Benarkah Bulan Transparan?

Bulan di langit siang. Kredit: Wikimedia Commons
Info Astronomy - Pernahkah kamu mengamati Bulan di siang hari, lalu melihat ada sisi Bulan yang tidak disinari Matahari, dan seketika kamu berpikir bahwa Bulan transparan?

Meski aneh, faktanya hal itu dialami oleh beberapa orang. Terutama yang masih awam tentunya. Bahkan ada yang lebih aneh lagi: ketika melihat Bulan sabit muda, sisi gelapnya (yang tidak disinari Matahari) dianggap transparan karena terlihat gelap tapi masih ada kawah-kawah Bulan yang tampak redup.

Apa sebenarnya yang terjadi? Apakah selama ini kita dibodohi NASA? Mamam~

Tapi sebelum berprasangka buruk, ada baiknya kita belajar, cari tahu, tabbayun. Lagi pula, itulah sains, mengajarkan kita untuk mencari tahu, bukan menduga-duga, apa lagi berasumsi tanpa adanya bukti yang valid.

Bulan memiliki bentuk bulat. Ia adalah batuan antariksa biasa yang saking besarnya bisa membuatnya berbentuk bulat. Karena hanya batuan, maka ia tidak bisa memancarkan cahaya sendiri layaknya bintang.

Cahaya pada bintang berasal dari energi termonuklir di intinya. Bintang adalah benda gas, berbeda dengan Bulan yang merupakan batuan. Dengan begitu, cahaya Bulan yang kita lihat dari Bumi ini merupakan cahaya pantulan dari bintang, yakni Matahari.

Dari sini, kita bisa tahu bahwa Bulan tidak transparan. Jika Bulan transparan seperti yang diklaim beberapa orang, bintang-bintang akan muncul di dalam bagian atau area Bulan yang tidak diterangi oleh Matahari. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya, kita malah melihat siluet gelap dari permukaan Bulan yang menghalangi bintang-bintang di latar belakang.

Adapun, warna biru pada sisi gelap Bulan (seperti pada gambar di atas artikel ini) merupakan warna langit Bumi yang terjadi akibat hamburan Rayleigh. Karena Bulan berada di luar atmosfer, maka kita sulit melihat sisi gelapnya pada langit siang, yang terlihat ya biru saja. Tidak terlalu sulit dinalar, bukan?

Earthshine pada Bulan sabit. Kredit: Elliot Herman
Sementara itu, bila kamu pernah melihat Bulan sabit tapi bagian gelapnya masih terlihat ada kawah-kawah Bulan, fenomena itu dikenal sebagai Earthshine. Ya, Bumi yang disinari Matahari juga memantulkan cahayanya ke Bulan. Earthshine biasanya paling baik diamati saat Bulan sabit.

Apa lagi yang bisa membuktikan bahwa Bulan tidak transparan? Jawabannya: Peristiwa okultasi!

Okultasi merupakan peristiwa yang mirip dengan gerhana. Bedanya, yang ditutupi Bulan bukanlah Matahari, melainkan planet-planet tata surya atau bintang-bintang. Peristiwa ini terjadi karena dalam orbitnya mengelilingi Matahari, Bulan tentu akan "berpapasan" dengan benda-benda langit lain dalam pandangan dari Bumi.

Perhatikan gambar di bawah ini, yang merupakan okultasi planet Jupiter oleh Bulan:

Jupiter bersembunyi di balik Bulan. Kredit: James Nelson
Gambar di atas secara jelas menunjukkan adanya terminator (batas antara sisi terang dan sisi malam Bulan) serta menampilkan sisi gelap Bulan yang tidak transparan. Buktinya, planet Jupiter tidak tampak sempurna, alias tertutup oleh Bulan.

Masih belum bisa percaya? Ndakpapa, sains bukan tentang percaya atau tidak percaya, tapi tentang observasi dan pengumpulan bukti. Jadi, mari kita lakukan observasi!

Kamu bisa kunjungi observatorium terdekat yang sering mengadakan acara pengamatan terbuka untuk umum dan mintalah teleskopnya untuk melihat ke arah Bulan. Atau, belilah teleskop agar bisa mengamatinya sendiri.

Arahkan teleskop ke sisi gelap Bulan, dan kamu akan menemukan apakah Bulan benar-benar tampak transparan atau tidak, terutama ketika kondisi langit masih biru di siang hari. Jangan kaget bahwa nantinya kamu bisa melihat sisi gelap Bulan tanpa adanya bintangnya.

Intinya adalah, lakukanlah pengamatan, bukan menduga-duga. Bulan jelas tidak pernah transparan.
BERIKAN KOMENTAR ()