Mencari Hilal: Apa dan Bagaimana Hilal Itu?

Kredit: Pixabay.com
Info Astronomy - Menjelang Ramadan ataupun Idulfitri, istilah hilal cukup identik dengannya. Terlebih lagi, hilal memang sangat penting dalam menentukan kapan awal mula suatu bulan hijriah. Tapi, sudah tahukah kamu apa itu hilal?

Sederhananya, hilal adalah Bulan sabit muda setelah konjungsi. Apa itu konjungsi? Dalam astronomi, konjungsi bisa diartikan sebagai "searah". Dengan kata lain, Matahari dan Bulan akan tampak di arah yang sama saat konjungsi, sehingga fase Bulan yang terjadi adalah Bulan Baru. Nah, hilal adalah fase Bulan yang terjadi setelah fase Bulan Baru ini.

Para pengamat biasanya mencari hilal pada saat senja. Ada beberapa faktor yang membuat pengamatan hilal selalu dilakukan di momen Matahari terbenam. Pertama, hilal masih sangat redup dan tipis, sehingga akan lebih mudah diamati saat kondisi langit sudah sedikit lebih gelap, yakni ketika Matahari sudah terbenam.

Kedua, Bulan sabit yang teramati di siang hari belum tentu disebut sebagai hilal. Karena meski teramati di siang hari (atau bahkan pagi hari), Bulan sabit muda tidak serta merta terlihat juga saat senja, karena bisa jadi masih terlalu rendah dari cakrawala. Maka belum dapat disebut hilal.

Ketiga, karena untuk menentukan awal bulan hijriah, maka dari itu pengamatan hilal wajib dilakukan saat senja, mengingat pergantian hari pada kalender hijriah adalah pada saat Magrib, bukan pukul 00.00 tengah malam seperti kalender masehi.

Lalu, berapa ketinggian hilal dari cakrawala agar bisa teramati? Secara astronomis, hilal baru bisa teramati ketika ia lebih tinggi dari 2 derajat dari cakrawala. Di bawah itu, hilal tidak teramati sama sekali. Bahkan untuk wilayah Indonesia yang berada di ekuator, hilal biasanya baru mudah terlihat bila sudah berada di ketinggian lebih dari 3 derajat dari cakrawala barat.

Setidaknya, ada dua metode yang digunakan untuk mengamati dan menentukan ketinggian hilal, yakni metode hisab dan metode rukyat.

Hisab sendiri merupakan perhitungan. Dengan kata lain, hisab adalah metode perhitungan astronomis untuk menentukan berapa ketinggian atau posisi Bulan sebagai tanda dimulainya awal bulan hijriah. Di era modern ini, metode hisab telah banyak menggunakan bantuan komputer dengan tingkat presisi dan akurasi yang tinggi.

Metode hisab sering dilakukan sebelum metode rukyat dilakukan. Hal ini untuk melakukan penentuan lebih dulu kapan konjungsi terjadi, yaitu saat Matahari-Bulan-Bumi berada dalam segaris lurus di bidang tata surya. Konjungsi sendiri selalu terjadi 29,5 hari sekali, atau disebut pula satu periode sinodis Bulan.

Sementara itu, rukyat memiliki arti sebagai melihat. Dalam hal ini, melihat hilal tentu saja. Rukyat bisa dilakukan dengan kasat mata, tapi kebanyakan para pengamat hilal kini menggunakan teleskop agar membantu mereka untuk menemukan hilal yang masih sangat tipis fasenya. Apabila hilal terlihat, maka saat Magribnya sudah bisa dikatakan masuk tanggal 1 awal bulan hijriah.

Perbedaan metode inilah yang terkadang membuat awal bulan hijriah bisa berbeda pula antara pemerintah dengan organisasi masyarakat. Tapi, kami tidak akan membahas perbedaan itu. Perbedaan bukan masalah.

Hilal 1 Syawal 1439 H/2018

Dengan definisi hilal di atas, maka hilal baru bisa telihat setelah ijtimak atau konjungsi. Konjungsi akhir Ramadan (29 Ramadan 1439 H) akan terjadi pada 14 Juni 2018 pukul 02.44 WIB dini hari.

Di hari yang sama, saat Matahari terbenam pukul 17.44 WIB, Bulan akan terbenam pukul 18.21 WIB. Dengan kata lain, posisi Bulan sudah akan cukup tinggi dari ufuk barat untuk diamati pada sore hari tanggal 14 Juni 2018. Ketinggiannya diperkirakan mencapai 7 derajat dari cakrawala.

Tanggal 1 Syawal 1439 H pun bisa dimulai saat Magrib (mengingat pergantian hari pada kalender hijriah adalah saat Magrib) pada 14 Juni 2018. Idulfitri bisa dirayakan pada 15 Juni 2018 mendatang.

Selamat Idulfitri dari InfoAstronomy.org.
BERIKAN KOMENTAR ()