Catat! Inilah Jadwal Peristiwa Langit Januari 2018

Mengamati planet. Kredit: Martin Marthadinata
Info Astronomy - Selamat tahun baru 2018! Di awal tahun ini, kami akan memberikan jadwal peristiwa langit yang akan terjadi di sepanjang Januari 2018. Mulai dari supermoon hingga gerhana Bulan total, Januari kali ini tampaknya akan sangat spesial.

Penasaran apa saja yang bisa diamati bulan ini? Berikut jadwalnya:

2 Januari 2018: Bulan Purnama Perigee (Supermoon)

Bulan purnama akan mencapai titik perigee -- atau titik terdekatnya dengan Bumi -- pada tanggal ini, tepatnya sekitar pukul 09.24 WIB. Peristiwa ini populer dikenal sebagai supermoon, dan inilah supermoon terdekat dan terbesar untuk tahun 2018.

Bulan purnama perigee pada 2 Januari 2018 sendiri merupakan supermoon yang kedua dalam rangkaian tiga supermoon beruntun yang terjadi pada tanggal 4 Desember 2017, 2 Januari, dan 31 Januari 2018. Supermoon kedua ini akan tampak paling besar karena berjarak paling dekat.

Seberapa besar? Supermoon 4 Desember 2017 kemarin, Bulan purnama mencapai jarak sekitar 357.987 kilometer dari Bumi, sementara supermoon 2 Januari 2018 akan mencapai jarak sekitar 356.846 kilometer. Untuk supermoon 31 Januari 2018, yang juga bertepatan dengan gerhana Bulan total, akan berjarak sekitar 360.199 kilometer.

Walau perbedaannya sedikit, besarnya diameter sudut Bulan bila ketiga foto Bulan purnama super ini dibandingkan akan tampak berbeda. Diameter sudut supermoon 2 Januari 2018 akan mencapai 33'29", sehingga akan tampak 14% lebih besar dan 30% lebih terang daripada Bulan purnama biasanya.

Kita bisa mengamati supermoon 2 Januari 2018 mulai saat Matahari terbenam di barat, sang Bulan nantinya akan baru saja terbit di timur:

Supermoon 2018. Kredit: Stellarium/InfoAstronomy.org

3 Januari 2018: Bumi di Perihelion

Perihelion adalah istilah untuk menyatakan "titik terdekat dari Matahari". Dengan kata lain, pada 3 Januari ini, Bumi akan berada pada jarak terdekatnya dari Matahari. Hal ini terjadi karena dalam mengelilingi Matahari, Bumi melintasi jalur orbit yang elips, tidak melingkar sempurna.

Perihelion tahun ini akan membawa Bumi berada pada jarak sekitar 147.097.233 kilometer. Perihelion sendiri terjadi pada pukul 12.34 WIB. Namun, jangan sampai terhasut informasi hoax yang mengatakan suhu Bumi akan meninggi. Sebab Bumi akan baik-baik saja.

Panas atau dinginnya musim di Bumi tergantung pada kemiringan sumbu, bukan disebabkan oleh perubahan jarak dari Matahari. Dengan begitu, belahan Bumi utara akan tetap mengalami musim salju, dan belahan Bumi selatan akan tetap menikmati musim panas. Indonesia? Kemungkinan masih musim penghujan.

4 Januari 2018: Hujan Meteor Quadrantid

Inilah hujan meteor pertama setiap tahunnya. Sayangnya, tahun ini prospek pengamatannya kurang baik karena ada cahaya Bulan terang di langit dini hari. Meteor-meteor yang biasanya mencapai intensitas 50 meteor per jam tiap tahunnya diprediksi akan menurun untuk tahun ini.

Walau begitu, kita masih bisa menyaksikannya dengan mata telanjang di seluruh Indonesia. Hujan meteor ini bisa mulai diamati sekitar pukul 04.00 dini hari waktu setempat daerah Anda. Tengoklah ke arah utara di mana titik radiannya (rasi bintang Bootes) muncul di sana:

Quadrantid 2018. Kredit: Stellarium/InfoAstronomy.org

7 Januari 2018: Konjungsi Mars dengan Jupiter

Planet merah Mars dan planet raksasa gas Jupiter akan berkencan di awal tahun ini. Mereka akan tampak berdekatan di langit Bumi pada 7 Januari 2018.

Bisa mulai diamati pukul 02.00 dini hari waktu lokal daerah Anda, Mars dan Jupiter akan terlihat tampak sangat dekat. Keduanya hanya akan terpisah sejauh 0,2 derajat satu sama lain, membuatnya bisa terlihat dalam satu bidang pandang teleskop!

Walau begitu, Mars dan Jupiter juga bisa diamati dengan mata telanjang. Dalam pandangan mata telanjang, Anda hanya akan melihat Mars dan Jupiter bagaikan dua bintang yang berdekatan dan cahayanya tidak berkelap-kelip.

Konjungsi Mars dengan Jupiter, 7 Januari 2018. Kredit: Stellarium/InfoAstronomy.org

9 Januari 2018: Fase Bulan Kuartir Akhir

Bulan akan tampak separuh bagian saja di tanggal ini, atau yang dikenal sebagai fase kuartir akhir (last quarter of the moon). Bulan akan terbit di langit timur saat tengah malam, lalu akan berada di titik tertinggi di langit, 89 derajat dari cakrawala utara, pada saat Matahari terbit. Bulan bisa terus diamati di langit yang sudah biru hingga pukul 12.00 siang waktu lokal.

13 Januari 2018: Konjungsi Merkurius dengan Saturnus

Enam puluh menit sebelum Matahari terbit, tengoklah langit timur. Anda akan menemukan objek bagai bintang dengan cahaya terang dan tidak berkelap-kelip. Kedua objek tersebut rupanya bukan bintang, melainkan planet; Merkurius dan Saturnus.

Pengamatan menggunakan mata telanjang memang hanya akan membuat mereka muncul bagaikan bintang. Tapi bila diamati dengan teleskop, Anda bisa melihat Merkurius lebih jelas dan Saturnus yang lengkap dengan cincinnya.

Keduanya akan berkonjungsi, terpisah sejauh 0,7 derajat satu sama lain.

Konjungsi Merkurius dengan Saturnus. Kredit: Stellarium/InfoAstronomy.org

15 Januari 2018: Segitiga Bulan-Merkurius-Saturnus

Bulan sabit tua, planet Merkurius, dan planet Saturnus akan tampak membentuk formasi segitiga di langit pagi sekitar satu jam sebelum Matahari terbit di tanggal 15 Januari 2018.

Ketiga benda langit ini akan berada dalam lingkup area selebar 4,5 derajat saja sehingga akan tampak cukup berdekatan dan Instagramable. Pengamatan bisa dilakukan mulai pukul 05.00 pagi waktu setempat daerah Anda, ketiganya akan ada di ketinggian 5 sampai 10 derajat dari cakrawala timur.

Segitiga Bulan-Merkurius-Saturnus. Kredit: Stellarium/InfoAstronomy.org

17 Januari 2018: Fase Bulan Baru

Bulan akan berada di fase Bulan baru di tanggal ini. Dengan kata lain, Bulan melakukan ijtimak atau konjungsi dengan Matahari, sehingga tidak teramati dari Bumi karena bagian terangnya sedang membelakangi Bumi. Fase ini dicapai Bulan pada pukul 09.17 WIB.

25 Januari 2018: Fase Bulan Kuartir Awal

Tujuh hari atau seminggu setelah fase Bulan baru, Bulan akan berubah menjadi fase separuh atau kuartir awal (first quarter of the moon). Kenampakannya bisa mulai diamati selepas Matahari terbenam, yang mana kala itu Bulan akan berada di langit atas kepala. Fase ini dicapai Bulan pada pukul 05.20 WIB.

31 Januari 2018: Gerhana Bulan Total

Inilah fase Bulan purnama kedua di Januari 2018. Dan menariknya, Bulan purnama ini akan digerhanai secara total oleh Bumi sehingga disebut sebagai gerhana Bulan total.

Ya, pada 31 Januari 2018 mendatang, bidang orbit Bulan berpotongan langsung dengan ekliptika Bumi, membuatnya akan masuk bayangan umbra Bumi sehingga Bulan akan tergerhanai dalam peristiwa gerhana Bulan total yang menakjubkan.

Gerhana Bulan total. Kredit: Rick Klawitter
Gerhana Bulan total akan diawali dengan peristiwa gerhana Bulan penumbra. Pada 31 Januari 2018, gerhana penumbra dimulai pukul 17.51 WIB (18.51 WITA, 19.51 WIT). Selanjutnya, gerhana penumbra akan menjadi gerhana Bulan parsial, yang dimulai pada pukul 18.48 WIB (19.48 WITA, 20.48 WIT). Pada fase ini, Bulan sudah tampak "tergigit".

Fase gerhana Bulan total pun dimulai pada pukul 19.51 WIB (20.51 WITA, 21.51 WIT). Lalu puncak gerhana Bulan total terjadi pukul 20.29 WIB (21.29 WITA, 22.29 WIT). Hingga akhirnya fase gerhana total akan berakhir pada pukul 21.07 WIB (22.07 WITA, 23.07 WIT).

Pascafase total, masih ada sisa gerhana Bulan parsial yang akan terus terjadi hingga pukul 22.11 WIB (23.11 WITA, 00.11 WIT [1 Februari 2018]). Gerhana Bulan akan sepenuhnya berakhir sampai Bulan meninggalkan bayangan penumbra Bumi, yakni pukul 23.08 WIB (00.08 WITA, 01.08 WIT [1 Februari 2018]).

Gerhana Bulan total ini bisa diamati di seluruh Indonesia, termasuk langit atas rumah Anda. Jadi, jangan sampai melewatkannya!

Nah, itulah jadwal peristiwa langit yang bakal terjadi di Januari 2018. Selamat menikmati suguhan peristiwa langit dan clear skies!
BERIKAN KOMENTAR ()