363 Tahun Penemuan Titan

Titan. Kredit: NASA/JPL-Caltech
Info Astronomy - Sebelum tahun 1655, planet Saturnus tidak diketahui memiliki satelit alami atau bulan. Namun, hal itu berubah 363 tahun yang lalu, atau tepatnya pada 25 Maret 1655, saat astronom asal Belanda Christiaan Huygens berhasil menemukan Titan.

Titan merupakan bulan terbesar milik planet Saturnus. Huygens menemukannya setelah terinspirasi oleh penemuan Galileo Galilei atas empat bulan terbesar Jupiter (Io, Kalisto, Europa, dan Ganimede) pada 1610.

Huygens, dengan bantuan kakaknya, Constantijn Huygens, Jr., mulai membangun teleskop pribadi mereka sekitar tahun 1650. Dengan teleskop itulah mereka menemukan bulan pertama yang mengorbit Saturnus. Sejarah mencatat, penemuan bulan ini merupakan bulan keenam yang ditemukan, setelah Bulan milik Bumi dan empat bulan Galilea milik Jupiter.

Pada awalnya, Huygens menamai bulan penemuannya sebagai Saturni Luna (bahasa Latin untuk "bulannya Saturnus"), yang namanya diterbitkan pada tahun 1655 di jurnal De Saturni Luna Observatio Nova (Sebuah Observasi Baru untuk Bulan Saturnus).

Nama Titan sendiri berasal dari astronom John Herschel (putra William Herschel, penemu dua bulan Saturnus lainnya, Mimas dan Enseladus). Nama "Titan" diambil dari nama mitologi Yunani kuno,  "Τῑτᾶνες", saudara dan saudari dari Cronus.

Kini, diketahui bahwa Titan adalah bulan terbesar Saturnus. Ini bahkan merupakan satu-satunya bulan yang diketahui memiliki atmosfer dan satu-satunya benda angkasa selain Bumi di mana ditemukan bukti keberadaan cairan di permukaannya.

Massa dan gravitasi Titan cukup besar untuk membuatnya berbentuk bulat. Ia bahkan sering digambarkan sebagai bulan yang lebih mirip planet (seandainya Titan mengorbit Matahari, bukan Saturnus, maka para astronom mungkin akan menganggapnya planet).

Ilustrasi perbandingan Bulan, Titan, dan Bumi. Kredit: Wikimedia Commons
Bagaimana tidak, ukuran Titan sekitar 50% lebih besar dari Bulan milik Bumi. Titan bahkan 40% lebih besar dari planet terkecil di tata surya, Merkurius. Titan mengorbit Saturnus pada jarak 1.200.000 kilometer dari atmosfer teratas sang planet bercincin. Dari permukaan Titan, Saturnus akan muncul dalam diameter sudut 5,09 derajat, atau sekitar 11,4 kali lebih besar daripada kenampakan Bulan di langit Bumi.

Titan terdiri terutama dari es air dan material batuan. Sama seperti Venus, atmosfer Titan sangat buram dan rapat, sehingga kita tidak mudah untuk melihat fitur permukaannya dari luar angkasa. Wahana antariksa Cassini sempat menemukan danau hidrokarbon cair di daerah kutub Titan. Pemukaan Titan umumnya halus, dengan beberapa kawah hasil tubrukan meteor, ia kemungkinan juga memiliki kriovolkano.

Atmosfer Titan sebagian besar mengandung nitrogen; komponen kecil mengarah pada pembentukan awan metana dan etana dan kabut organik kaya nitrogen. Iklim di sana bervariasi, ada angin dan hujan, hampir mirip seperti di Bumi.

Titan bahkan memiliki bukit pasir, sungai, danau, laut (yang terdiri dari metana cair dan etana). Dibandingkan dengan Bumi, suhu di Titan sangat rendah, siang hari di sana mencapai −179,2° Celsius.

Semua data tentang Titan ini didapat setelah wahana antariksa milik NASA dan Agensi Antariksa Eropa, Cassini-Huygens, menyambangi sistem Saturnus sejak tahun 2004. Bahkan pada 14 Januari 2005, wahana antariksa Huygens berhasil mendarat di Titan.

Permukaan Titan dipotret oleh wahana antariksa Huygens. Kredit: ESA/NASA
Wahana antariksa Huygens mendarat tepat di ujung paling timur Titan yang disebut Adiri. Wahana antariksa nirawak tersebut berhasil memotret perbukitan pucat dan "sungai" gelap di Titan yang menakjubkan.

Dari citra yang didapatkan wahana antariksa Huygens, tampak ada bukti erosi di dasar bebatuan Titan, yang menunjukkan kemungkinan aktivitas fluvial. Permukaan lebih gelap dari yang diperkirakan semula, diperkirakan terdiri dari campuran air dan es hidrokarbon. "Tanah" yang terlihat dalam gambar diketahui terbentuk dari hasil pengendapan kabut hidrokarbon.

Setelah tiga ratus enam puluh tiga tahun penemuannya, Titan kemungkinan siap dikunjungi wahana antariksa baru di mana yang akan datang. Bisa saja nantinya Titan akan menjadi alternatif rumah kedua manusia setelah Bumi (selain Mars tentunya).
BERIKAN KOMENTAR ()