Kondisi Interior Planet Jupiter Mulai Terungkap

Ilustrasi. Kredit: Shutterstock
Info Astronomy - Setelah diluncurkan dari Bumi hingga akhirnya berhasil mengorbit Jupiter sejak 4 Juli 2016, wahana antariksa nirawak Juno ditugaskan untuk mempelajari interior sang planet raksasa gas yang memesona. Kini, tugas tersebut tampaknya berhasil dicapai.

Dari Bumi maupun dari orbitnya, kita memang bisa melihat puncak atmosfer teratas Jupiter yang menakjubkan, tapi kita tidak tahu apa yang terjadi di dalam atmosfer tersebut. Nah, pemahaman kita terhadap Jupiter berubah hari ini berkat Juno.

Dalam serangkaian empat makalah ilmiah yang diterbitkan hari ini di Nature, hasil penelitian terbaru dari wahana antariksa Juno telah dibedah. Untuk pertama kalinya, kita kini benar-benar mengetahui tentang apa yang terjadi di balik atmosfer teratas Jupiter!

"Ini adalah pandangan pertama tentang bagaimana bagian dalam sebuah planet raksasa gas," ungkap Jonathan Fortney dari Universitas California Santa Cruz, AS, yang juga merupakan pemimpin salah satu studi ini, dilansir IFLScience.

Keempat makalah ilmiah yang dimaksud bisa Anda baca di sini, di sini, di sini, dan di sini. Walaupun keempat penelitian ini berfokus pada bidang penelitian yang berbeda, namun secara garis besar semuanya memiliki tema serupa, yaitu berkaitan dengan beberapa karakteristik utama Jupiter.

Salah satu temuan menarik dari keempat studi ini adalah, sekarang kita tahu sejauh mana atmosfer Jupiter meluas. Yakni 3.000 kilometer ke bawah dari puncak atmosfer teratas. Angka ini rupanya jauh lebih besar dari perkiraan awal. Begitu Anda mencapai kedalaman ini, komposisi planet Jupiter berubah drastis.

Atmosfer teratas Jupiter sepenuhnya merupakan gas. Namun, berdasarkan informasi dari ScienceAlert, pada kedalaman 3.000 kilometer, interior planet Jupiter berubah menjadi seperti padatan, meski sebenarnya tidak terlalu padat. Bagian tersebut teramati merupakan campuran cairan hidrogen dan helium yang berputar seperti benda padat.
Interior planet-planet raksasa gas. Kredit: NASA
Di bawah kedalaman 3.000 kilometer, interior planet Jupiter berputar dengan cara yang kaku, berbeda dengan atmosfer teratasnya yang berputar secara dinamis. Menurut para ilmuwan, semua informasi ini memiliki konsekuensi mendalam terkait pemahaman kita tentang interior planet ini dan pada gilirannya memungkinkan kita untuk lebih dekat memahami proses pembentukannya.

Cosmos Magazine mencatat, dalam rangka mempelajari interior Jupiter, Juno mengukur medan gravitasi sang planet termasif di tata surya kita ini. Dari sinilah diketahui bahwa angin di pedalaman interior Jupiter dipengaruhi oleh distribusi kepadatan planet, serupa dengan bagaimana angin di Bumi disebabkan oleh daerah tekanan rendah dan tinggi. Perubahan kepadatan pada gilirannya menyebabkan medan gravitasi planet berfluktuasi.

Teknik ini memungkinkan para ilmuwan untuk mengukur medan gravitasi Jupiter 100 kali lebih presisi dari pengukuran yang pernah dilakukan sebelumnya. Data dari Juno juga menunjukkan bahwa tekanan di area dekat inti Jupiter sekitar 100.000 kali lebih kuat dari tekanan di permukaan Bumi.

Temuan utama lainnya dari studi-studi ini adalah, diketahui pula bahwa medan gravitasi Jupiter tidak simetris dari utara ke selatan. Tampaknya, hal ini disebabkan oleh angin yang bervariasi dan aliran atmosfer di planet ini yang tak beraturan.

Menukil informasi dari The Guardian, para ilmuwan juga menemukan bahwa atmosfer Jupiter mengandung sekitar 1 persen dari seluruh massanya, yang mana hal itu setara dengan sekitar tiga kali massa Bumi. Atmosfer Bumi, sebagai perbandingan, hanya sepersejuta dari total massa planet kita.

"Hasil mengejutkan ini menunjukkan bahwa atmosfer Jupiter sangat besar dan jauh lebih luas dari perkiraan sebelumnya," kata Yohai Kaspi dari Weizmann Institute of Science.

Hasil ini dimungkinkan berkat rangkaian instrumen unik Juno dan lintasannya yang dekat ke planet Jupiter, yang hanya beberapa ribu kilometer di atas atmosfernya, lebih dekat dari wahana antariksa buatan manusia apapun.

Tapi tunggu, temuan-temuan di atas belum semuanya.

Dalam salah satu makalah ilmiah yang diterbitkan ini, astronom Alberto Adriani dari Institute for Astrophysics and Space Planetology di Roma, Italia, bersama rekan-rekannya mengamati struktur kutub Jupiter melalui panjang gelombang inframerah untuk pertama kalinya.

Hasilnya tak kalah menarik, mereka menemukan bahwa siklon di kutub Jupiter menciptakan pola poligonik yang untuk. Mereka menemukan adanya delapan siklon mengamuk di pusat kutub utara Jupiter, serta menemukan lima siklon serupa di kutub selatan Jupiter.

Kiri: siklon di kutub utara Jupiter, kanan: siklon di kutub selatan Jupiter. Kredit: NASA/SwRI/Juno
"Juno merupakan misi pertama yang dirancang untuk mendapatkan pandangan yang luar biasa dari kedua kutub Jupiter," tutur Adriani seperti dikutip dari National Geographic. "Struktur siklon yang kami amati di sana, di atas kutub, tidak pernah terjadi di planet lain di tata surya kita."

Masih akan ada banyak ilmu pengetahuan baru yang menarik lainnya yang akan datang di masa depan dari Juno. Salah satunya, Juno akan mengukur interaksi gravitasi Jupiter dengan salah satu bulannya,  Io. Kedalaman dan struktur Bintik Merah Besar Jupiter juga akan diukur.

Pengetahuan kita tentang planet raksasa gas, terutama Jupiter, akan meningkat pesat pada tahun 2018 ini. Dan itu penting untuk memajukan peradaban umat manusia kini dan di masa yang akan datang.
BERIKAN KOMENTAR ()