DES16C2nm: Supernova Terjauh yang Pernah Ditemukan

Ilustrasi. Kredit: Jurik Peter, Shutterstock.com
Info Astronomy - Baru-baru ini, sekelompok astronom internasional berhasil mengamati supernova paling jauh yang pernah terdeteksi, yang mana terjadi sekitar 10,5 miliar tahun yang lalu, ketika alam semesta masih sangat muda.

Dikatalogkan secara resmi sebagai DES16C2nm, ledakan bintang yang dahsyat ini tergolong dalam jenis supernova berluminositas super (superluminous supernova/SLSN), jenis supernova yang paling terang dan paling langka di jagad raya.

Bayangkan saja, ledakan bintang jenis ini setidaknya 10 kali lebih terang daripada supernova biasa, dan para astronom percaya supernova jenis ini disebabkan oleh ada begitu banyaknya material yang jatuh ke sebuah objek padat (misalnya bintang neutron), sehingga ia runtuh di bawah gravitasinya sendiri.

"Sangat mendebarkan untuk menjadi bagian dari penelitian yang berhasil menemukan supernova tertua yang pernah diketahui. DES16C2nm sangat jauh, sangat terang, dan sangat langka," kata pemimpin utama studi ini, Dr. Mathew Smith, dari Universitas Southampton, dilansir AlphaGalileo.

Dr. Smith menambahkan, "Selain menjadi penemuan yang sangat menarik, jarak ekstrem supernova DES16C2nm dari Bumi memberi kita wawasan unik tentang sifat SLSN yang sebelumnya tidak diketahui."

Sebelum dan setelah supernova DES16C2nm terjadi. Kredit: M. Smith & DES
Dengan meneliti SLSN ini, para astronom dapat memanfaatkan cahaya dari ledakan bintang tersebut untuk memahami elemen apa yang dihasilkan dalam kejadian seperti ini, serta seberapa panas suhu saat ledakan bintang jenis tersebut terjadi.

DES16C2nm sendiri dideteksi oleh Dark Energy Survey, sebuah kolaborasi internasional yang memiliki misi utama untuk memetakan posisi ratusan juta galaksi dalam ruang tiga dimensi untuk mempelajari sifat-sifat energi gelap, sebuah energi yang diyakini bertanggung jawab atas percepatan ekspansi alam semesta.

"Kami tidak pernah berpikir bisa menemukan supernova jenis ini dalam survei DES yang sudah dimulai lebih dari satu dekade yang lalu," kata salah satu astronom dalam studi ini, Profesor Bob Nichol, dari Universitas Portsmouth, dilansir Sci-news.

Pengamatan melalui DES sendiri selama ini mencakup area langit selebar 5.000 derajat persegi, atau setara dengan 25.000 kali diameter sudut Bulan purnama di langit. Tim astronom di DES sekarang ini berencana untuk mencari lebih banyak ledakan bintang seperti ini ke depannya.

Mengutip Inverse, sejauh ini para astronom telah berhasil mengamati ratusan supernova per tahun, yang merupakan jumlah yang sangat kecil jika Anda memperhitungkan ada miliaran bintang di alam semesta. Tapi, supernova berluminositas super berada pada tingkat lain.

Supernova berluminositas super pertama kali ditemukan pada tahun 1998, dan kira-kira ada seratus lainnya yang telah diamati. Penemuan DES16C2nm menjadi ladang ilmu baru untuk mencari tahu lebih banyak mengenai jenis supernova ini.

Hasil studi ini telah diterbitkan di The Astrophysical Journal.
BERIKAN KOMENTAR ()