Bagaimana Sebuah Planet Asing Bisa Dianggap Laik Huni?

Info Astronomy - Ada begitu banyak planet ekstrasurya yang kini telah ditemukan keberadannya. Tapi, bagaimana sebuah planet yang asing tersebut bisa kita anggap laik huni?

Sebagian astronom mengatakan bahwa kehidupan bisa berkembang dalam kondisi yang berbeda dengan kondisi di Bumi, dan mungkin bisa muncul tanpa harus ada air. Namun, sejauh ini kehidupan yang dikenal manusia hanya ada di Bumi, kita belum menemukannya di tempat lain.

Berdasarkan hal ini, mari kita lihat definisi klasik untuk zona laik huni, yakni sebuah wilayah di sekitar bintang induknya yang memungkinkan setiap planet yang berada di zona tersebut dianggap mampu mempertahankan suhunya dan memungkinkan menyimpan air dalam bentuk cair di permukaannya.

Astrofisika telah membuat manusia mampu menghitung suhu sebuah bintang, kemudian dengan menghitung jarak sebuah planet dari bintang induknya yang telah kita hitung suhunya tersebut kita sudah mudah untuk menentukan suhu permukaan sang planet.

Kelaikhunian Planet di Zona Laik Huni
Dalam studi planet asing seperti ini, mungkin tidak ada istilah yang lebih penuh harapan, atau lebih menyesatkan, dari istilah "laik huni". Istilah tersebut mungkin membuatmu berpikir planet yang dianggap "laik huni" merupakan planet yang ramah, cocok bagi kehidupan manusia, lengkap dengan udara bersih, serta lansekap yang mirip Bumi.

Faktanya, bagi para astronom, planet laik huni bukan planet seperti yang kita idam-idamkan tadi. Kita dapat menglasifikasikan planet Bumi kita sebagai planet laik huni, namun para astronom juga dapat menyematkan istilah "laik huni" tersebut untuk berbagai planet yang mematikan, seperti planet Proxima b yang mengitari bintang Proxima Centauri misalnya.

Yang kita ketahui sejauh ini adalah, untuk dapat dianggap sebagai planet laik huni, setiap planet asing harus memiliki air dalam bentuk cair di permukaannya. Karena kita selalu beranggapan di mana ada air pasti ada kehidupan, bukan?

Itulah mengapa zona laik huni begitu penting. Bila sebuah planet berada terlalu dekat dengan bintang induknya, maka suhunya akan terlalu panas sehingga air akan menguap. Tapi bila terlalu jauh, air di planet tersebut akan membeku.

Zona laik huni juga tidak sederhana. Zona ini tergantung pada jenis bintang yang diorbiti oleh sebuah planet. Bintang yang lebih masif dan lebih panas, memiliki zona laik huni yang berjarak lebih jauh. Sebaliknya, bintang kecil dengan suhu yang relatif lebih rendah akan memiliki zona laik huni yang jauh lebih dekat dengannya.

Selain jenis bintang, jenis planet juga harus diperhatikan. Bila sebuah planet berada di zona laik huni tetapi jenis planetnya merupakan planet raksasa gas seperti Jupiter, tetap saja tidak dianggap sebagai planet laik huni. Lain halnya bila planet tersebut merupakan planet berbatu mungil mirip Bumi.

Intinya, untuk bisa menganggap sebuah planet laik huni atau tidak, kita bisa cari tahu dulu jenis planet dan jenis bintang apa yang diorbitinya, lalu hitung suhu bintang dan ketahui jarak planet dalam mengorbit sang bintang.

Bila hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa planet asing ini berada di zona laik huni bintang induknya dan merupakan planet berbatu seperti Bumi, maka secara teori planet tersebut merupakan planet laik huni.

Tapi jika hasil perhitungan menunjukkan bahwa planet tersebut berada di zona laik huni bintang induknya namun termasuk dalam jenis planet raksasa gas mirip Jupiter, maka ia tidak dianggap sebagai planet laik huni.

Oh iya, penggunaan kata yang benar memang "laik", bukan "layak". Dalam KBBI, laik adalah
memenuhi persyaratan yang ditentukan atau yang harus ada.


Sumber: Science Magazine, Sky & Telescope, International Journal of Astrobiology.
BERIKAN KOMENTAR ()