Bintang Biner: Dua Bintang yang Saling Mengorbit

Ilustrasi bintang biner. Kredit: Devianart
Info Astronomy - Pernah menonton film "Star Wars"? Kamu mungkin tak asing dengan planet fiksi Tatooine, yang merupakan planet asal Luke Skywalker. Nah, planet tersebut memiliki dua matahari di langitnya, yang mana dua matahari itu dikenal sebagai bintang biner.

Bintang biner merupakan sistem bintang yang terdiri dari dua atau lebih bintang yang saling mengorbit pusat massanya, atau seolah tampak mengorbit satu sama lain. Sebuah bintang biner tidak selalu merupakan dua bintang yang tampak berdekatan dengan mata telanjang dari Bumi. Dalam kenyataannya, sepasang bintang biner bisa sangat sangat jauh, atau sebenarnya tidak berpasangan sama sekali.

Sistem bintang biner ini sangat berguna dalam menentukan massa bintang masing-masing dalam sistem. Ketika dua benda mengorbit satu sama lain, massa keduanya dapat dihitung dengan sangat presisi. Data yang dikumpulkan dari bintang biner memungkinkan astrofisikawan untuk memperkirakan massa relatif bintang-bintang lainnya, terutama bintang individual.

Setidaknya, ada beberapa kategori dari bintang biner, yang diklasifikasikan melalui sifat visual mereka. Kategori tersebut di antara lain adalah bintang biner ekliptik, biner visual, biner spektroskopi, dan biner astrometri.

Mari kita bahas satu per satu~

Bintang biner ekliptik merupakan kategori bintang biner di mana salah satu dari dua bintang di kategori ini mengorbit satu bintang lainnya. Jalur orbit tersebut membentuk garis horizontal dari titik pengamatan. Salah satu contoh bintang biner ekliptik adalah bintang Algol.

Selanjutnya bintang biner visual, adalah sistem bintang biner di mana dua bintang dalam sistemnya terpisah sangat jauh. Mereka tampak "biner" dalam pandangan dari Bumi saja, tapi sebenarnya tidak saling mengorbit sama sekali. Bintang biner dengan kategori ini bisa sulit untuk dideteksi jika salah satu bintangnya memiliki cahaya yang redup.

Ada pula bintang biner spektroskopi, sistem bintang biner di mana bintang-bintangnya berjarak sangat dekat dan saling mengorbit sangat cepat. Sistem bintang dalam kategori ini sangat sulit ditemukan dengan teleskop biasa. Perlu teleskop besar dengan teknik spektroskopi untuk menemukannya.

Yang terakhir, bintang biner astrometri, kategori bintang biner di mana hanya satu dari dua bintangnya saja yang bisa diamati karena satu bintangnya terlalu kecil. Kehadiran bintang lain disimpulkan oleh adanya goyangan dari bintang utama. Goyangan ini terjadi sebagai akibat dari pengaruh gravitasi dari bintang yang lebih kecil pada bintang yang lebih besar. Contohnya adalah bintang Sirius.

Penemuan dan Evolusi
Dari kategori-kategori di atas, tahukah kamu bahwa bintang biner pertama yang teramati oleh manusia adalah biner visual? Kala itu, malam hari tahun 1617, atas permintaan rekan sesama pandai besi, Galileo Galilei mengarahkan teleskopnya ke arah bintang kedua dari ujung asterisma Big Dipper.

Galileo lantas menemukan bahwa bintang tersebut tidak hanya ada satu, tetapi dua, saling berdekatan. Pengamatan tambahan pun terus dilakukan. Hingga pada akhirnya diketahui ternyata ada enam bintang, bukan dua saja. Namun, biner tersebut hanya biner visual.

Lalu pada tahun 1802, astronom lain bernama Sir William Herschel berhasil menemukan dan mengelompokkan sekitar 700 pasang bintang biner. Nah, inilah pertama kali istilah "biner" muncul dan langsung mengacu pada bintang-bintang ganda ini.

Bagaimana bintang biner terbentuk, menurut para astronom, ada beberapa cara. Bintang-bintang secara bebas berkeliling galaksi, dan kadang-kadang bintang masif bisa menangkap bintang kecil yang lewat, mereka pun menjadi pasangan biner baru. Tetapi, ini adalah kejadian langka.

Bintang biner rupanya lebih sering terbentuk dengan cara "membelah diri". Ya, membelah diri seperti amoeba!

Sebuah bintang yang sangat masif bisa melepaskan lapisan terluarnya yang terdiri atas gas dan debu, membentuk bintang baru yang berukuran kecil untuk mengitari dirinya. Jadilah mereka bintang biner yang menua dan berevolusi bersama. Romantis, bukan?

Tapi, sepasang bintang biner tidak selalu identik. Bagaimana sepasang bintang berevolusi bergantung pada jarak mereka satu sama lain. Bintang biner yang lebar memiliki pengaruh yang sangat kecil terhadap satu sama lain, sehingga sering berevolusi seperti bintang tunggal.

Berbeda dengan bintang biner yang berdekatan, mereka saling memberikan efek evolusi satu sama lain dengan transfer massa dan materialnya, sehingga mengubah komposisi masing-masingnya. Jika satu bintang dalam sistem biner yang berdekatan meledak dalam supernova atau mengeluarkan lapisan luarnya dan membentuk pulsar, seringkali pendampingnya hancur.
Senja di planet Tatooine. Kredit: Star Wars
Bisakah Bintang Biner Memiliki Planet?
Pernahkah kamu membayangkan, saat senja tiba, kita melihat dua matahari terbenam di ufuk barat? Hal itu memang tidak terjadi di Bumi yang hanya mengorbit satu bintang saja, tetapi di planet yang mengitari dua bintang, maka senja mungkin akan lebih indah.

Lalu, apakah memungkinkan sebuah planet mengitari bintang biner? Jawabannya: Ya tentu bisa!

Tetapi tidak dalam seluruh sistem bintang biner. Planet pada sistem biner bisa ada dalam dua jenis: planet yang mengorbit hanya satu dari komponen biner (disebut orbital tipe-S) dan planet yang mengorbit kedua komponen biner (disebut orbital tipe-P).

Untuk sistem tipe-S di mana planet hanya mengorbit satu bintang, planet ini biasanya lebih dekat dengan bintang induknya daripada jarak antara dua bintang. Namun, orbit itu tidak selamanya stabil. Sebab bintang pendamping yang tidak diorbiti planetnya bisa mengganggu jalur orbit planet dengan gravitasinya, yang pada akhirnya akan menempatkan planet pada jalur tabrakan dengan salah satu bintang.

Sementara itu, planet-planet dari sistem tipe-P, sering disebut planet-planet sirkumbiner atau "planet Tatooine". Planet dalam sistem ini biasanya ditemukan mengorbit dua bintangnya pada jarak yang jauh lebih besar daripada jarak yang memisahkan antara bintang-bintang itu sendiri.

Sistem bintang terdekat ke Bumi -- Alpha Centauri -- termasuk dalam jenis bintang biner, yang terdiri atas Alpha Centauri A dan Alpha Centauri B. Uniknya, sistem ini juga punya bintang ketiga, yang dinamai Proxima Centauri.

Proxima Centauri ini diketahui diorbiti oleh sebuah planet, yang dinamai sebagai Proxima b, yang penemuannya diumumkan pada tahun 2016. Dengan begitu, Proxima b masuk dalam planet sistem tipe-S.

Nah, itulah sedikit informasi mengenai bintang biner. Senang bisa menambah wawasan~


Referensi: Cornell Astronomy, Space.
BERIKAN KOMENTAR ()