Benarkah Bulan Transparan?

Info Astronomy - Pernahkah kamu mengamati Bulan di siang hari, lalu melihat ada sisi Bulan yang tidak disinari Matahari memiliki warna yang sama dengan warna langit, dan seketika kamu berpikir bahwa Bulan transparan?

Meski aneh, faktanya hal itu dialami oleh beberapa orang. Terutama yang masih awam tentunya. Bahkan ada yang lebih aneh lagi: ketika melihat Bulan sabit muda, sisi gelapnya (yang tidak disinari Matahari) dianggap transparan karena masih terlihat samar-samar.

Apa sebenarnya yang terjadi? Apakah selama ini kita dibodohi NASA? Mamam~

Tapi sebelum kita berprasangka buruk, ada baiknya kita belajar dulu deh, cari tahu, tabbayun istilah Islaminya. Lagi pula, kita sedang membahas sains, sehingga kita memang harus mencari tahu, bukan menduga-duga, apa lagi berasumsi tanpa adanya bukti.

Bulan memiliki bentuk bulat. Ia adalah batuan antariksa biasa seperti asteroid. Namun karena massanya cukup besar, gravitasinya pun besar sehingga bisa membuatnya berbentuk bulat. Nah, karena hanya batuan, maka ia tidak bisa memancarkan cahaya sendiri layaknya bintang.

Cahaya pada bintang berasal dari reaksi fusi nuklir di intinya. Bintang adalah benda gas, berbeda dengan Bulan yang merupakan batuan. Dengan begitu, cahaya Bulan yang kita lihat merupakan cahaya pantulan dari bintang, yang dalam hal ini adalah Matahari.

Dari sini, kita bisa tahu bahwa Bulan tidak transparan. Jika Bulan transparan seperti yang diklaim beberapa orang, bintang-bintang akan muncul di dalam bagian atau area Bulan yang tidak diterangi oleh Matahari. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya, kita malah melihat siluet gelap dari permukaan Bulan yang menghalangi bintang-bintang di latar belakang.

Adapun, warna biru pada sisi gelap Bulan (seperti pada gambar di atas artikel ini) merupakan warna langit Bumi yang terjadi akibat hamburan Rayleigh. Karena Bulan berada di luar atmosfer, maka kita sulit melihat sisi gelapnya pada langit siang, yang terlihat ya jelas birunya langit saja. Tidak terlalu sulit dinalar, bukan?
Sementara itu, bila kamu pernah melihat Bulan sabit tapi bagian gelapnya masih terlihat ada kawah-kawah Bulan, fenomena itu dikenal sebagai Earthshine. Ya, Bumi yang disinari Matahari juga memantulkan cahayanya ke Bulan. Earthshine biasanya paling baik diamati saat Bulan sabit.

Apa lagi yang bisa membuktikan bahwa Bulan tidak transparan? Jawabannya: Peristiwa okultasi!

Pernah ngamat okultasi? Okultasi merupakan peristiwa yang mirip dengan gerhana. Bedanya, yang ditutupi Bulan bukanlah Matahari, melainkan planet-planet tata surya atau bintang-bintang. Peristiwa ini terjadi karena dalam orbitnya mengelilingi Bumi, Bulan akan "berpapasan" dengan benda-benda langit lain dalam pandangan dari Bumi.

Perhatikan gambar di bawah ini, yang merupakan okultasi planet Jupiter oleh Bulan:
Gambar di atas secara jelas menunjukkan adanya terminator (batas antara sisi terang dan sisi malam) di Bulan, serta menampilkan sisi gelap Bulan yang tidak transparan. Buktinya, planet Jupiter tidak tampak sempurna, melainkan tertutup oleh Bulan.

Masih belum bisa percaya? Ndakpapa, sains bukan tentang percaya atau tidak percaya, tapi tentang observasi dan pengumpulan bukti.

Kamu bisa tuh kunjungi observatorium atau planetarium terdekat yang sering mengadakan acara pengamatan terbuka untuk umum dan mintalah untuk melihat ke arah Bulan dengan teleskop mereka. Atau, belilah teleskop agar bisa mengamatinya sendiri, kamu bisa beli di InfoAstronomy Store.

Arahkan teleskop ke sisi gelap Bulan, dan kamu akan menemukan apakah Bulan benar-benar tampak transparan atau tidak, terutama ketika kondisi langit masih biru di siang hari. Jangan kaget bahwa nantinya kamu bisa melihat sisi gelap Bulan tanpa adanya bintang di belakangnya.

Intinya adalah, lakukanlah pengamatan, bukan menduga-duga. Bulan jelas tidak pernah transparan.
BERIKAN KOMENTAR ()