ExTrA, Observatorium Baru untuk Berburu Planet Seukuran Bumi

Kompleks tiga teleskop ExTrA. Kredit: ESO/Petr Horálek
Info Astronomy - Sejak teleskop antariksa Kepler mulai menemukan ribuan planet ekstrasurya di galaksi kita, para astronom kini semakin bersemangat dalam menunggu hari di mana misi-misi generasi berikutnya dalam perburuan planet asing dimulai.

Salah satu misi generasi penerus Kepler adalah teleskop antariksa James Webb, teleskop antariksa terbesar yang dijadwalkan untuk diluncurkan ke luar angkasa pada tahun 2019 mendatang. Selain James Webb, ada banyak juga observatorium berbasis darat yang saat ini sedang dibangun.

Salah satunya observatorium berbasis darat itu adalah proyek Exoplanets in Transits and Atmospheres (ExTrA), yang merupakan kompleks teleskop terbaru yang terletak di Observatorium La Silla di Cile milik European Southern Observatory (ESO).

Bekerja dengan menggunakan metode transit, observatorium ExTra ini mengandalkan tiga teleskop berukuran masing-masing 60 sentimeter untuk mencari planet ekstrasurya seukuran Bumi yang mengorbit di sekitar bintang tipe M (tipe kerdil merah) di galaksi Bimasakti. Pekan ini, fasilitas ExTrA sudah mulai aktif.

Metode transit (alias transit fotometri) merupakan metode di mana teleskop diarahkan untuk mengamati sebuah bintang, melakukan pemantauan apakah bintang tersebut mengalami kedipan cahaya secara berkala atau tidak.

Kedipan cahaya atau menurunnya cahaya bintang ini bisa disebabkan oleh adanya planet yang lewat di depan bintang tersebut (atau dikenal dengan istilah transit). Sebelumnya, mendeteksi planet di sekitar bintang tipe M dengan menggunakan metode ini cukup sulit karena bintang kerdil merah merupakan kelas bintang terkecil dan paling redup di alam semesta. Namun, dengan ExTrA, pengamatan kini bisa lebih mudah.

Mengapa Kerdil Merah?

Penelitian observatorium ExTrA hanya berfokus pada bintang-bintang kerdil merah. Tapi, mengapa hanya bintang jenis ini? Bukankah ada banyak bintang yang lebih terang?

Faktanya, menurut penelitian yang telah dilakukan bertahun-tahun, bintang-bintang kerdil merah terbukti menjadi bintang yang paling banyak diorbiti oleh planet asing mirip Bumi. Dalam beberapa tahun terakhir, planet berbatu telah banyak ditemukan di sekitar bintang seperti Proxima Centauri, Ross 128, hingga TRAPPIST-1, yang semuanya adalah bintang kerdil merah.

Selain itu, ada beberapa penelitian yang mengindikasikan bahwa planet-planet berbatu yang berpotensi laik huni rupanya sangat umum terjadi di sekitar bintang kerdil merah.

Tidak seperti fasilitas pengamatan dan penelitian lainnya, proyek ExTrA sangat sesuai untuk melakukan survei terhadap planet-planet di sekitar bintang kerdil merah. Hal ini dikarenakan lokasinya observatorium ExTrA yang cukup ideal, yakni di pinggiran Gurun Atacama di Cile.

Xavier Bonfils, peneliti utama proyek tersebut, menjelaskan, "Atacama dipilih sebagai lokasi pembangunan observatorium karena memiliki kondisi atmosfer yang sangat baik. Jenis cahaya yang kita amati (dari bintang kerdil merah) adalah inframerah-dekat, sangat mudah diserap oleh atmosfer Bumi. Dengan begitu, kita memerlukan kondisi atmosfer terkering dan paling gelap. Atacama cocok sekali dengan keinginan kami."

Selain itu, observatorium ExTrA juga akan mengandalkan pendekatan baru yang melibatkan penggabungan data optik fotometri dengan data spektroskopi. Tiga teleskop pada observatorium ExTrA akan mengumpulkan cahaya dari bintang target dan empat bintang pendamping untuk perbandingan. Cahaya ini kemudian diolah melalui serat optik ke spektrograf multi objek untuk dianalisis dalam berbagai panjang gelombang.

Observatorium ExTrA (tiga di latar depan). Kredit: ESO/Emmanuela Rimbaud
Pendekatan tersebut akan meningkatkan tingkat presisi yang dapat dicapai dan membantu mengurangi efek gangguan atmosfer Bumi pada hasil pengamatan. Di luar tujuannya yang untuk menemukan planet yang transit di depan bintang kerdil merah, observatorium ExTrA juga akan mempelajari planet yang ditemukannya untuk menentukan komposisi dan atmosfernya.

Singkatnya, ini akan membantu mengetahui apakah planet-planet yang ditemukan nanti benar-benar laik huni atau tidak. "Dengan ExTrA, kami berharap bisa menjawab beberapa pertanyaan mendasar tentang planet-planet di galaksi kita. Kami berencana untuk mengeksplorasi seberapa umum planet-planet ini, perilakunya, dan jenis lingkungan yang mengarah pada pembentukan mereka," kata Jose-Manuel Almenara, anggota tim ExTrA, dalam sebuah pernyataan.

Potensi untuk mencari planet ekstrasurya yang mengelilingi bintang kerdil merah merupakan sebuah kesempatan besar bagi para astronom. Tidak hanya mereka merupakan jenis bintang paling umum di alam semesta, yang mencapai 70% bintang di galaksi kita, melainkan karena kerdil merah juga memiliki umur yang panjang. Dibandingkan bintang seperti Matahari kita yang hanya bisa bertahan hingga 10 miliar tahun, kerdil merah bisa hidup hingga 10 triliun tahun.

Untuk alasan itulah, para astronom menganggap bahwa bintang tipe M ini adalah lokasi terbaik untuk menemukan planet yang dapat dihuni dalam jangka panjang.

Untuk Apa Mencari Planet Asing?

Pertanyaan ini mungkin ada di benak Anda, mengapa kita susah-susah mencari dan membuang-buang anggaran untuk mencari planet asing? Jawabannya sangat sederhana: untuk ilmu pengetahuan.

Mencari dan menemukan planet asing bukan berarti kita harus mengunjunginya. Dengan hasil penelitian terhadap planet asing, hal tersebut akan membuat kita sebagai manusia bisa lebih memahami tentang alam semesta, khususnya terhadap planet-planet.

Tujuan utama dalam pencarian planet asing seperti ini sebenarnya adalah untuk memuaskan rasa keingintahuan. Manusia adalah makhluk yang selalu ingin tahu, kan? Dalam jangka pendek, dengan menemukan planet-planet asing kita bisa mempelajari proses asal-muasal tata surya kita, yang artinya juga mempelajari asal-muasal Bumi dan tentunya juga asal-muasal kehidupan.

Sementara dalam jangka panjang, dengan menemukan dan meneliti planet-planet asing, manusia akan mengetahui secara ilmiah bahwa ada kemungkinan besar banyak sekali kehidupan di planet lain. Dengan pengetahuan ini, maka pola berpikir manusia akan berubah total, baik dari segi filosofi, kepercayaan, maupun segi ilmu pengetahuan dan teknologi.

Alam semesta begitu luas. Sangat sayang bila kita tidak mempelajarinya.
BERIKAN KOMENTAR ()