Lima Gerhana di Tahun 2018

Gerhana Matahari dan Bulan. Kredit: Luc Viatour, Fred Espenak
Info Astronomy - Setelah terjadi empat gerhana di tahun 2017 ini, tahun 2018 mendatang akan dihiasi lima peristiwa gerhana; dua gerhana Bulan dan tiga gerhana Matahari. Lalu, bisakah diamati di Indonesia?

Sebelum menjelaskan lebih jauh, kami ingin menginformasikan bahwa terjadinya gerhana ini bukan pertanda bencana. Beberapa orang mungkin menganggap seringnya terjadi gerhana tandanya akan terjadi bencana. Faktanya, kedua hal tersebut tidak ada korelasinya.

Dalam astronomi, gerhana terjadi ketika tiga benda langit berada dalam satu garis lurus. Dalam hal ini, Matahari, Bulan, dan Bumi. Gerhana Bulan teradi saat Bumi berada di antara Matahari dan Bulan, dan gerhana Matahari terjadi ketika Bulan berada di antara Matahari dan Bumi.

Lalu, mengapa tidak terjadi gerhana tiap satu bulan kalender? Ini dikarenakan Bulan mengorbit Bumi dengan jalur orbit yang miring sekitar 5 derajat terhadap ekliptika. Ada kalanya Bulan berada terlalu tinggi 5 derajat dari ekliptika, kadang pula terlalu rendah 5 derajat dari ekliptika, sehingga gerhana tidak terjadi. Gerhana baru terjadi ketika ketiga benda langit ini mencapai titik syzygy (segaris lurus sempurna).

Lima Gerhana

Ya, tahun 2018, kita berkesempatan melihat lima peristiwa gerhana. Namun perlu diketahui, tidak seluruh peristiwa gerhana ini bisa diamati di Indonesia. Hanya dua dari tiga gerhana yang bisa disaksikan tanpa harus ke luar negeri (bisa ngamat dari rumah saja atau ikut komunitas astronomi ngamat bersama).

Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018
Gerhana pertama terjadi pada awal tahun, yakni 31 Januari 2018. Peristiwa gerhana pertama ini adalah gerhana Bulan total. Dalam peristiwa gerhana ini, sinar Matahari yang menyinari Bulan akan sepenuhnya terhalang oleh bayangan bumi.

Satu-satunya cahaya yang terlihat pada permukaan Bulan adalah cahaya yang dibiaskan melalui bayangan Bumi. Cahaya Matahari yang mengenai Bulan memang tertutup oleh Bumi, tetapi atmosfer Bumi masih membiaskan cahaya merah dari Matahari sehingga Bulan tidak gelap total, melainkan berwarna merah sehingga kadang dijuluki Blood Moon.

Gerhana Bulan total yang memerah. Kredit: Fred Espenak, MrEclipse.com
Tidak seperti gerhana Matahari, yang hanya bisa dilihat dari daerah yang relatif kecil di Bumi, gerhana Bulan dapat dilihat dari manapun selama berada di sisi malam Bumi. Gerhana bulan berlangsung selama beberapa jam, sementara gerhana matahari total berlangsung hanya beberapa menit di tempat tertentu karena bayangan bayangan Bulan yang lebih kecil.

Juga tidak seperti gerhana Matahari, gerhana Bulan sangat aman untuk dilihat tanpa perlindungan mata karena cahayanya redup.

Kabar baiknya, gerhana Bulan total 31 Januari 2018 bisa diamati di seluruh Indonesia. Gerhana yang merupakan nomor 49 dari 73 gerhana dalam siklus Saros 124 ini bisa mulai diamati pukul 17.51 WIB, namun sayangnya saat itu Bulan masih berada di bawah cakrawala timur bagi Indonesia bagian Barat.

Infografik gerhana Bulan total 31 Januari 2018. Kredit: Fred Espenak
Gerhana Bulan total akan diawali dengan gerhana parsial, yang mana untuk gerhana ini dimulai pada pukul 18.48 WIB. Lalu berlanjut ke gerhana total yang akan dimulai pukul 19.51 WIB. Puncak gerhana total sendiri akan berlangsung pukul 20.29 WIB, lalu gerhana total berakhir pukul 21.07 WIB. Kita masih bisa terus menyaksikan sisa gerhana parsialnya hingga pukul 22.11 WIB.

Fase gerhana Bulan total tidak seperti gerhana Matahari total. Gerhana Bulan berlangsung lebih lama. Untuk tanggal 31 Januari 2018 ini, fase gerhana Bulan total berlangsung selama 1 jam 16 menit.

Gerhana Matahari Parsial 15 Februari 2018
Dua pekan setelah gerhana Bulan total, selanjutnya akan terjadi gerhana Matahari parsial atau gerhana Matahari sebagian. Sayangnya, peristiwa ini tidak bisa diamati di Indonesia sebab saat terjadi gerhana, Indonesia sedang malam hari.

Gerhana Matahari parsial yang merupakan gerhana nomor 17 dari 71 gerhana dalam siklur Saros 150 ini hanya bisa diamati di sebagian besar Benua Antartika dan bagian paling selatan Amerika Selatan, yakni Uruguay, Cile, Argentina, dan Brasil.

Infografik gerhana Matahari parsial 15 Februari 2018. Kredit: Fred Espenak
Puncak gerhana parsial akan terjadi pada pukul 03.51.25 WIB (tanggal 16 Februari 2018 di Indonesia), yakni tepat sekitar 4,3 hari setelah Bulan mencapai titik terdekat dengan Bumi.

Gerhana Matahari Parsial 13 Juli 2018
Masih gerhana Matahari parsial, sayangnya yang terjadi pada Juli ini juga tidak teramati di Indonesia. Walaupun saat puncak gerhana ini terjadi Indonesia sedang berada di siang hari, bayangan Bulan hanya akan menyapu lautan selatan Australia. Hanya sedikit area daratan Australia yang dilalui bayangan Bulan.

Gerhana nomor 69 dari 71 gerhana dalam siklus Saros 117 ini akan terjadi pada pukul 10.01.07 WIB.

Infografik gerhana Matahari parsial 13 Juli 2018. Kredit: Fred Espenak
Gerhana Bulan Total 28 Juli 218
Sekitar dua pekan setelah gerhana Matahari parsial, gerhana Bulan total akan terjadi lagi, dan kali ini teramati (lagi) di Indonesia. Ya, inilah gerhana kedua dan terakhir yang bisa diamati di Indonesia pada tahun 2018.

Tidak seperti gerhana Bulan total 31 Januari 2018 yang bisa diamati dari awal malam, gerhana Bulan total 28 Juli 2018 yang merupakan gerhana nomor 38 dari 71 gerhana dalam siklus Saros 129 ini baru bisa diamati di Indonesia setelah tengah malam, tepatnya saat dini hari.

Pengamatan bisa dimulai pukul 00.14 WIB, saat Bulan purnama mulai memasuki bayangan penumbra Bumi. Selanjutnya, gerhana Bulan parsial bisa diamati mulai pukul 01.24 WIB. Sekitar satu jam kemudian, atau tepatnya pukul 02.30 WIB, gerhana Bulan total pun dimulai.

Bulan akan sepenuhnya masuk bayangan umbra Bumi sehingga tampak merah pada pukul 03.21 WIB, yang mana ini merupakan puncak gerhana total. Gerhana total akan terus berlangsung hingga pukul 04.31 WIB, menyisakan gerhana parsial yang akan berlangsung hingga 05.19 WIB. Durasi fase gerhana total ini akan mencapai 1 jam 43 menit.

Infografik gerhana Bulan total 28 Juli 2018. Kredit: Fred Espenak
Gerhana Matahari Parsial 11 Agustus 2018
Inilah gerhana terakhir yang bakal terjadi di tahun 2018, gerhana Matahari parsial (lagi). Gerhana ini hanya teramati di Kanada bagian utara, Eropa bagian utara (Greenland, Islandia, negara-negara Skandinavia, dan Rusia bagian utara), serta Asia bagian utara (Mongolia, sebagian besar Tiongkok, Korea Utara, dan Korea Selatan).

Indonesia? Sayangnya tidak kebagian. Gerhana nomor 6 dari 71 gerhana dalam siklus Saros 155 ini bakal mencapai puncaknya pada pukul 16.46.19 WIB.

Infografik gerhana Matahari parsial 11 Agustus 2018. Kredit: Fred Espenak
Nah, itulah lima gerhana yang bakal terjadi di tahun 2018 mendatang. Bagi Anda yang ingin mengamati kelimanya, selamat menabung untuk bisa berkunjung ke lokasi-lokasi yang dilalui jalur gerhana pada infografik-infografik di atas.

Oh iya, untuk gerhana Bulan total 28 Juli 2018, tim InfoAstronomy.org akan mengadakan acara pengamatan bersama komunitas Jejak Pengamat Langit di Lombok, NTB. Bila Anda berminat, Anda bisa mendaftarkan diri sebagai peserta. Simak informasi itinerary, biaya, dan fasilitas di sini: jejaklangit.com/tour
BERIKAN KOMENTAR ()