Ketika Planet Terbentuk Lebih Dulu daripada Bintangnya

TMC1A. Kredit: ESA Sky/Harsono/Joergensen
Info Astronomy - Baru-baru ini, serangkaian pengamatan menunjukkan adanya sebuah planet yang terbentuk ketika bintang induknya belum terbentuk sepenuhnya. Bagaimana hal unik ini bisa terjadi?

Hal ini terungkap ketika sekelompok tim astronom Eropa mengamati melalui teleskop radio Atacama Large Milimeter/submilimeter Array (ALMA) di Cile, yang mana teramati bahwa partikel debu pada sebuah protobintang sudah mengental sebelum waktunya, sebelum protobintang tersebut sepenuhnya tumbuh menjadi bintang sejati.

Menurut para astronom ini, pertumbuhan partikel debu tersebut merupakan langkah pertama dalam pembentukan planet. Namun, pada sistem bintang ini, pembentukan partikel debu yang menjadi tanda-tanda pembentukan planet terjadi terlalu dini.

Dalam beberapa tahun terakhir, para astronom memang telah menemukan banyak sistem planet di sekitar bintang lain selain Matahari. Bahkan kini diketahui hampir setiap bintang kemungkinan memiliki setidaknya satu planet yang mengorbitnya.

Temuan-temuan itu menimbulkan banyak pertanyaan, dengan pertanyaan yang paling banyak dibahas para astronom adalah mengenai bagaimana sistem planet bisa terbentuk dan bagaimana proses pembentukannya mengarah pada keragaman jenis planet dalam hal jumlah dan massanya.

Tapi yang jelas, sejauh ini diketahui bahwa pembentukan planet baru akan terjadi ketika bintang induk pada sebuah sistem telah terbentuk sepenuhnya lebih dulu. Dengan kata lain, planet yang terbentuk di protobintang yang dikatalogkan sebagai TMC1A ini merupakan sesuatu yang unik dan baru pertama kali diamati.

Terletak di arah rasi bintang Taurus, protobintang TMC1A teramati kekurangan radiasi karbon monoksida di daerah cakram protoplanetnya. Para astronom menduga bahwa radiasi tersebut telah diserap oleh partikel debu besar. Dengan menggunakan model numerik, para astronom dapat menunjukkan bahwa memang partikel debu pada cakram protoplanet muda ini telah tumbuh menjadi planet.

Daniel Harsono Wijaya dari Universitas Leiden, Belanda, yang tergabung dalam studi ini menjelaskan mengapa sistem bintang ini begitu menarik. "Hasilnya menunjukkan bahwa planet rupanya sudah mulai terbentuk saat bintang masih dalam tahap perkembangan. Bintang ini diperkirakan baru memiliki massa setengah hingga tiga perempat dari massa finalnya nanti."

Per Bjerkeli, anggota tim studi lainnya dari Universitas Chalmers, Swedia, menyoroti implikasi pertumbuhan planet yang terlalu dini ini. "Ini bisa menjadi penjelasan untuk pembentukan planet raksasa yang berukuran sebesar Jupiter dan Saturnus. Hanya cakram protoplanet yang mengandung cukup massa untuk bisa membentuk planet raksasa."

Di masa yang akan datang, para astronom ingin lebih mencari tanda-tanda dari pembentukan planet yang terlalu dini di sekitar protobintang lainnya dengan cara yang sama. Hingga pada akhirnya, para astronom bisa tahu lebih banyak tentang kapan dan bagaimana planet terbentuk.


Referensi: Nature AstronomyUniversiteit Leiden
BERIKAN KOMENTAR ()