Indonesia Tak Kebagian Gerhana Matahari Parsial 16 Februari 2018

Gerhana Matahari Parsial. Kredit: Canadian Space Agency
Info Astronomy - Pada 16 Februari 2018 mendatang, peristiwa gerhana akan terjadi lagi. Bila sebelumnya (31/1) kita telah menyaksikan gerhana Bulan total, gerhana selanjutnya ini adalah gerhana Matahari parsial. Sayangnya, Indonesia tidak kebagian sama sekali.

Gerhana Matahari parsial ini merupakan yang pertama dari tiga gerhana Matahari parsial yang akan terjadi tahun ini. Namun, tidak satupun yang dapat diamati di Indonesia.

Peristiwa gerhana Matahari sendiri terjadi ketika Matahari-Bulan-Bumi berada segaris lurus di bidang tata surya, saat Bulan mencapai fase Bulan Baru atau New Moon. Dengan begitu, Bulan akan menghalangi cahaya Matahari ke jalur sempit gerhana yang terbentang di permukaan Bumi.

Walaupun Matahari-Bulan-Bumi selalu berada dalam segaris lurus setiap 29,5 hari (periode revolusi Bulan terhadap Bumi), tetapi gerhana Matahari tidak selalu terjadi setiap bulan kalender. Hal ini disebabkan karena orbit Bulan dalam mengelilingi Bumi miring sekitar 5 derajat terhadap orbit Bumi.

Gerhana Matahari parsial dikenal juga sebagai gerhana Matahari sebagian, yakni hanya sebagian wajah Matahari saja yang akan tergerhanai oleh Bulan karena posisi Matahari-Bulan-Bumi tidak benar-benar segaris lurus, melainkan karena Bumi hanya melewati bayangan penumbra Bulan (bayangan terang), tidak sampai masuk ke umbra (bayangan gelap).

Ilustrasi konfigurasi saat gerhana Matahari (skala diabaikan). Kredit: Earthsky.org
Gerhana ini hanya akan teramati dari wilayah selatan Benua Amerika Selatan (Cile, Argentina, Uruguay, Brasil bagian selatan, dan Paraguay bagian selatan), Antartika, Pasifik Selatan dan Samudra Atlantik Selatan. Jika Anda memang kebetulan berada dalam lokasi-lokasi yang disebutkan di atas, ingatlah untuk menggunakan perlindungan mata berupa filter Matahari bila ingin melihatnya.

Peristiwa ini akan dimulai pada saat Matahari terbit di atas Samudera Pasifik Selatan, dan kemudian bayangan penumbral Bulan akan terus bergerak ke timur, hingga pada akhirnya mencapai ujung gerhana pada saat Matahari terbenam hampir 4 jam kemudian di atas Samudera Atlantik Selatan.

Jalur gerhana Matahari parsial 16 Februari 2018. Kredit: Fred Espenak
Seperti yang Anda bisa lihat pada ilustrasi jalur gerhana di atas, Indonesia tidak masuk dalam lingkaran hijau yang merupakan area-area yang berkesempatan melihat gerhana Matahari parsial ini. Dengan kata lain, Indonesia masih gelap gulita, Matahari belum terbit saat gerhana terjadi.

Karena tidak total, maka para pengamat yang beruntung nantinya hanya akan melihat Matahari yang tampak seperti sabit, dengan persentasi di Antartika mencapai 49% wajah Matahari tertutup Bulan,  Matahari 42% tertutup Bulan di Georgia Selatan, Matahari 26% tertutup Bulan di Kepulauan Falkland, Matahari 25% tertutup Bulan di Argentina, Matahari 25% tertutup Bulan di Cile, dan Matahari 8% tertutup Bulan di Uruguay dan Paraguay.

Gerhana ini akan terjadi mulai pukul 01.55.51 WIB, yakni waktu di mana area pertama dalam jalur gerhana bisa melihat Bulan mulai "menggigit" Matahari. Puncak gerhana sendiri akan terjadi pukul 03.51.29 WIB. Lalu gerhana akan berakhir pada pukul 05.47.08 WIB.

Peristiwa gerhana Matahari parsial ini akan mencapai magnitudo 0,599 saat puncaknya. Magnitudo gerhana adalah seberapa besar wajah Matahari yang akan ditutupi oleh Bulan. Titik gerhana maksimum -- titik di mana pengamat akan melihat tutupan Bulan paling banyak pada wajah Matahari -- akan berada di sebelah timur Semenanjung Antartika.

Lalu, Kapan Giliran Indonesia?

Setelah 9 Maret 2016, Indonesia baru akan mengamati lagi peristiwa gerhana Matahari pada 26 Desember 2019. Berbeda dengan yang terjadi pada tahun 2016 silam, gerhana di akhir 2019 mendatang merupakan gerhana Matahari cincin.

Apa itu gerhana Matahari cincin? Gerhana jenis ini terjadi ketika Bulan berada di jarak terjauhnya dari Bumi (atau disebut apogee) saat gerhana terjadi. Dengan begitu, Bumi tidak masuk bayangan umbra maupun penumbra, melainkan antumbra.

Hal itu menyebabkan diameter sudut Bulan di langit Bumi akan lebih kecil dibandingkan dengan diameter sudut Matahari. Sehingga saat puncak gerhana terjadi, Matahari tidak tertutup sepenuhnya, melainkan menyisakan cincin api di pinggiran Bulan.

Nah, cincin api inilah yang akan kita lihat pada 26 Desember 2019 mendatang. Namun, tidak seluruh wilayah Indonesia yang berkesempatan mengamatinya. Jalur gerhana Matahari cincin tersebut hanya akan membentang dari padang pasir di Semenanjung Arab, melintasi Semenanjung India, melalui Pulau Sumatra dan Kalimantan di Indonesia, hingga ke area Samudra Pasifik.

Jalur gerhana Matahari cincin 26 Desember 2019. Kredit: Fred Espenak
Nah, karena gerhana Matahari parsial 16 Februari 2018 tidak teramati di Indonesia dan gerhana Matahari cincin 26 Desember 2019 masih cukup jauh, kita bisa menunggunya dengan mengamati gerhana Bulan total yang akan terjadi pada 28 Juli 2018 mendatang yang informasinya bisa dibaca di sini.

Itulah dia sedikit penjelasan mengenai peristiwa-peristiwa gerhana mendatang. Selamat menanti gerhana!

BERIKAN KOMENTAR ()