Mengenal Jenis Aurora Baru, Aurora Steve

Aurora Steve di Kanada. Kredit: Sheri Skocdofole/CNN
Info Astronomy - Cahaya utara (Aurora Borealis) dan cahaya selatan (Aurora Australis) telah membuat takjub para pengamat langit selama ribuan tahun terakhir dengan penampilan cahaya indah berwarna kehijauan. Kini, jenis aurora dengan warna keunguan telah bergabung dalam pertunjukan langit, membentang dari timur ke barat pada garis lintang yang lebih rendah.

Ditemukan oleh ilmuwan warga dan dibuktikan keberadaannya oleh sekelompok ilmuwan profesional melalui serangkaian foto dan data satelit, jenis aurora baru ini pada dasarnya serupa dengan fenomena aurora pada umumnya, namun yang satu ini jarang terlihat. Aurora yang baru diidentifikasi ini pun disebut sebagai Aurora Steve.

Aurora Steve pertama kali disadari keberadaannya oleh seorang wanita bernama Notanee Bourassa. Kala itu, 25 Juli 2016, Bourassa bersama kedua anaknya yang masih kecil sedang berjalan-jalan di daerah Regina, Kanada. Bourassa ingin menunjukkan keindahan Aurora Borealis yang saat itu sedang muncul kepada anak-anaknya.

Ketika pita cahaya tipis berwarna ungu muncul dan mulai bersinar, Bourassa segera mengambil gambar dengan kamera di tangannya sampai partikel cahaya aurora tersebut menghilang 20 menit kemudian. Setelah menyaksikan cahaya utara selama hampir 30 tahun sejak masih remaja, Bourassa menyadari bahwa pita cahaya ungu itu bukan aurora. Tetapi sesuatu yang lain.

Rupanya, tak hanya Bourassa yang berpikir demikian. Dilansir laman resmi NASA, orang-orang di Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Inggris juga melaporkan mereka melihat pemandangan yang tidak biasa di langit malam: pita cahaya mirip busur dengan warna keunguan yang melintang di langit selama sekitar satu jam sekali.

Aurora diketahui hanya bisa terlihat di lingkar kutub Bumi, namun Aurora Steve bisa terlihat di garis lintang yang lebih rendah daripada Aurora Borealis maupun Aurora Australis. Bourassa mengatakan, "Aurora (Steve) mirip seperti jejak kontrail pesawat terbang, tapi tidak menyebar, dan warnanya ungu."

Aurora Borealis dan Australis cenderung muncul dengan warna hijau karena partikel bermuatan dari Matahari berinteraksi dengan atom oksigen yang hadir di atmosfer Bumi, hal itu membuat cahaya berpendar dengan warna kehijauan yang cantik. Kedua aurora klasik ini juga muncul sebagai cahaya yang menyebar, bukan menyerupai jejak kontail pesawat terbang yang membentang dari satu cakrawala ke cakrawala seberangnya.

Aurora Steve lainnya. Kredit: Chris Ratzlaff
Tanpa sebuah teori ilmiah untuk menjelaskan fenomena baru tersebut, sekelompok ilmuwan warga yang dipimpin oleh seorang penggila aurora, Chris Ratzlaff, melakukan penelitian sederhana terhadap aurora ini. Adalah Ratzlaff sendiri yang menjuluki aurora ini sebagai Steve, nama yang diambil dari sebuah film anak-anak di tahun 2006, "Over the Hedge".

Menurut Elizabeth MacDonald, seorang astrofisikawan di NASA Goddard Space Flight Center, seperti dikutip dari ScienceMag, aurora telah dipelajari dengan baik selama beberapa dekade terakhir, namun orang-orang kemungkinan sulit mengamati Aurora Steve karena kamera mereka tidak cukup sensitif untuk memotretnya.

MacDonald dan timnya telah menggunakan data dari satelit milik Agensi Antariksa Eropa bernama Swarm-A untuk mempelajari Steve di lingkungan asalnya, sekitar 200 kilometer di atmosfer. Instrumen Swarm-A mengungkapkan bahwa partikel bermuatan pada Aurora Steve memiliki suhu sekitar 6.000° C, "sangat panas" dibandingkan dengan atmosfer sekitarnya.

Masih menurut studi MacDonald, ion-ion pada Aurora Steve mengalir dari timur ke barat dengan kecepatan hampir 6 kilometer per detik, yang didorong oleh medan listrik dan magnet di atmosfer Bumi. Panas dan gerak yang cepat ini kemungkinan yang menyebabkan penampilan Steve yang keunguan dan tampak bagaikan kontrail pesawat.

Walau begitu, tim MacDonald tersebut belum menentukan panjang gelombang cahaya yang tepat. Ilmuwan warga yang dipimpin Ratzlaff berencana untuk membuat pengukuran tersebut, yang nantinya akan membantu mengungkapkan atom atau molekul mana yang menyala pada Aurora Steve.

Anehnya, Outer Places menjelaskan, para ilmuwan ini menemukan bahwa sifat fisik Steve konsisten dengan kejadian di atmosfer Bumi yang dikenal sebagai subauroral ion drift, atau SAID, yakni arus partikel bermuatan dari Matahari yang bergerak melintasi atmosfer Bumi dengan cepat.

SAID belum pernah teramati secara visual. Itu artinya, menurut MacDonald, "Aurora Steve kemungkinan berhubungan dengan fenomena SAID." Pemetaan posisi Aurora Steve di langit seharusnya dapat membantu para ilmuwan untnuk menentukan struktur dan dinamika medan magnet Bumi.

Steve adalah penemuan yang penting karena ia muncul di daerah subaurora, daerah lintang bawah di mana Aurora Borealis maupun Australis tidak terlihat dan tidak diteliti dengan baik. Dengan penemuan ini, para ilmuwan sekarang tahu ada proses kimia yang tidak diketahui yang terjadi di zona subaurora yang dapat menyebabkan kemunculan emisi cahaya.

Sayangnya, cahaya aurora, baik yang klasik maupun yang baru ditemukan, masih tidak bisa diamati di Indonesia karena negara kita berada di ekuator. Aurora terbentuk karena interaksi partikel dari Matahari dengan medan magnet Bumi.

Matahari adalah bintang yang aktif, ia bisa melontarkan angin surya berisi partikel bermuatan ke segala penjuru tata surya. Saat partikel bermuatan tersebut menyerang Bumi, magnetosfer planet kita akan mengalirkannya ke kedua kutub Bumi. Partikel bermuatan tersebut pun akan berinteraksi dengan atom-atom di atmosfer, sehingga muncul cahaya yang cantik di langit atas lingkar Arktik dan Antartika.

Ingin coba mengamati Aurora Steve? Datanglah ke zona subaurora. Kemunculan aurora biasanya mengikuti siklus Matahari dan cenderung lebih sering terjadi pada akhir musim gugur dan awal musim semi (Oktober, Februari, dan Maret adalah bulan-bulan terbaik untuk melihat aurora).
Mengenal Jenis Aurora Baru, Aurora Steve Mengenal Jenis Aurora Baru, Aurora Steve Reviewed by Riza Miftah Muharram on Maret 19, 2018 Rating: 5

Hype - Jangan Lewatkan!