86 Bintang Redup Kini Memiliki Nama Resmi

Bintang-bintang. Kredit: ESA/Hubble, NASA
Info Astronomy - Anda mungkin tidak asing dengan nama-nama bintang Aldebaran, Rigel, Proxima Centauri, ataupun Sirius. Lalu, pernahkah Anda mengenal bintang dengan nama Delta Velorum? Baru-baru ini, Persatuan Astronomi Internasional (IAU) telah meresmikan 86 nama bintang baru.

Ada perdebatan di kalangan para astronom profesional tentang siapa yang seharusnya memiliki hak atau kewajiban untuk memberi nama bintang dan objek angkasa lainnya. Bintang-bintang yang biasa kita lihat (bintang-bintang terang di langit) memiliki banyak nama karena mereka diberi nama oleh nenek moyang kita dari banyak budaya.

Tapi, sekitar tahun 1930an, IAU meresmikan 88 rasi bintang, dan sejak saat itu IAU telah menamai berbagai macam benda angkasa lainnya. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, IAU seolah tunduk pada tekanan dari kelompok luar yang memungkinkan individu non-astronom untuk memberi nama bintang.

IAU cukup sering menjalankan kompetisi global untuk membiarkan para astronom non-profesional berpartisipasi dalam menamai bintang. Yang terakhir, IAU mengumumkan 227 bintang mendapatkan nama resminya setahun yang lalu, yang dipilih secara terbuka oleh publik dunia.

Sayangnya, untuk 86 nama bintang baru ini, IAU secara resmi menyetujui nama-namanya tanpa meminta masukan dari masyarakat dunia. Nama-nama baru ini sekarang telah ditambahkan ke katalog nama bintang IAU yang sekarang berisi 313 nama bintang "yang disetujui".

86 nama bintang baru kali ini diberikan untuk bintang-bintang yang agak lebih redup dari yang diumumkan tahun lalu. Yang paling terang dalam kelompok baru ini adalah bintang dengan magnitudo semu +2 yang dikenal sebagai Delta Velorum, yang kini resmi bernama Alsephina, berasal dari bahasa Arab "al-safinah" yang berarti "kapal".

Delta Velorum alias Alsephina adalah bagian dari rasi bintang Vela, yang dulunya merupakan satu konstelasi besar yang disebut Argo Navis. Pada 1930-an, IAU menyingkirkan Argo Navis saat "secara resmi" menamai 88 rasi bintang, membagi kapal selestial besar tersebut menjadi beberapa konstelasi yang lebih kecil.

"Secara tradisional, kebanyakan nama bintang saat ini berasal dari bahasa Arab, Yunani, atau Latin. Sedangkan (86 nama baru) diambil dari yang digunakan oleh budaya lain, yaitu Aborigin Australia, Tiongkok, Koptik, Hindu, Maya, Polinesia, dan Afrika Selatan," tulis IAU di laman resminya.

"Katalog bintang modern mengandung jutaan atau bahkan miliaran objek, yang sebagian besar hanya dinamai dengan string huruf dan angka yang menunjukkan posisi mereka. Di sini, IAU berperan memberikan nama-nama resmi untuk bintang-bintang paling terang dan paling menarik."

Anda bisa melihat 86 nama bintang baru beserta katalog 313 bintang bernama resmi di tautan ini.


Sumber: IAU
BERIKAN KOMENTAR ()