Mengenal Bintang Raksasa Merah, Masa Depan Matahari Kita

Ilustrasi bintang raksasa merah. Kredit: Getty Images
Info Astronomy - Bintang-bintang yang biasa kita lihat di malam hari memiliki beberapa jenis, salah satunya adalah jenis bintang raksasa merah. Mari mengenal jenis bintang ini lebih dekat.

Bintang raksasa merah merupakan bintang sekarat, atau merupakan bintang yang berada dalam tahap terakhir evolusi bintang. Dalam beberapa miliar tahun mendatang, Matahari kita akan berevolusi dari bintang deret utama menjadi bintang raksasa merah, memperluas lapisan terluarnya, dan menelan planet-planet dalam, bahkan mungkin termasuk Bumi.

Sebagian besar bintang di jagad raya saat ini diketahui merupakan bintang deret utama, bintang kelas menengah yang masih aktif mengubah hidrogen menjadi helium melalui fusi nuklir. Sementara bintang raksasa merah sendiri merupakan tahap evolusi selanjutnya dari bintang deret utama yang bermassa mulai dari tiga sampai delapan kali massa Matahari.

Ketika bintang terbentuk dari reruntuhan awan molekuler raksasa di awan antarbintang, ia sebagian besar terdiri atas hidrogen dan helium yang melimpah. Unsur-unsur ini bercampur rata dalam bintang, yang pada akhirnya akan membuat bintang mencapai fase deret utama apabila intinya telah mencapai suhu yang mencukupi untuk melakukan fusi dan memiliki keseimbangan hidrostatik.

Sepanjang kehidupannya dalam deret utama, bintang secara perlahan-lahan akan mengubah hidrogen pada intinya menjadi helium. Fase deret utama sebuah bintang akan berakhir apabila hampir semua hidrogen dalam intinya habis digunakan. Bagi Matahari, kala hidupnya dalam fase deret utama adalah sekitar 10 miliar tahun.

Apabila bintang sudah kehabisan hidrogen di dalam intinya, reaksi fusi nuklir dalam intinya juga akan berhenti, membuat inti bintang tersebut akan mengkerut akibat gravitasinya. Di tahap ini, lapisan terluar inti yang masih memiliki hidrogen akan memanas, membangkitkan kembali fusi hidrogen menjadi helium.

Lapisan terluar bintang pun akan mengembang dengan hebatnya, menandai dimulainya fase raksasa merah dalam tahap evolusi bintang tersebut. Bintang raksasa merah merupakan bintang yang diameternya mencapai 100 juta hingga 1 miliar kilometer, dengan massanya bisa mencapai 100 hingga 1.000 kali massa Matahari saat ini.

Karena energi pada raksasa merah tersebar di area yang lebih luas, suhu permukaan bintang jenis ini akan lebih rendah, yakni hanya mencapai 2.200 hingga 3.200 derajat Celsius, setengah panas permukaan Matahari.

Suhu yang rendah ini menyebabkan bintang raksasa merah bersinar dengan warna merah dalam spektrum cahaya, dari sinilah sebutan "raksasa merah" muncul, meskipun sebenarnya bintang jenis ini lebih sering muncul dengan warna oranye.

Dalam tahap evolusinya, sebuah bintang bisa menghabiskan sekitar beberapa ribu hingga 1 miliar tahun sebagai raksasa merah. Ketika nantinya helium di inti habis dan fusi berhenti, bintang raksasa merah akan menyusut hingga membuat cangkang heliumnya mencapai inti.

Ketika helium menyatu dengan inti bintang raksasa merah, lapisan terluar bintang tersebut akan runtuh dan menyebar, membentuk awan gas dan debu raksasa yang dikenal sebagai nebula planeter. Awan gas dan debu inilah yang nantinya bisa membentuk bintang-bintang baru.

Sementara lapisan terluarnya membentuk nebula planeter, sisa inti bintang raksasa merah yang sudah kehabisan energi itu akan mengkerut menjadi bintang kerdil putih. Pada tahap ini, sudah tidak ada lagi proses fusi nuklir yang terjadi. Bintang kecil seperti Matahari kita diperkirakan akan mengakhiri hidupnya sebagai kerdil putih yang padat tersebut.

Ya, dalam sekitar 5 hingga 6 miliar tahun mendatang, Matahari akan kehabisan hidrogen di intinya, membuatnya akan mulai berkembang menjadi bintang raksasa merah. Hal tersebut akan membuat fotosfer Matahari mengembang hingga kira-kira akan mencapai orbit Bumi saat ini.

Walau begitu, meskipun evolusi Matahari menjadi bintang raksasa merah telah banyak dimodelkan, masih belum jelas apakah Bumi akan ditelan oleh Matahari atau akan terus berlanjut mengorbitinya. Ketidakpastian muncul karena ketika Matahari membakar hidrogen, ia kehilangan massa yang menyebabkan Bumi (dan semua planet) mengorbit pada jarka yang lebih jauh dari saat ini.

Ada juga ketidakpastian yang signifikan dalam menghitung orbit planet-planet selama 5-6,5 miliar tahun ke depan, sehingga nasib Bumi di masa depan belum bisa dipahami dengan baik.

Di masa kini, dari permukaan Bumi, kita bisa melihat beberapa bintang raksasa merah terang di langit malam, yang di antaranya adalah bintang Aldebaran (rasi bintang Taurus), Arcturus (rasi bintang Bootis), dan Mira (rasi bintang Cetus).

Nah, itulah dia sedikit tulisan mengenai raksasa merah. Semoga bisa menambah wawasan!


Sumber: Astrophysics Spectator, Space.comspiff.rit.edu.
BERIKAN KOMENTAR ()