupinya matahari oleh bulan atau bulan oleh bayangan bumi.

Namun, di era modern seperti sekarang ini, rupanya masih banyak masyarakat kita yang berpikiran bahwa peristiwa gerhana adalah peristiwa yang tidak biasa. Hal ini pula yang mungkin membuat sebagian dari kita bertanya-tanya; mengapa sekarang sering terjadi gerhana? Apakah ini tanda kiamat?

Perlu diketahui, peristiwa gerhana bukan termasuk dalam peristiwa langka. Di tahun 2018 ini saja, setidaknya ada lima kali gerhana yang terjadi, dua gerhana bulan dan tiga gerhana matahari. Namun, tidak semuanya teramati di Indonesia.

Apa Itu Gerhana?

Bukan, bukan judul sinetron klasik dari saluran televisi lokal. Dalam astronomi, gerhana adalah peristiwa yang terjadi ketika sebuah benda angkasa bergerak ke dalam bayangan sebuah benda angkasa lain.

Di Bumi, peristiwa ini terjadi pada dua benda terdekat planet kita, yakni matahari dan bulan, dan hanya dapat terjadi ketika mereka hampir berada dalam garis lurus, atau yang dikenal sebagai posisi syzygy.

Gerhana matahari misalnya, hanya bisa terjadi ketika bulan, dalam mengelilingi bumi, melintasi persimpangan antara matahari dan bumi. Sementara gerhana bulan hanya bisa terjadi ketika bumi secara tepat melintasi persimpangan antara matahari dan bulan.

Gerhana matahari bisa terjadi di fase bulan baru, sementara gerhana bulan hanya terjadi di fase bulan purnama. Penyebab tidak adanya gerhana matahari tiap fase bulan baru dan tidak adanya gerhana bulan tiap fase bulan purnama adalah; bidang orbit bulan miring sekitar lima derajat terhadap ekliptika bumi.

Seberapa Sering Gerhana Terjadi?

Mari kita mulai dengan gerhana matahari~

Ada sebuah kesalahpahaman yang populer di masyarakat yang menganggap bahwa fenomena gerhana matahari adalah kejadian langka. Faktanya, justru sebaliknya. Sekitar sekali setiap 18 bulan (rata-rata), gerhana matahari total selalu terjadi dan bisa terlihat dari beberapa tempat di permukaan Bumi.

Mungkin, gerhana matahari dianggap langka karena tidak sering terjadi di Indonesia. Terakhir kali terjadi pada 9 Maret 2016, gerhana matahari baru terjadi lagi di Indonesia pada 26 Desember 2019. Tapi, jarangnya peristiwa gerhana matahari di Indonesia bukan berarti tidak terjadi gerhana matahari di tempat lain.

Pada 13 Juli 2018 kemarin, gerhana matahari terjadi. Peristiwa gerhana matahari parsial tersebut bisa teramati di pesisir selatan Australia, Selandia Baru, hingga Antartika. Indonesia? Tidak kebagian. Bahkan informasi gerhana tersebut saja tidak tersebar layaknya hoaks bumi datar, atau hoaks aphelion yang membuat suhu mendingin.

Bagaimana dengan gerhana bulan?

Menurut perhitungan yang dilakukan oleh ahli matematika astronomi, Jean Meeus dan Fred Espenak, dalam periode 5.000 tahun antara tahun 2000 SM hingga 3000 M, akan ada 12.064 kali gerhana bulan.

Dari jumlah ini, 3.479 di antaranya merupakan gerhana bulan total, dan sisanya akan menjadi gerhana bulan parsial atau gerhana bulan penumbra. Bila dihitung lagi, rata-rata akan terjadi 2 sampai 3 gerhana bulan per tahun!

Tidak terdengar langka bagi saya.

Dengan kata lain, akan terjadi peristiwa gerhana bulan yang bisa terlihat di sisi malam Bumi sekitar sekali setiap 17 bulan atau lebih.

Tapi, mengapa gerhana bulan juga dianggap langka? Saya rasa alasannya sama: gerhana bulan tidak sering terjadi di Indonesia, sehingga kita cenderung menganggap gerhana yang belakangan terjadi ini merupakan sebuah keanehan. Padahal, gerhana hanyalah peristiwa biasa.

Jadi, tidak perlu panik dengan gerhana yang sering terjadi sekarang ini, karena memang gerhana adalah peristiwa yang tergolong sering terjadi, kita saja yang kurang wawasan dan gemar cocoklogi gerhana terhadap suatu hal yang mistis.
BERIKAN KOMENTAR ()