Mengapa Gerhana Sangat Sering Terjadi Belakangan Ini?

Info Astronomy - Peristiwa gerhana, baik itu gerhana bulan ataupun gerhana matahari, sebenarnya merupakan peristiwa langit yang tergolong biasa saja dalam astronomi. Gerhana hanya sebatas ditutupinya matahari oleh bulan atau bulan oleh bayangan bumi.

Namun, di era modern seperti sekarang ini, rupanya masih banyak masyarakat kita yang berpikiran bahwa peristiwa gerhana adalah peristiwa yang tidak biasa, langka, dan dianggap mengundang bencana susulan. Hal ini pula yang mungkin membuat sebagian dari kita bertanya-tanya; mengapa sekarang sering terjadi gerhana? Apakah ini tanda kiamat?

Perlu diketahui, peristiwa gerhana bukan termasuk dalam peristiwa langka. Di tahun 2019 ini saja, setidaknya ada lima kali gerhana yang terjadi, yakni gerhana matahari parsial 5 Januari 2019, gerhana bulan total 21 Januari 2019, gerhana matahari total 2 Juli 2019, gerhana bulan parsial 17 Juli 2019, dan yang akan terjadi gerhana matahari cincin 26 Desember 2019.

Apa Itu Gerhana?

Bukan, bukan judul sinetron klasik yang dulu pernah tayang di sebuah stasiun televisi lokal. Dalam astronomi, gerhana adalah peristiwa yang terjadi ketika sebuah benda angkasa bergerak ke dalam bayangan sebuah benda angkasa lainnya.

Di Bumi, peristiwa ini terjadi pada matahari dan bulan, dan hanya dapat terjadi ketika mereka hampir berada dalam garis lurus dengan relatif terhadap Bumi, atau yang dikenal sebagai posisi syzygy.

Gerhana matahari misalnya, hanya bisa terjadi ketika bulan, dalam mengelilingi bumi, melintasi persimpangan antara matahari dan bumi. Sementara gerhana bulan hanya bisa terjadi ketika bumi secara tepat melintasi persimpangan antara matahari dan bulan.

Gerhana matahari bisa terjadi di fase bulan baru, sementara gerhana bulan hanya terjadi di fase bulan purnama. Penyebab tidak adanya gerhana matahari tiap fase bulan baru dan tidak adanya gerhana bulan tiap fase bulan purnama adalah; bidang orbit bulan miring sekitar lima derajat terhadap ekliptika bumi.

Seberapa Sering Gerhana Terjadi?

Mari kita mulai dengan gerhana matahari~

Ada sebuah kesalahpahaman yang populer di masyarakat yang menganggap bahwa fenomena gerhana matahari adalah kejadian langka. Faktanya, justru sebaliknya. Sekitar sekali setiap 18 bulan (rata-rata), gerhana matahari total selalu terjadi dan bisa terlihat dari beberapa tempat di permukaan Bumi.

Mungkin, gerhana matahari dianggap langka karena tidak sering terjadi di Indonesia. Terakhir kali terjadi pada 9 Maret 2016, gerhana matahari baru terjadi lagi di Indonesia pada 26 Desember 2019. Namun, jarangnya peristiwa gerhana matahari yang terjadi di Indonesia bukan berarti gerhana matahari tidak bisa terjadi di tempat lain. Bumi ini luas.

Pada 2 Juli 2019 kemarin misalnya, gerhana matahari terjadi. Peristiwa gerhana matahari total tersebut bisa teramati di benua Amerika Selatan. Indonesia? Tidak kebagian karena sudah malam hari, matahari sudah terbenam.

Bagaimana dengan gerhana bulan? Menurut perhitungan yang dilakukan oleh ahli matematika astronomi, Jean Meeus dan Fred Espenak, dalam periode 5.000 tahun antara tahun 2000 SM hingga 3000 M, akan ada 12.064 kali gerhana bulan.

Dari jumlah ini, 3.479 di antaranya merupakan gerhana bulan total, dan sisanya akan menjadi gerhana bulan parsial atau gerhana bulan penumbra. Bila dihitung lagi, rata-rata akan terjadi 2 sampai 3 gerhana bulan per tahun!

Dengan kata lain, akan terjadi peristiwa gerhana bulan yang bisa terlihat di sisi malam Bumi sekitar sekali setiap 17 bulan atau lebih. Hal itu jelas bukan sebuah kelangkaan.

Tapi, mengapa gerhana bulan juga dianggap langka? Saya rasa alasannya sama: gerhana bulan tidak sering terjadi di Indonesia, sehingga kita cenderung menganggap gerhana yang belakangan terjadi ini merupakan sebuah keanehan. Padahal, gerhana hanyalah peristiwa biasa.

Jadi, tidak perlu panik dengan gerhana yang sering terjadi sekarang ini, karena memang gerhana adalah peristiwa yang tergolong sering terjadi, kita saja yang kurang wawasan dan gemar cocoklogi gerhana terhadap suatu hal yang belum tentu jelas kebenarannya.

Do science.


Catatan editor: Artikel ini terbit pertama kali pada 18 Juli 2018 dan diterbitkan ulang sebagai informasi menjelang gerhana matahari cincin 26 Desember 2019.
BERIKAN KOMENTAR ()